Kebijakan Tes Testosteron Pentagon: Risiko TRT pada Prajurit Muda
ORBITINDONESIA.COM – Kebijakan tes testosteron Pentagon kini menjadi sorotan, karena membuka skrining “low T” bagi prajurit dan menawarkan terapi pengganti testosteron (TRT) sebagai opsi. Para peneliti menilai langkah ini menutup celah kesehatan pria, tetapi juga berpotensi mendorong ketergantungan hormon dan masalah jangka panjang pada mayoritas personel yang masih muda.
Pentagon mengumumkan skrining testosteron baru dalam pemeriksaan tahunan militer. Tes otomatis berlaku untuk personel usia 30 tahun ke atas, sementara yang lebih muda dapat ikut secara sukarela.
Siapa pun yang hasilnya rendah akan diberi pilihan mengikuti perawatan yang direkomendasikan, termasuk suplementasi testosteron. Menteri Pertahanan Pete Hegseth menyebut tujuannya mengoptimalkan performa dan menjaga umur panjang.
Kebijakan ini muncul di tengah tren “fiksasi testosteron” di pemerintahan Trump, dari bahasa baru dalam pedoman diet hingga dorongan FDA agar terapi lebih mudah diakses. Pentagon juga menyatakan kebijakan skrining terbuka untuk semua “warfighters” tanpa memandang gender, dan seorang pejabat mengatakan semua yang berusia di atas 30 tahun akan dites setiap tahun.
Peneliti kinesiologi Stuart Phillips dari McMaster University menilai tidak ada bukti kuat kebijakan ini akan meningkatkan performa atau umur panjang pada pria di bawah 50 tahun. Ia mempertanyakan masalah apa yang sebenarnya hendak dipecahkan oleh skrining massal ini.
Phillips juga menilai prioritas kebijakan berisiko meleset dari kebutuhan paling nyata prajurit. Menurutnya, tidur, latihan terstruktur, nutrisi, dan persiapan jauh lebih menentukan ketangguhan ketimbang resep hormon.
Data Pentagon 2024 menunjukkan hampir setengah pasukan berusia 25 tahun atau lebih muda. Ini membuat kebijakan yang membuka akses tes dan terapi hormon pada kelompok muda menjadi sangat sensitif, karena mereka bukan populasi tipikal “low T” akibat penuaan.
Di sisi lain, testosteron rendah memang dapat terjadi di militer karena stres kronis, kurang tidur, dan obesitas. Kondisi ini dilaporkan lebih menonjol pada sebagian kecil personel operasi khusus seperti Navy SEALs.
Namun diagnosis “low T” tidak sesederhana satu kali tes. Pedoman American Urological Association menyebut perlu beberapa kali pengukuran dan gejala yang relevan, seperti libido menurun, kelelahan, dan hilangnya massa otot.
Eric Feigl-Ding dari New England Complex Systems Institute menilai pendekatan luas untuk menguji hormon pada pria usia 30-an “tidak masuk akal.” Ia mengingatkan pemberian testosteron pada dewasa muda tanpa gejala besar tidak selalu bijak.
Latihan fisik berat dapat menekan kadar hormon sementara, sehingga mengacaukan diagnosis. Studi medis militer tahun 2020 menemukan kurang tidur menurunkan testosteron secara tajam pada Army Rangers saat pelatihan.
Riset sebelumnya juga mengaitkan testosteron rendah dengan cedera otak traumatis, isu besar bagi prajurit yang terpapar gelombang ledakan dari senjata dalam latihan dan pertempuran. Paparan semacam itu disebut makin relevan dalam konteks peperangan modern, termasuk operasi drone.
Phillips menekankan bahwa pada pria muda, testosteron rendah sering merupakan gejala dari masalah lain, bukan penyakit utama. Jika akar masalahnya stres, kurang tidur, atau cedera, maka “memperbaiki angka” dengan hormon bisa menjadi logika terbalik.
Skrining menyeluruh tanpa konteks berisiko melahirkan diagnosis berlebihan. Phillips memperingatkan satu tes untuk seluruh pasukan dapat melabeli ribuan prajurit sehat sebagai “low T,” padahal kadar testosteron bisa berfluktuasi dari jam ke jam.
Seorang peneliti kesehatan militer di Departemen Pertahanan menyambut fokus baru pada kesehatan hormonal karena tuntutan fisik dinas. Namun ia mempertanyakan mengapa kebijakan ini tidak sekaligus menata layanan hormonal untuk perempuan, yang sering terlambat didiagnosis untuk kondisi seperti endometriosis dan PCOS.
