Mel C Hampir Dipecat Spice Girls Usai Bertengkar dengan Victoria Beckham

Page Six

Page Six

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Mel C mengungkap ia nyaris dikeluarkan dari Spice Girls setelah pertengkaran sengit dengan Victoria Beckham di BRIT Awards 1996. Pengakuan di podcast Louis Theroux itu menyorot rapuhnya dinamika internal Spice Girls jauh sebelum “Wannabe” meledak dan mengubah mereka jadi ikon pop global.

Terjemahan akurat artikel sumber: Mel C hampir dikeluarkan dari Spice Girls setelah beradu argumen dengan Victoria Beckham. Penyanyi berusia 52 tahun itu menceritakan pertengkaran intens tersebut saat menjadi tamu “The Louis Theroux Podcast”, dan mengatakan insiden terjadi di BRIT Awards 1996.

Saat itu mereka belum terkenal karena Spice Girls belum merilis single debut “Wannabe”, yang kemudian menjadi hit besar pada 1996. Namun mereka menikmati malam yang “luar biasa”, minum sampanye dan duduk satu meja dengan Lenny Kravitz.

Menurut Sporty Spice, malam itu kemudian berubah jadi buruk. Saat hendak pulang dan mencari mobil, ia berbalik dan berkata kepada Victoria, “Victoria, f—k off.”

Ia pulang, tidur, lalu bangun keesokan paginya dan mendapati dirinya dalam masalah besar. Mel C mengatakan Mel B dan Geri Halliwell mengaku “muak” dengan perilakunya, dan manajer grup juga menegurnya keras.

Mel C diberi peringatan tegas bahwa jika hal serupa terjadi lagi, ia akan dikeluarkan. Ia mengatakan hal itu benar-benar membuatnya ketakutan.

Ia mengaku ngeri karena merasa bisa “kehilangan segalanya” hanya karena insiden yang “sepele.” Ia berkata mimpi masa kecil yang kini mungkin terwujud terasa bisa ia hancurkan sendiri.

Pada Mei, Mel C juga menyebut siapa anggota Spice Girls yang paling “gila cowok” saat mereka mencapai puncak popularitas di 1990-an, yaitu Mel B. Dalam “Cosmopolitan’s Blind Date”, ia menambahkan Mel B “sangat populer.”

Masih pada bulan yang sama, ia menanggapi asumsi tentang orientasi seksualnya ketika berada di girl group ikonik itu. Ia mengatakan karena karakter “yang pakai baju olahraga”, orang mengira atau menyarankan ia gay.

Mel C menegaskan ia tidak punya masalah pribadi dengan asumsi itu, tetapi ia menilai itu bukan urusan orang lain. Ia mengkritik kebiasaan menilai orientasi seseorang dari penampilan atau cara berpakaian.

Mel C memiliki seorang putri, Scarlett, 17 tahun, dari mantan pacarnya Thomas Starr. Ia berpacaran dengan model Australia Chris Dingwall sejak November 2023.

Kisah “hampir dipecat” ini membongkar satu fakta penting: sebelum Spice Girls menjadi merek global, mereka adalah kelompok muda yang rentan konflik. BRIT Awards 1996 menjadi panggung simbolik, karena terjadi tepat sebelum “Wannabe” meluncur dan mengunci mereka dalam mesin industri pop.

Di titik pra-ketenaran, satu kalimat kasar bisa dibaca sebagai risiko bisnis, bukan sekadar emosi sesaat. Manajer yang mengancam pemecatan menunjukkan logika industri musik: stabilitas tim dan citra publik lebih bernilai daripada ruang aman untuk meledak secara manusiawi.

Spice Girls dibangun di atas narasi persahabatan, “girl power”, dan persona yang rapi terbagi. Karena itu, konflik internal menjadi ancaman ganda, yakni mengganggu kerja produksi dan merusak mitologi yang dijual ke publik.

