Galaksi Bima Sakti Telan Galaksi Kerdil 11,8 Miliar Tahun Lalu
ORBITINDONESIA.COM – Bima Sakti, galaksi spiral tempat Matahari berada, ternyata membesar lewat “kanibalisme kosmik” sejak masa bayi alam semesta. Riset baru menegaskan Bima Sakti menelan galaksi kerdil sekitar 11,8 miliar tahun lalu, sebuah merger galaksi tertua yang pernah terdeteksi dalam sejarahnya.
Selama ini, astronom berdebat: apakah pertumbuhan awal Bima Sakti terutama terjadi karena pembentukan bintang dari dalam, atau karena merger galaksi dengan tetangga yang lebih kecil. Menjawabnya penting, karena jejak pertumbuhan awal menentukan sebaran bintang, gas, dan materi gelap yang membentuk struktur galaksi hingga kini.
Artikel sumber Reuters dari Washington melaporkan temuan ini berdasarkan pengamatan gugus bintang di wilayah pusat Bima Sakti. Temuan itu dipublikasikan di jurnal Nature Astronomy dan dipimpin astrofisikawan Davide Massari dari INAF, Bologna.
Para peneliti memeriksa gugus-gugus bintang yang berkumpul dekat pusat galaksi, di wilayah terdalam sekitar 20.000 tahun cahaya. Mereka memakai teleskop Hubble dan Gaia untuk mengukur usia, komposisi kimia, dan lintasan gerak bintang-bintang tersebut.
Hasilnya mengarah pada satu peristiwa: Bima Sakti menelan galaksi kerdil sekitar 11,8 miliar tahun lalu, ketika usia alam semesta masih kurang dari 15% dari sekarang. Peristiwa ini terjadi kira-kira 2 miliar tahun setelah Big Bang, sehingga menjadi merger galaksi paling awal yang diketahui dalam riwayat Bima Sakti.
Galaksi yang ditelan itu diklasifikasikan sebagai dwarf galaxy, jauh lebih kecil dari Bima Sakti. Saat merger terjadi, massanya diperkirakan setara 500 juta kali massa Matahari dalam bentuk bintang, sekitar seperempat ukuran Bima Sakti pada masa itu.
Galaksi kerdil tersebut diberi nama Low-energy-Kraken-Heracles (LKH), merujuk pada tiga studi sebelumnya yang mengusulkan kemungkinan merger purba semacam ini. Penamaan itu menandai bahwa ide “merger pertama” bukan spekulasi baru, tetapi kini mendapat bukti yang disebut peneliti sebagai tidak ambigu.
Massari menyatakan, “Temuan kunci riset kami adalah penemuan yang tidak ambigu atas peristiwa merger pertama yang dialami galaksi kita saat masih bayi.” Klaim “tidak ambigu” penting, karena pusat galaksi adalah wilayah paling rumit untuk dibaca akibat kepadatan bintang dan debu antarbintang.
Menariknya, dampak merger berbeda untuk bintang dan gas. Menurut Massari, dari sisi bintang merger relatif “damai” tanpa tabrakan langsung antarbintang, tetapi dari sisi gas lebih “eksplosif” dan diduga memicu pembentukan banyak bintang baru.
Di sini, kata kuncinya adalah pasokan. Merger tidak hanya menambah populasi bintang, tetapi juga menyuntikkan gas antarbintang yang menjadi bahan bakar lahirnya bintang, serta materi gelap yang membentuk “kerangka gravitasi” galaksi.
Namun bukti ini juga menegaskan keterbatasan observasi. Banyak bintang asal LKH diduga masih “terkubur” di wilayah dalam Bima Sakti, sebagian berada di dalam gugus bintang, tetapi sulit diidentifikasi karena debu yang menutupi pandangan.
Temuan LKH juga perlu dibaca bersama dua merger besar lain yang sudah diketahui. Bima Sakti menyerap Gaia-Sausage-Enceladus sekitar 1,8 miliar tahun setelah merger LKH, dan dalam sekitar 6 miliar tahun terakhir terus berinteraksi serta bergabung dengan galaksi kerdil Sagittarius.
Riset ini menggeser cara kita memandang “asal-usul” Bima Sakti: bukan sekadar galaksi yang tumbuh organik, melainkan hasil akumulasi dan integrasi berulang. Jika merger pertama terjadi sedini itu, maka “identitas” Bima Sakti sejak awal adalah hibrida, campuran dari banyak sejarah kecil yang terseret gravitasi.
Di ruang publik, kata “menelan” mudah terdengar sensasional, tetapi justru itulah pelajaran sainsnya. Evolusi galaksi bukan narasi rapi, melainkan rangkaian peristiwa yang sebagian besar tidak terlihat oleh mata, tetapi tercetak pada kimia bintang dan pola orbitnya.
Yang paling relevan bagi pembaca awam adalah konsekuensi jangka panjangnya. Massari menegaskan, “Setiap merger ini memengaruhi peristiwa yang mengarah pada pembentukan tata surya kita, dan pada akhirnya Bumi,” sehingga rekonstruksi masa lalu Bima Sakti membantu menjawab pertanyaan, “Dari mana kita berasal?”
Refleksi kritisnya: kita kerap mengira asal-usul adalah satu titik, padahal ia adalah proses. Dalam kosmologi modern, rumah kita terbentuk dari percampuran, dan unsur-unsur yang menyusun kehidupan mungkin berasal dari galaksi lain yang hilang nama, kecuali jejaknya yang tertinggal di pusat Bima Sakti.
Penemuan merger galaksi LKH menambahkan satu kepingan besar pada puzzle sejarah Bima Sakti, sekaligus memperjelas peran merger galaksi, pembentukan bintang, dan materi gelap dalam membangun galaksi spiral raksasa ini. Ia juga mengingatkan bahwa pusat galaksi masih menyimpan arsip yang sulit dibaca, tetapi bukan mustahil diungkap dengan data yang kian presisi.
Pada akhirnya, pertanyaan tentang Bima Sakti berujung pada pertanyaan tentang kita. Jika Bumi adalah hasil dari sejarah kosmik yang bertumpuk, berapa banyak “masa lalu asing” yang sebenarnya hidup di dalam unsur-unsur tubuh kita hari ini? (Orbit dari berbagai sumber, 19 Agustus 2026)