Puisi Esai Denny JA: Aku Kehilangan Anakku Ketika Hutan Terbakar
Sebuah Puisi Esai - AKU KEHILANGAN ANAKKU KETIKA HUTAN TERBAKAR
Oleh Denny JA
(Hutan di Kalimantan, Papua, dan Sumatera terbakar, Agustus 2026. Saya teringat kembali kisah ini.)
-000-
Ayah, kapan asap ini pergi?”
tanya Mila,
napasnya patah-patah
menjadi burung kecil
yang kehilangan langit.
Ayahnya tak menjawab.
Bagaimana menjelaskan
kepada anak dua belas tahun
bahwa langit sedang sakit,
dan bumi
kesulitan bernapas?
Di luar,
matahari menjadi koin merah
yang perlahan tenggelam
dalam lautan kelabu.
Hutan terbakar jauh di sana.
Tetapi api rupanya
tak membutuhkan kaki.
Ia menyeberangi bukit,
menyusuri angin,
lalu tiba
di dada Mila.
-000-
Asap memang aneh,” kata Ayah.
Ia tak punya kaki,
tetapi tahu jalan
menuju dada manusia.
Ia tak punya tangan,
tetapi dapat mengetuk
ribuan pintu sekaligus.
Ia tak punya pisau,
tetapi meninggalkan luka
di tempat yang tak terlihat.
Dan ia tak punya rekening,
tetapi selalu tahu
kepada siapa
tagihan harus dikirimkan.
Malam itu,
tagihan itu tiba
di sebuah kamar kecil:
Atas nama Mila.
-000-
“Ayah,
aku ingin udara.”
Ayah terdiam.
Selama hidupnya
ia bekerja mencari uang.
Baru malam itu
ia mengetahui:
ada kekayaan
yang tak pernah disimpan
di bank mana pun,
tetapi ketika hilang,
seluruh uang di dunia
tak sanggup membelinya kembali:
Udara.
-000-
September 2015.
Nama sebenarnya dirahasiakan.
Panggil saja ia Mila.
Pekanbaru sedang dikepung asap.
Langit kehilangan warna.
Matahari kehilangan wajah.
Dan manusia perlahan
kehilangan udara.
Mula-mula,
Mila hanya lemas.
Batuk kecil,
seperti ketukan pelan
di pintu rumah.
Ibu menjawabnya
dengan air hangat.
Ayah menjawabnya
dengan harapan:
“Besok juga sembuh.”
Mereka belum tahu,
kadang-kadang malapetaka
datang bukan dengan ledakan,
tetapi dengan batuk kecil.
Besok datang.
Batuk Mila
menjadi lebih panjang.
Lusa datang.
Napas Mila
menjadi lebih pendek.
Sampai akhirnya,
rumah sakit.
Selang.
Mesin.
Ruang intensif.
Sebuah mesin bekerja
siang dan malam,
seperti paru-paru kedua
yang tak pernah diminta Mila.
Lalu suatu hari,
angka-angka di layar
mulai kehilangan iramanya.
Mesin masih bekerja.
Ayah masih berdoa.
Tetapi Mila
perlahan pergi.
Tubuh kecil itu diam.
Ayah menggenggam tangannya,
seakan seluruh cintanya
dapat dialirkan
melalui jemari.
Namun cinta
dapat menemani seseorang pergi.
Ia tak selalu
dapat menahannya tinggal.
Air mata Ayah tumpah.
Di luar jendela,
asap terus berjalan
ke mana-mana.
Tak punya wajah.
Tak punya nama.
Tetapi sejak hari itu,
bagi seorang Ayah,
asap mempunyai
satu nama:
kehilangan,
yang mendalam.
-000-
Agustus 2026.
Kalimantan, Sumatera, Papua
kembali mengirimkan kabar
tentang api.
Sebelas tahun telah lewat,
tetapi bagi Ayah,
ada luka yang tak mengenal kalender.
Ia teringat Mila.
Dulu Mila bertanya:
“Ayah, kapan asap ini pergi?”
Kini Ayah
yang bertanya:
“Siapa yang menyalakan api?”
Ia bertanya kepada langit.
Langit diam.
Barangkali langit
sudah terlalu lama menjadi saksi,
melihat hutan terbakar
tahun demi tahun,
tetapi tak pernah sekali pun
dipanggil
ke ruang pengadilan.
Jika benar ada tangan-tangan
yang memilih api
karena membakar hutan
lebih murah daripada menjaganya,
betapa mahal
harga dari sesuatu
yang mereka sebut murah.
