Amidhan Shaberah: Pendidikan dan Keteladanan dalam Perspektif Muhammadiyah
KH. Dr. Amidhan Shaberah, Dewan Pembina Jakarta Islamic School, Jakarta/Komisioner Komnas HAM 2002-2007/Ketua MUI 1995-2015.
OpiniOleh KH. Dr. Amidhan Shaberah, Dewan Pembina Jakarta Islamic School, Jakarta/Komisioner Komnas HAM 2002-2007/Ketua MUI 1995-2015
ORBITINDONESIA.COM - Muhammadiyah adalah organisasi Islam yang paling berhasil dalam membangun pendidikan, baik dalam kuantitas maupun kualitas, terutama di Indonesia. Bahkan jumlah satuan pendidikan Muhammadiyah dari taman kanak-kanak (TK) sampai perguruan tinggi, adalah yang terbanyak di dunia -- mengalahkan Al-Azhar di Mesir yang berumur ratusan tahun.
Oleh karena itu pernyataan-pernyataan Ketua Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah, Prof. Dr. Haedar Nashir tentang dunia pendidikan patut mendapat perhatian kita, bangsa Indonesia.
Pemerintah Indonesia patut merenungkan apa yang dikatakan Ketum Muhammadiyah itu dalam membangun dan mengembangkan pendidikan. Sebab ucapan dan harapan Prof. Haedar di atas merupakan misi dan tujuan pendidikan Muhammadiyah -- yang terbukti berhasil membangun kader-kader militan yang berdedikasi dan berintegritas di seluruh Indonesia.
Dalam berbagai kesempatan, Prof. Haedar Nashir menegaskan bahwa pendidikan sejati tidak boleh berhenti pada penguasaan ilmu pengetahuan semata, melainkan harus menyentuh dimensi yang jauh lebih dalam: pembentukan manusia yang utuh, berakhlak, dan berintegritas.
Dalam Refleksi Hari Pendidikan Nasional yang disampaikannya di Yogyakarta belum lama ini Haedar menegaskan bahwa keberhasilan pendidikan nasional tidak bisa hanya diukur dari capaian akademik, penguasaan sains, atau kecakapan teknologi semata. Ia menekankan bahwa pendidikan harus bersifat holistik—tidak hanya menekankan nalar dan sains, tetapi juga membangun dimensi spiritual, moral, dan tindakan nyata yang luhur.
Perspektif pendidikan nasional yang disampaikan Haedar ini merupakan refleksi luas Muhammadiyah terhadap Pasal 31 UUD 1945 dan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 tentang Sistem Pendidikan Nasional yang dirancang untuk melahirkan manusia yang beriman, bertakwa, berakhlak mulia, sekaligus cakap dalam ilmu pengetahuan dan teknologi. Dengan kata lain, pendidikan Indonesia bukanlah pendidikan sekuler yang memisahkan ilmu dari nilai, melainkan sistem yang memadukan keduanya secara utuh.
Bagi Haedar, cita-cita mencerdaskan kehidupan bangsa sebagaimana diamanatkan konstitusi harus dimaknai lebih luas daripada sekadar membangun kecerdasan intelektual.
Pendidikan harus menghasilkan manusia yang berilmu, mencintai alam semesta, berbakti kepada Tuhan, menjunjung tinggi kemanusiaan, dan berakhlak mulia.
Kelima unsur ini saling terkait dan tidak bisa dipisahkan satu sama lain. Seseorang yang cerdas secara akademik namun kering secara spiritual dan moral, menurut pandangan ini, belum bisa disebut sebagai produk pendidikan yang berhasil.
Jika holistisitas adalah kerangka besar pendidikan, maka keteladanan adalah kunci yang membuat kerangka itu benar-benar hidup dalam kehidupan sehari-hari.
Haedar menyebut bahwa salah satu faktor paling menentukan dalam keberhasilan pendidikan adalah hadirnya keteladanan nyata dari para pemimpin, pendidik, orang tua, dan seluruh elemen bangsa.
Ada alasan kuat mengapa keteladanan menempati posisi sentral dalam pemikiran Haedar. Nilai-nilai kebajikan tidak cukup diajarkan lewat ceramah, kurikulum, atau slogan di dinding sekolah.
Generasi muda belajar jauh lebih banyak dari apa yang mereka lihat dibandingkan apa yang mereka dengar. Ketika seorang guru mengajarkan kejujuran namun berlaku curang, ketika seorang pejabat berbicara tentang integritas namun terjerat korupsi, maka pesan moral yang disampaikan kehilangan daya tembusnya.
Sebaliknya, kesesuaian antara kata dan perbuatan—apa yang dalam tradisi Islam disebut sebagai uswah hasanah—memiliki daya pengaruh yang jauh lebih kuat daripada retorika sebaik apa pun.
Haedar menggambarkan hal ini secara tegas: jika para pemimpin menunjukkan keteladanan yang baik, masyarakat akan meniru secara positif. Namun ketika keteladanan itu hilang, hilang pula rujukan kebajikan di tengah masyarakat. Pernyataan ini menyiratkan sebuah kegelisahan yang mendalam terhadap fenomena krisis keteladanan di berbagai lini kehidupan bangsa, mulai dari dunia politik, birokrasi, hingga ruang-ruang publik lainnya.
Salah satu kekhawatiran utama yang disampaikan Haedar adalah potensi runtuhnya rujukan moral dan etika bagi generasi penerus apabila keteladanan dari para pemimpin dan tokoh masyarakat terus memudar.
Karakter bangsa tidak dibangun hanya melalui kebijakan, anggaran pendidikan, atau reformasi kurikulum semata, melainkan juga melalui sosok-sosok yang menjadi rujukan hidup bagi masyarakat luas.
