Buku Earl Spencer soal Diana Guncang Raja Charles dan Pangeran
ORBITINDONESIA.COM – Buku baru Earl Spencer tentang Putri Diana memicu badai baru di keluarga kerajaan Inggris, setelah ia menuduh Raja Charles pernah berkata, “kita akan segera melupakannya.” Istana Buckingham menolak keras klaim itu, dan menyebut duka saudara bisa “mengaburkan nalar” serta “mewarnai ingatan.” (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Dalam kutipan yang terbit pekan ini, Charles Spencer mengisahkan pertengkaran via telepon dengan mantan iparnya, kala Diana wafat pada 1997. Spencer mengklaim Raja Charles meluapkan “arus amarah” ketika ia menolak William dan Harry ikut prosesi pemakaman. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Istana merespons dengan pernyataan yang tidak biasa karena sangat tegas, seolah menilai Spencer tak objektif. Spencer membalas dan menyebutnya “gaslighting,” manipulasi yang membuat orang meragukan realitasnya sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Kontroversi ini terasa ironis karena eulogi Spencer pada pemakaman Diana dulu berjanji melindungi William dan Harry dari luka yang membuat Diana “putus asa dan menangis.” Kini, klaim dalam bukunya justru berisiko menjadi “belati” bagi dua putra yang ia sebut sebagai “keluarga sedarah.” (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Siapa Earl Spencer penting untuk memahami bobot tuduhan ini. Ia aristokrat Inggris kelahiran 1964, bersekolah di Eton dan Oxford, pernah menjadi jurnalis termasuk di NBC News selama satu dekade, serta penulis sejumlah buku sejarah dan kerajaan. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Ia juga bukan orang luar bagi monarki: Ratu Elizabeth II adalah ibu baptisnya, dan keluarga Spencer memiliki Althorp sejak 1508. Karena itu, kesaksiannya mudah dianggap “orang dalam,” walau tetap harus dibaca sebagai narasi personal yang sarat emosi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Relasi Spencer dan Diana digambarkan akrab sejak kecil, namun tidak steril dari konflik. Surat-surat yang muncul dalam persidangan pencurian tahun 2002 menggambarkan friksi, termasuk soal permintaan Diana tinggal di “Garden House” di Althorp yang semula diterima lalu ditolak, serta momen Diana menutup telepon untuk Spencer. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Di sisi lain, eulogi Spencer pada 1997 menegaskan posisi moralnya di mata publik. Ia memuji Diana sebagai “inti dari welas asih, tugas, gaya, dan keindahan,” sekaligus mengecam pers Inggris yang ia sebut memburu Diana sebagai “orang paling diburu di era modern.” (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Kontradiksi muncul ketika kita mengingat wawancara Spencer dengan CNN pada 1999. Saat itu, ia menyebut Raja Charles “sangat sopan” di hari pemakaman, dan berkata “tak ada hal buruk” yang pernah diucapkan Charles kepadanya. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Jika versi 1999 dan versi buku terbaru sama-sama dianggap benar, maka ada dua kemungkinan yang sama-sama tidak nyaman. Entah ada detail yang baru diingat setelah puluhan tahun, atau ada detail yang baru “dipilih” untuk disorot setelah konteks politik keluarga berubah. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Di sinilah pernyataan Istana tentang memori dan duka menjadi alat retoris yang tajam. Namun, ketika Istana memakai bahasa psikologis untuk menolak klaim, Spencer membaliknya dengan istilah “gaslighting,” sehingga debat bergeser dari fakta peristiwa ke pertarungan legitimasi emosi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Dampak paling nyata bukan hanya pada Raja Charles, melainkan pada Pangeran William dan Pangeran Harry. Klaim “kita akan melupakannya” menyentuh titik paling sensitif: bagaimana seorang ayah memaknai kehilangan ibu dari anak-anaknya, dan bagaimana anak-anak itu membaca ulang masa kecil mereka. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Kontroversi ini juga menyentuh garis patahan lain: hubungan Sussex dengan keluarga besar. Spencer di BBC membandingkan perlakuan media pada Harry dan Meghan dengan perlakuan pada Diana, menyebut kritik harian sebagai pengaruh “kanker” dalam hidup seseorang. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Fakta pendukungnya ada dalam gestur-gestur publik terbaru yang memperlihatkan kedekatan Sussex dengan keluarga Spencer. Harry dan Meghan mengunjungi Althorp tempat Diana dimakamkan, dan beberapa anggota Spencer hadir mendukung Harry saat peringatan 10 tahun Invictus Games di Inggris pada 2024. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Karena itu, buku ini bukan sekadar memoar keluarga, melainkan sinyal aliansi. Ketika William dan Harry masih berjarak, setiap narasi tentang Diana mudah menjadi bahan bakar, baik untuk rekonsiliasi maupun untuk memperdalam jurang. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Pertanyaan paling tajam bukan hanya “apakah Raja Charles mengucapkannya,” melainkan “mengapa sekarang.” Dalam ekosistem kerajaan modern, memori adalah mata uang, dan buku adalah instrumen untuk mengunci versi sejarah sebelum pihak lain menutupnya. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Spencer mungkin merasa ia membela Diana dari tradisi yang mengutamakan protokol di atas perasaan, terutama soal prosesi pemakaman. Namun, pembelaan itu menjadi problematik ketika dipasarkan sebagai konflik baru yang berpotensi melukai dua anak yang dulu ia janjikan untuk dilindungi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Di pihak lain, respons Istana juga tidak sepenuhnya “bersih.” Menuding duka sebagai kabut nalar bisa terdengar seperti meremehkan pengalaman saksi, dan membuka ruang tuduhan bahwa monarki kembali memakai otoritas simbolik untuk menertibkan narasi yang tidak menguntungkan. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Kasus ini memperlihatkan pola lama: keluarga kerajaan bertahan bukan hanya dengan mahkota, tetapi dengan kontrol cerita. Ketika kontrol itu retak, publik tidak lagi menilai siapa yang paling benar, melainkan siapa yang paling manusiawi dalam mengelola luka. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Di titik ini, Diana kembali hadir sebagai cermin, bukan sebagai orang yang bisa membela diri. Setiap pihak mengklaim mewakili “keinginan Diana,” padahal yang dipertaruhkan adalah legitimasi moral di mata publik Inggris dan dunia. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Buku Earl Spencer tentang Putri Diana menunjukkan bahwa kematian tidak selalu mengakhiri konflik, kadang justru mengawetkannya dalam bentuk narasi. Ketika keluarga besar bertengkar lewat kutipan dan bantahan resmi, yang paling rentan adalah mereka yang hidup di tengahnya, terutama William dan Harry. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)
Publik boleh menuntut kebenaran, tetapi juga perlu menilai biaya dari kebenaran yang diperdebatkan di ruang publik. Jika ingatan bisa menjadi senjata, maka pertanyaan akhirnya sederhana: siapa yang sebenarnya dilindungi oleh cerita ini, dan siapa yang kembali dikorbankan? (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)