Krisis Tenaga Kerja Keuangan Federal dan AI: Audit Terancam

Federal News Network

Federal News Network

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Krisis tenaga kerja keuangan federal kian nyata saat tim menyusut drastis, sementara tuntutan audit dan modernisasi sistem justru meningkat. Rich Brady menegaskan tantangan intinya: “It’s difficult to carve out the time necessary for those type of courses that the workforce needs,” sebuah kalimat yang merangkum dilema pelatihan AI dan keterampilan digital di tengah beban kerja.

Wawancara Federal News Network menyorot dua pemimpin komunitas keuangan pemerintah: Ann Ebberts (Association of Government Accountants/AGA) dan Rich Brady (Society of Defense Financial Management/SDFM). Mereka menggambarkan tekanan ganda, yaitu pengurangan personel dan percepatan transformasi teknologi yang mengubah cara keputusan fiskal dibuat.

Ebberts menyebut kasus tim yang turun dari 12 orang menjadi tiga atau empat, lalu bekerja dengan pola “triage” untuk memprioritaskan tugas paling kritis. Dalam konteks federal financial management, ini bukan sekadar efisiensi, karena kesalahan angka dapat merambat ke unit lain dan mengganggu akuntabilitas publik.

Di Departemen Pertahanan (DoD), tekanan itu berlapis karena modernisasi sistem berjalan bersamaan dengan target audit. Brady memberi contoh Marine Corps yang meraih opini audit “clean” pertama tiga tahun lalu melalui proses manual yang menyerap tenaga besar, dan kini baru mencapai opini bersih ketiga.

Masalah utama bukan hanya kekurangan orang, tetapi ketidakselarasan antara beban kerja dan kapasitas belajar. Ebberts mengatakan banyak pegawai belajar AI secara mandiri di rumah karena “tidak ada waktu” untuk kelas formal, sebuah sinyal bahwa organisasi belum menyediakan jalur reskilling yang realistis.

Brady menambahkan bahwa bahkan sebelum pemangkasan, banyak kantor tidak pernah “100% manned” dan hanya berada di kisaran 75–80%. Setelah reduksi, beberapa unit turun lagi menjadi 60–70% dari kebutuhan, namun kewajiban stewardship harian dan proyek transformasi digital tetap berjalan.

Di sinilah paradoks teknologi muncul: AI dan otomasi digadang sebagai penolong, tetapi adopsinya memerlukan pelatihan yang juga menyita waktu. Brady menyebut kebutuhan “basic blocking and tackling” seperti fiscal law, budget formulation, dan akuntansi dasar, sekaligus pelatihan lanjutan seperti data analytics, forecasting, scenario planning, dan pemanfaatan AI.

Namun pelatihan fiskal tidak bisa dipadatkan menjadi sekadar sesi singkat. Brady menyinggung ukuran GAO Redbook yang “enormous” sehingga pelatihan fiscal law realistisnya tiga sampai lima hari, sementara kantor yang kekurangan orang nyaris tidak punya ruang untuk melepas staf dari tugas operasional.

Implikasinya langsung ke kualitas kontrol internal dan keberlanjutan opini audit. Brady mengaitkan enterprise risk management (ERM) dan internal controls sebagai fondasi “audit sustainability”, karena opini bersih bukan garis finis, melainkan komitmen yang harus dipertahankan lewat disiplin proses.

Ebberts menilai ERM mungkin turun prioritas karena perubahan fokus kebijakan, tetapi tidak bisa “ditaruh di pinggir” begitu saja. Ia menekankan bahwa risk management adalah urusan semua orang, dan AGA memperkuat fokus itu dengan mengintegrasikan Association for Enterprise Risk Management ke dalam organisasinya.

Di sisi lain, ada sinyal positif tentang kolaborasi lintas lembaga. Ebberts menyorot “cross-pollination” antara DoD dan lembaga sipil, karena praktik terbaik audit dan tata kelola keuangan tidak mengenal sekat seragam atau non-seragam.

Krisis ini sebetulnya bukan semata krisis rekrutmen, melainkan krisis desain kerja dan prioritas negara. Ketika tim dipangkas, organisasi cenderung mengunci diri pada mode penyelamatan jangka pendek, padahal transformasi digital butuh investasi waktu, eksperimen, dan ruang untuk gagal secara terukur.

AI dalam federal financial management berisiko menjadi slogan jika pelatihan tidak diubah menjadi “micro-learning” yang terhubung langsung ke pekerjaan harian. Ebberts secara implisit menawarkan arah itu lewat gagasan kursus singkat yang fokus pada kebutuhan spesifik kantor, bukan modul generik yang sulit ditelan di tengah krisis.

Namun ada bahaya lain: ketergantungan pada proses manual demi mengejar audit bisa membuat organisasi “lulus ujian” tetapi tidak benar-benar modern. Contoh Marine Corps menunjukkan opini bersih bisa dicapai dengan tenaga besar, tetapi pertanyaannya adalah apakah itu berkelanjutan ketika kapasitas manusia terus menipis.

Karena itu, ERM dan internal controls harus diperlakukan sebagai infrastruktur, bukan proyek sampingan. Jika kontrol dibangun sejak awal, AI dan otomasi bisa mengurangi beban, tetapi jika kontrol lemah, teknologi justru mempercepat kesalahan dan memperluas dampaknya.

Langkah SDFM yang mengubah model acara menjadi rangkaian Defense Financial Management Institute (DFMIs) sepanjang tahun juga patut dibaca sebagai respons struktural. Brady ingin “membawa konten ke tempat anggota berada”, yang secara praktis mengurangi biaya waktu dan perjalanan, meski tetap menuntut komitmen pimpinan untuk memberi ruang belajar.

Di balik angka-angka, ada manusia yang bekerja lebih lama, saling memberi “levity and grace”, lalu kembali menutup laporan yang tak boleh salah. Mereka bertahan karena panggilan pelayanan publik, tetapi panggilan saja tidak cukup jika sistem terus meminta lebih dengan sumber daya yang makin sedikit.

Pertanyaan besarnya sederhana namun tajam: apakah pemerintah ingin AI mempercepat akuntabilitas, atau hanya mempercepat rutinitas yang rapuh. Tanpa waktu belajar yang dilindungi, kontrol internal yang kuat, dan kolaborasi lintas lembaga, transformasi keuangan federal bisa menjadi perlombaan yang dimenangkan hari ini namun kalah besok.

(Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)