Pengakuan Mel C juga memperlihatkan bagaimana disiplin di balik pop sering bekerja lewat rasa takut. Ia menyebut insiden itu “sepele”, tetapi dampaknya terasa eksistensial karena kariernya bergantung pada satu struktur kolektif.

Ada ironi di sini: grup yang mempromosikan pemberdayaan justru beroperasi dalam tekanan kontrol yang keras. Ini bukan tuduhan pada anggota, melainkan gambaran ekosistem yang menuntut keseragaman perilaku demi keuntungan.

Bagian lain dari cerita, seperti label “boy crazy” dan asumsi orientasi seksual, menegaskan tubuh dan citra perempuan selalu menjadi komoditas. Mel C menunjukkan bagaimana pakaian olahraga bisa dipakai publik sebagai “bukti” identitas, padahal itu hanya styling dan karakter panggung.

Dalam kajian budaya pop, persona “Sporty” adalah strategi diferensiasi pasar yang membuat setiap anggota mudah dikenali. Namun strategi ini juga menciptakan jebakan stereotip, karena publik mengira karakter panggung adalah kebenaran biografis.

Ketika Mel C berkata “bukan urusan mereka”, ia menantang logika gosip yang selama ini menghidupi industri selebritas. Ia juga mengingatkan bahwa identitas tidak seharusnya disimpulkan dari visual, karena itu menyederhanakan manusia menjadi kostum.

Secara tren, pengakuan semacam ini kini laku karena audiens menyukai “sejarah di balik layar” dari era 1990-an. Podcast menjadi medium yang memberi ruang narasi panjang, dan selebritas memakainya untuk merebut kembali kendali cerita.

Keyword “Mel C hampir dipecat dari Spice Girls” mudah jadi umpan sensasi, tetapi nilai jurnalistiknya ada pada struktur kekuasaan yang tersingkap. Ancaman pemecatan karena satu ledakan emosi menunjukkan betapa rapuhnya posisi pekerja kreatif ketika merek grup lebih penting daripada kesehatan relasi.

Dalam banyak grup pop, konflik bukan hal aneh, tetapi yang menentukan adalah siapa yang berhak marah dan siapa yang harus menahan diri. Ketika mekanisme manajemen menekan dengan ultimatum, yang lahir bukan kedewasaan, melainkan kepatuhan.

Namun Mel C juga memberi pelajaran tentang tanggung jawab personal. Ia tidak membenarkan ucapannya, tetapi ia menyorot bagaimana satu momen bisa menghantui karena sistem menempatkan karier sebagai taruhannya.

Soal asumsi orientasi seksual, kritik Mel C terasa relevan di era media sosial yang gemar mengunci identitas lewat potongan visual. Ia tidak meminta simpati, melainkan meminta publik berhenti menjadikan penampilan sebagai vonis.

Di titik ini, cerita Spice Girls bukan hanya nostalgia. Ini adalah cermin tentang bagaimana perempuan di industri hiburan didorong tampil kuat, tetapi dihukum keras ketika terlihat tidak terkendali.

Pertengkaran Mel C dan Victoria Beckham di BRIT Awards 1996 mungkin singkat, tetapi gaungnya panjang karena memperlihatkan harga dari mimpi pop yang tampak glamor. Di balik sampanye dan meja bersama Lenny Kravitz, ada ketakutan kehilangan masa depan hanya karena satu kalimat.

Pengakuan ini mengajak kita membaca ulang Spice Girls bukan sebagai dongeng sempurna, melainkan proyek manusia yang dibentuk oleh disiplin industri dan tatapan publik. Jika “girl power” adalah keberanian, mungkin bentuknya yang paling nyata adalah berani mengakui retak, lalu bertanya: siapa yang diuntungkan ketika selebritas dipaksa selalu tampak baik-baik saja?

(Orbit dari berbagai sumber, 20 Juli 2026)