Paramount Akuisisi Warner Bros: Bonta Mundur, Newsom Menekan

The Hollywood Reporter

The Hollywood Reporter

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Merger Paramount–Warner Bros senilai US$111 miliar yang sempat disebut akan “menghancurkan Hollywood” kini melaju lewat jalur damai, setelah Jaksa Agung California Rob Bonta menerima penyelesaian yang dipengaruhi tekanan politik dan ancaman relokasi. Kesepakatan itu mengubah perlawanan antimonopoli menjadi kontrak operasi lima tahun, tepat ketika tenggat 1 Oktober dan biaya “ticking fee” US$7 juta per hari mulai menghantui.

Selama berbulan-bulan, Rob Bonta menyatakan Paramount tidak seharusnya mengakuisisi Warner Bros. Discovery dan ia yakin bisa menghentikannya di pengadilan. Ia memosisikan gugatan California sebagai benteng terakhir melawan konsolidasi raksasa media.

Namun, ketika daya tawar tampak paling tinggi, realitas politik dan ekonomi justru menekan dari atas. Gubernur Gavin Newsom ikut masuk ke negosiasi dan mendorong penyelesaian, terutama karena kekhawatiran soal lapangan kerja dan reputasi negara bagian.

Newsom bahkan menyebut ancaman CEO David Ellison untuk memindahkan kantor pusat dari California sebagai sesuatu yang “serius.” Jejak Newsom terlihat jelas saat Paramount berterima kasih atas “dukungan” sang gubernur dalam proses tersebut.

Tekanan itu membuat posisi Bonta kian sulit dipertahankan. California menggugat untuk menghentikan merger, tetapi juga berisiko kehilangan Paramount jika tidak ada deal sebelum 1 Oktober.

Tenggat itu terkait “ticking fee” US$7 juta per hari yang mulai berjalan jika kesepakatan terlambat. Dengan level produksi film Los Angeles yang disebut berada di titik rendah historis, ancaman hengkang menjadi kartu yang memukul psikologi politik.

Penyelesaian perkara ini tidak berbentuk divestasi besar seperti yang lazim dalam penegakan antitrust. Yang muncul justru kesepakatan operasional lima tahun melalui consent decree, seolah negara “mengatur perilaku” alih-alih memotong aset.

Paramount dan Warner Bros diwajibkan merilis minimal 30 film bioskop per tahun pada dua tahun pertama, lalu 32 film per tahun pada tiga tahun berikutnya. Mereka juga harus menjaga jumlah rilis lebar dan rilis independen pada level minimum.

Setidaknya separuh film harus diproduksi atau diproduksi bersama oleh perusahaan gabungan. Jendela tayang bioskop 45 hari dan jeda 90 hari untuk SVOD pada film tertentu juga dipertahankan.

Sanksi finansialnya keras di atas kertas, yakni US$30 juta per film bila kuota tahunan meleset. Bila kekurangan tak diperbaiki, divestasi saham Paramount di Miramax bisa dipertimbangkan.

Di luar itu, perusahaan harus menambah belanja produksi AS sebesar US$300 juta per tahun. Totalnya menjadi US$1,5 miliar di atas baseline 2025 selama lima tahun.

Dua studio lot utama di Los Angeles, yakni Paramount dan Warner Bros, wajib tetap buka dan beroperasi sepanjang masa dekret. Ini menegaskan bahwa inti kecemasan pemerintah negara bagian adalah ekosistem kerja lokal, bukan semata struktur pasar.

Kesepakatan juga memisahkan negosiasi basic-cable antara Paramount dan Warner Bros. Ada pula dewan independen lima orang untuk mengawasi standar editorial di CBS News dan CNN, meski anggota dipilih oleh Paramount.

Jika pemisahan negosiasi kabel dilanggar, skenario sanksi berupa perintah divestasi bisa menyasar kanal seperti BET, VH1, dan Comedy Central. Aset “kelas berat” seperti CNN atau New Line Cinema tidak masuk dalam daftar yang dipertaruhkan pada skenario divestasi tersebut.