Rita Graham dari Service Women’s Action Network menyebut advokat telah “memohon bertahun-tahun” agar sistem kesehatan militer dan veteran memperhatikan perawatan hormonal bagi perempuan. Ia juga mengutip riset yang menyiratkan perempuan militer bisa mengalami menopause lebih dini dibanding warga sipil.
Dari sisi manfaat, menaikkan testosteron dapat meningkatkan energi dan massa otot. Tetapi risikonya juga nyata, termasuk infertilitas, masalah jantung jangka panjang, dan ketergantungan pada terapi karena tubuh berhenti memproduksi hormon sendiri.
Endokrinolog sebelumnya mengatakan kepada Business Insider bahwa manfaat terapi pengganti hormon pada pria low T cenderung moderat. Urolog Justin Dubin menyebut perhatian pada testosteron bisa menjadi “gerbang kesehatan pria” untuk memeriksa tekanan darah, diabetes, dan penyakit jantung.
Di populasi umum, kadar testosteron pria Amerika dilaporkan menurun dibanding generasi kakek mereka, dan isu ini sering digaungkan Menteri Kesehatan Robert F. Kennedy Jr. Kennedy menyebut TRT bagian dari regimen umur panjangnya, dan di bawah arahannya FDA mulai melonggarkan sebagian pembatasan TRT.
Masalahnya, Pentagon belum merinci definisi “low T” dan protokol terapi yang akan dipakai. Tanpa standar yang ketat, manfaat kebijakan bisa kabur dan efek sampingnya justru membesar.
Penilaian kesehatan berkala militer yang dijadikan pintu masuk skrining bukan pemeriksaan fisik komprehensif. Prosesnya banyak bergantung pada kuesioner elektronik yang ditinjau tenaga medis, dengan kualitas konsultasi tatap muka yang bisa sangat bervariasi.
Feigl-Ding menilai panduan baru untuk tes menyapu dan terapi pengganti pada semua usia 30+ bisa membingungkan. Ia memperingatkan kebijakan ini berpotensi berbahaya bila ambang batas dan tindak lanjutnya tidak jelas.
Kebijakan tes testosteron Pentagon tampak seperti jawaban cepat untuk masalah kompleks yang sebenarnya bernama kelelahan sistemik. Jika tujuan resminya “optimasi performa,” maka yang paling logis adalah memperbaiki tidur, beban latihan, pemulihan, dan kesehatan mental terlebih dahulu.
Testosteron rendah pada prajurit muda bisa menjadi alarm, bukan target. Mengubah alarm menjadi resep TRT berisiko menormalisasi ketergantungan hormon, sekaligus menutupi penyebab struktural seperti kultur kerja ekstrem dan kurangnya pemulihan.
Ada juga dimensi politik-kultural yang sulit diabaikan, karena testosteron diperlakukan sebagai simbol daya tempur. Ketika negara mengukur “maskulinitas biologis” dalam angka laboratorium, kebijakan bisa bergeser dari kesehatan menjadi ideologi.
Yang paling menggelisahkan adalah potensi ketimpangan layanan, karena perempuan militer kembali merasa tertinggal dalam akses perawatan hormonal. Jika Pentagon serius soal “longevity,” maka kesehatan reproduksi dan hormonal perempuan seharusnya menjadi bagian desain, bukan catatan kaki.
Militer memang membutuhkan prajurit kuat, tetapi kekuatan tidak identik dengan hormon tinggi. Ketangguhan adalah hasil ekosistem, dan ekosistem tidak bisa digantikan dengan suntikan.
Kebijakan skrining testosteron dapat menjadi pintu masuk memperbaiki kesehatan pria di militer, tetapi hanya jika diagnosis ketat, indikasi jelas, dan terapi tidak dijadikan jalan pintas. Tanpa itu, program ini berisiko melahirkan overdiagnosis, overprescription, serta efek samping yang justru menggerus kesiapan tempur.
Pertanyaan akhirnya sederhana namun menentukan: apakah Pentagon ingin membangun prajurit yang lebih sehat, atau sekadar mengejar angka “High T” sebagai citra kekuatan. Jika jawabannya kesehatan, maka yang harus ditinggikan terlebih dahulu adalah kualitas tidur, pemulihan, dan layanan medis yang adil bagi semua gender.
(Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)