Ketika sosok-sosok publik justru menampilkan perilaku yang bertentangan dengan nilai-nilai kebajikan, dampaknya tidak hanya berhenti pada citra individu yang bersangkutan, tetapi merembes menjadi persoalan struktural: masyarakat kehilangan pegangan tentang mana yang benar dan mana yang salah.
Generasi muda, yang berada dalam fase pencarian identitas dan nilai, menjadi pihak yang paling rentan terdampak oleh kekosongan keteladanan ini.
Dalam konteks inilah, Haedar mengingatkan kembali pesan pendiri Muhammadiyah, Kiai Haji Ahmad Dahlan, bahwa pemimpin sejati adalah mereka yang mampu mengayomi dengan hati yang jernih dan mencerahkan.
Ia juga menyinggung relevansi filosofi pendidikan Ki Hadjar Dewantara: Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani—yang secara ringkas berarti seorang pemimpin harus memberi teladan di depan, membangun semangat di tengah, dan memberi dorongan dari belakang. Filosofi ini, menurut Haedar, tetap relevan dan perlu terus dihidupkan dalam praktik pendidikan dan kepemimpinan bangsa hari ini.
Salah satu poin penting yang perlu digarisbawahi dari pemikiran Haedar Nashir adalah bahwa tanggung jawab keteladanan tidak boleh dibebankan hanya kepada guru di ruang kelas.
Selama ini, muncul kecenderungan untuk menyerahkan seluruh persoalan pembentukan karakter kepada institusi sekolah, seolah-olah guru adalah satu-satunya pihak yang bertanggung jawab atas moralitas generasi muda.
Padahal, anak-anak dan remaja menghabiskan sebagian besar waktunya di luar sekolah—di rumah, di lingkungan sosial, di media sosial, dan di tengah masyarakat yang lebih luas.
Jika keteladanan hanya diupayakan di sekolah namun absen di rumah dan di ruang publik, maka upaya pembentukan karakter akan berjalan pincang. Karena itu, keteladanan harus menjadi gerakan bersama yang melibatkan orang tua, guru, tokoh masyarakat, pemimpin pemerintahan, hingga figur publik di berbagai bidang.
Pandangan ini sejalan dengan konsep pendidikan holistik yang selama ini digaungkan Muhammadiyah, yakni pendidikan yang mengintegrasikan sekolah, keluarga, dan masyarakat sebagai satu kesatuan ekosistem yang saling mendukung. Ketiga lingkungan ini harus bergerak selaras, sebab karakter seorang anak tidak dibentuk hanya di satu ruang, melainkan melalui interaksi berkelanjutan dengan seluruh lingkungan di sekitarnya.
Haedar juga tidak menutup mata terhadap tantangan modernitas, termasuk derasnya arus teknologi dan informasi yang turut membentuk cara berpikir generasi muda saat ini. Namun baginya, kemajuan teknologi semestinya menjadi alat bantu kehidupan, bukan kekuatan yang justru menjauhkan manusia dari nilai-nilai kemanusiaan dan spiritualitasnya.
Pendidikan holistik hadir sebagai jawaban atas kecenderungan pendidikan yang semakin parsial dan pragmatis, yang kerap kehilangan orientasi pada pengembangan akal budi manusia secara utuh.
Dalam kerangka ini, integrasi antara iman dan kemajuan menjadi kata kunci. Ilmu pengetahuan dan teknologi harus dikembangkan tanpa melepaskan akar nilai keagamaan dan kebudayaan bangsa. Keduanya bukan dua kutub yang saling bertentangan, melainkan dua sisi yang semestinya berjalan beriringan untuk melahirkan peradaban yang maju sekaligus berakhlak mulia.
Keteladanan sebagai Jalan Pulang
Pemikiran Haedar Nashir mengenai keteladanan dalam pendidikan sesungguhnya adalah ajakan untuk kembali pada hal yang paling mendasar dalam proses mendidik: memberi contoh, bukan sekadar memberi instruksi. Di tengah dunia yang kian dipenuhi retorika dan citra, keteladanan menjadi jangkar yang menahan generasi muda agar tidak kehilangan arah moral.
Pendidikan yang holistik dan keteladanan yang nyata bukanlah dua hal yang terpisah, melainkan satu kesatuan yang saling menopang. Ilmu tanpa keteladanan berisiko melahirkan manusia pintar namun kering nurani. Sebaliknya, keteladanan tanpa penguatan ilmu pengetahuan juga tidak cukup untuk menjawab tantangan zaman.
Karena itu, seperti yang berulang kali ditegaskan Haedar Nashir, membangun manusia Indonesia yang utuh—berilmu, mencintai alam semesta, berbakti kepada Tuhan, menjunjung kemanusiaan, dan berakhlak mulia—hanya mungkin terwujud jika seluruh komponen bangsa, mulai dari orang tua, guru, hingga para pemimpin, bersedia menjadi teladan nyata, bukan sekadar penyampai pesan.
Uraian Haidar Nashir yang nota bene Ketum Muhammadiyah di atas sangat relevan dengan problem pendidikan di Indonesia dan carut marutnya kehidupan berbangsa dan bernegara.
Saat ini ketika demokrasi dibajak oligarki, korupsi meraja lela di setiap lini birokrasi, dan hukum nyaris mati -- Haedar mengingatkan, solusinya adalah pendidikan dan keteladanan harus dibenahi. Pendidikan dan keteladanan harus menjadi satu kesatuan yang terintegrasi. Tanpa itu, kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara yang kini mengalami krisis moral, etika, akhlak, dan adab akan sulit dipecahkan. ***