Di atas kertas,
api mungkin hanya angka
dalam ongkos produksi.
Tetapi ada angka
yang tak pernah masuk
ke dalam pembukuan:
yaitu, seorang anak
yang tak pulang.
Bagi mereka,
mungkin statistik.
Bagi Ayah,
angka itu mempunyai nama:
Mila.
-000-
Ayah akhirnya mengerti:
hutan tidak pertama-tama terbakar
ketika api menyentuh daun.
Ia terbakar jauh sebelumnya.
Ketika keserakahan
menemukan tempat
di dalam hati manusia.
Dari sanalah
api pertama menyala.
Baru kemudian
ia belajar menjalar
ke batang, daun, sarang burung,
dan langit.
Ayah teringat seorang politisi
pernah menanam pohon
di depan kamera.
Ada tepuk tangan.
Ada senyum.
Ada janji
tentang masa depan.
Lalu kamera pergi.
Pohon itu tinggal,
sendirian menjaga
janji manusia.
Tahun-tahun berlalu.
Ketika ribuan pohon terbakar,
Ayah bertanya:
siapa yang akan berbicara
atas nama mereka?
Pohon tak mempunyai kartu suara.
Burung enggang
tak mempunyai wakil
di gedung dewan.
Sungai tak bisa berdiri
di depan mikrofon
dan berkata:
“Aku sedang sekarat.”
Maka ketika semuanya
berubah menjadi abu,
alam tak mempunyai
bahasa pembelaan.
Hanya asap
yang naik ke langit,
seperti surat terakhir
dari bumi
kepada manusia.
Tetapi di bawahnya,
manusia masih sibuk
menghitung harga sebuah hutan,
seakan lupa: ada yang dapat dihitung
dengan uang,
dan ada yang baru diketahui
nilainya setelah hilang.
-000-
“Ayah, kapan asap ini pergi?”
Sebelas tahun kemudian,
Ayah akhirnya mengerti:
asap memang bisa pergi
ketika api padam.
Tetapi api
selalu tahu jalan pulang
selama keserakahan
masih mempunyai rumah
di hati manusia.
Ia akan kembali
selama hukum
lebih mudah membungkuk
kepada uang
daripada kepada luka.
Selama keuntungan hari ini
ditimbang lebih berat
daripada napas
anak-anak esok hari.
Sebab asap
bukan hanya lahir
dari hutan yang terbakar.
Kadang ia lahir
dari nurani
yang lebih dahulu padam.
-000-
Malam itu,
Ayah membuka jendela.
Langit telah membersihkan
sebagian lukanya.
Di antara bintang-bintang,
Ayah mencari Mila.
Entah mengapa,
orang yang kehilangan
selalu percaya:
yang dicintainya
tidak benar-benar pergi,
hanya pindah
ke tempat yang tak bisa dijangkau.
“Mila,” bisiknya,
“sekarang Ayah mengerti.
Bumi bukan sekadar
selembar sertifikat.
Dan manusia
bukan sekadar angka
dalam sebuah laporan.”
Di halaman,
sebatang pohon
menggerakkan daunnya
ditiup angin.
Sederhana sekali.
Tetapi malam itu
Ayah seperti melihat
sebuah keajaiban
yang selama ini
terlalu dekat untuk disadari:
sebelum manusia
menciptakan uang,
pohon telah lebih dahulu
menciptakan udara.
Ayah menatap langit
lama sekali.
Lalu dari lorong
sebelas tahun yang jauh,
suara kecil itu
datang kembali:
“Ayah,
aku ingin udara.”
Ayah memejamkan mata.
Kini ia tahu.
Itu bukan hanya
permintaan Mila.
Itu suara anak-anak
yang belum lahir,
mengetuk pintu
generasi hari ini:
sisakan untuk kami
hutan.
Sisakan untuk kami
langit.
Sisakan untuk kami
udara.
Sebab sebuah peradaban
tidak berakhir ketika uangnya habis.
Ia mulai berakhir
ketika anak-anaknya
harus memohon untuk bernapas. *
Jakarta, 26 Agustus 2026
CATATAN KAKI
(1) Tokoh Mila dalam puisi ini diinspirasi oleh kisah Muhanum Anggriawati, 12 tahun, Pekanbaru, yang meninggal pada 10 September 2015 di tengah bencana kabut asap Riau. Data Pusat Krisis Kesehatan Kementerian Kesehatan mencatat penyebab kematiannya sebagai ISPA.
https://m.antaranews.com/amp/berita/517732/bocah-hanum-kehilangan-nyawa-berlatar-ganasnya-asap-riau