Dari sisi litigasi, gugatan negara bagian memang punya dasar, tetapi peluang menang disebut seperti lempar koin. Paramount juga membawa tim hukum elite, termasuk Jeffrey Kessler, Beth Wilkinson, dan mantan Solicitor General AS Paul Clement.

Di tingkat banding, Paramount tampak menemukan telinga yang lebih ramah. Mahkamah Agung awal bulan ini meminta Bonta menanggapi tantangan Iowa dan Montana yang ingin menghentikan gugatan antitrust, yang mengisyaratkan potensi peninjauan lebih lanjut.

Koalisi negara bagian pun retak soal apakah deal harus diterima. New York, Connecticut, Minnesota, dan Nevada disebut menjadi pihak yang paling menahan, tetapi keluarnya California akan melemahkan pusat gravitasi persidangan.

Jaksa Agung Connecticut William Tong menyatakan kekecewaan dan menuntut divestasi penuh CNN dan CBS News. Ia mengatakan negaranya ingin “menyelamatkan jurnalisme dan berita yang etis dan independen,” tetapi tidak berhasil mendapat remedinya.

Serikat penulis WGA menambah dimensi lain yang sering luput, yaitu biaya. Mereka menilai melaju sendirian tanpa dukungan penegak pemerintah dalam gugatan kompleks akan menghabiskan jutaan dolar hingga persidangan.

Di sinilah ironi terbesar kasus merger Paramount–Warner Bros muncul. Bonta mengakui di konferensi pers bahwa ia tetap percaya “dua perusahaan ini tidak seharusnya bergabung,” tetapi ia tetap meneken penyelesaian.

Ini bukan sekadar kompromi teknis, melainkan kompromi politik. Ketika Newsom menimbang reputasi negara bagian dan ancaman relokasi, penegakan antitrust berubah menjadi manajemen risiko elektoral.

Ancaman Ellison untuk pindah bisa saja gertakan, tetapi gertakan yang efektif tetaplah senjata. Jika keputusan relokasi benar terjadi saat gugatan berjalan, pemerintah California akan menanggung narasi kegagalan melindungi pekerjaan.

Kesepakatan ini juga menunjukkan batas daya paksa negara bagian ketika pemerintah federal sudah menyetujui akuisisi. Negara bagian akhirnya bernegosiasi untuk “mengunci perilaku” perusahaan, bukan membongkar struktur konsolidasi.

Namun, pengaturan perilaku punya kelemahan bawaan karena bergantung pada kepatuhan dan pengawasan. Bahkan dewan editorial independen pun dipilih oleh Paramount, sehingga independensinya mudah diperdebatkan.

Yang lebih mengganggu adalah pesan yang dikirim ke industri. Jika ancaman memindahkan kantor pusat dapat melunakkan perlawanan hukum, maka taktik itu berpotensi menjadi template bagi merger lain.

Di sisi lain, publik juga harus jujur bahwa memenangkan perkara antitrust di pengadilan memang sulit. Ketika lawan membawa pengacara terbaik dan medan banding memberi sinyal tak pasti, negara bagian menghadapi taruhan mahal dengan hasil yang belum tentu.

Karena itu, penyelesaian ini terasa seperti kemenangan prosedural yang menutupi kekalahan substansial. Hollywood tetap menuju satu kolosus baru, sementara negara hanya memastikan mesin produksi tetap menyala di California.

Merger Paramount–Warner Bros kini tinggal menunggu jalur final menuju lahirnya raksasa hiburan baru. California memilih mengurangi risiko kehilangan kantor pusat dan pekerjaan, meski harus menelan konsolidasi yang sejak awal mereka gugat.

Pertanyaannya menjadi lebih tajam dan lebih manusiawi. Apa arti retorika “melawan konsolidasi” jika saat momen melawan tiba, biaya politik dan ekonomi membuat negara mundur selangkah.

Jika dekret lima tahun ini gagal menjaga keberagaman produksi dan independensi berita, publik akan kembali menagih janji yang sudah diperdagangkan. Dan jika berhasil, ia tetap meninggalkan pelajaran pahit bahwa kekuasaan pasar sering lebih cepat daripada keberanian politik. (Orbit dari berbagai sumber, 24 September 2026)