Denny JA: Awal Terbentuknya Kelas Baru: Kelas Digital yang Rentan (DVC)
AWAL TERBENTUKNYA KELAS BARU: KELAS DIGITAL YANG RENTAN (DVC)
- Hasil Riset Awal, Juni 2026
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Seorang pengemudi ojek daring mematikan mesin motornya setelah hampir tiga jam menunggu tanpa satu pun pesanan.
Kemarin ia memperoleh lima belas order. Hari ini, tidak satu pun. Tidak ada penjelasan, tidak ada kesalahan yang ia ketahui, tidak ada manusia yang bisa ia temui untuk bertanya.
Yang berubah hanyalah sesuatu yang tak terlihat: algoritma. Malam itu ia pulang membawa kecemasan, bukan penghasilan.
-000-
Dalam sejarah ilmu sosial, lahirnya kelas baru hampir selalu diawali oleh perubahan besar dalam cara manusia bekerja.
Revolusi Industri melahirkan proletariat, yaitu buruh yang menjual tenaga kepada pemilik modal. Globalisasi dan liberalisasi pasar melahirkan apa yang oleh Guy Standing disebut sebagai precariat, yaitu kelompok pekerja yang hidup tanpa kepastian kerja, tanpa jaminan sosial, dan tanpa masa depan yang stabil.
Kini dunia memasuki babak baru. Teknologi digital bukan hanya menciptakan jenis pekerjaan baru, tetapi juga melahirkan bentuk kerentanan baru.
Kerentanan itu tidak lagi semata-mata berasal dari pemilik modal, mandor, atau perusahaan yang terlihat. Ia lahir dari sistem digital yang bekerja tanpa wajah.
Ia hadir melalui algoritma yang mengatur siapa memperoleh pelanggan, siapa kehilangan pendapatan, siapa tampil di halaman pertama, dan siapa tenggelam tanpa jejak.
Pertanyaan besarnya adalah ini: apakah perubahan tersebut cukup mendasar sehingga kita perlu berbicara tentang lahirnya kelas sosial baru?
Pertanyaan itulah yang menjadi titik awal penelitian ini. Bagi saya, pertanyaan itu bukan sekadar akademik. Puluhan tahun saya mempelajari perubahan masyarakat Indonesia melalui survei, riset politik, dan berbagai penelitian sosial.
Saya menyaksikan bagaimana kelas menengah tumbuh, bagaimana demokrasi berubah, dan bagaimana teknologi perlahan memasuki hampir seluruh ruang kehidupan.
Namun beberapa tahun terakhir saya merasakan sesuatu yang berbeda. Semakin banyak orang berkata, “Saya bekerja sangat keras, tetapi saya tidak lagi tahu siapa yang menentukan hasil kerja saya.”
Kalimat itu diucapkan oleh pengemudi daring, kurir, freelancer, content creator, dan seller live commerce. Mereka berasal dari profesi yang berbeda, tetapi mengeluhkan pengalaman yang hampir sama.
Di situlah intuisi ilmiah mulai bekerja. Mungkin persoalannya bukan lagi profesi. Mungkin persoalannya adalah struktur baru yang mengikat mereka semua.
-000-
Penelitian ini dilaksanakan oleh LSI Denny JA, Divisi Khusus.
Riset menggunakan pendekatan kualitatif eksploratif melalui Focus Group Discussion yang dilaksanakan pada 23 Juni 2026 di Jakarta.
Sebanyak 30 partisipan dibagi ke dalam lima kelompok profesi: pengemudi ojek dan taksi daring, kurir serta pekerja logistik platform, freelancer digital yang mencakup programmer, desainer, dan editor, content creator serta influencer, dan seller live commerce serta pelaku ekonomi digital berbasis platform.
Seluruh peserta menjadikan platform digital sebagai sumber utama penghasilan, telah bekerja melalui aplikasi setidaknya tiga hingga enam bulan, dan berdomisili di Jabodetabek.
Data dianalisis melalui transkripsi, open coding, axial coding, selective coding, dan analisis tematik untuk menemukan pola pengalaman yang berulang lintas profesi.
Yang dicari bukan sekadar keluhan. Yang dicari adalah pola. Dalam ilmu sosial, sebuah kelas baru tidak lahir karena banyak orang menderita. Ia lahir ketika banyak orang mengalami pola pengalaman yang sama, menghadapi struktur kekuasaan yang sama, dan memiliki bentuk kerentanan yang khas.
-000-
Sebuah teori tentang lahirnya kelas sosial baru tidak dapat bertumpu pada satu jenis bukti. Focus Group Discussion membuka jendela ke pengalaman hidup para pekerja platform. Namun pengalaman itu baru memperoleh makna ketika dibaca bersama perubahan sosial yang lebih luas.
Karena itu, konsep Digitally Vulnerable Class (DVC) dalam esai ini ditopang oleh tiga lapisan bukti empiris.
Pertama, perubahan struktur pasar kerja. Dalam satu dekade terakhir, jutaan orang memasuki ekonomi platform. Walau profesinya beragam, mereka berbagi satu kenyataan: akses terhadap pelanggan, pendapatan, dan peluang kerja semakin ditentukan oleh algoritma. Ketergantungan pada sistem komputasi telah menjadi ciri umum pekerjaan digital.
Kedua, temuan riset internasional. Berbagai penelitian di banyak negara memperlihatkan pola yang serupa: algoritma yang tidak transparan, pendapatan yang fluktuatif, lemahnya perlindungan sosial, dan minimnya ruang untuk menggugat keputusan platform. Nama platform boleh berbeda, tetapi bentuk kerentanannya berulang.
Ketiga, konsistensi pengalaman lintas profesi. Dalam penelitian ini, pengemudi, kurir, freelancer, content creator, influencer, hingga penjual live commerce tidak pernah menyusun cerita bersama. Namun mereka mengisahkan kegelisahan yang sama: takut pada perubahan algoritma, kehilangan visibilitas, turunnya pesanan tanpa penjelasan, dan ketidakmampuan memahami logika sistem yang menentukan masa depan ekonomi mereka.
Bagi sosiologi, pengulangan pengalaman pada kelompok yang berbeda jarang sekadar kebetulan. Ia sering menjadi penanda bahwa yang sedang bekerja bukan masalah individual, melainkan sebuah struktur. Dalam konteks ini, sumber kerentanan tidak lagi terutama berasal dari jenis pekerjaan, tetapi dari mekanisme yang sama: algoritma platform.
Karena itu, esai ini tidak mengklaim bahwa Digitally Vulnerable Class telah menjadi kategori yang final. Yang diajukan adalah sebuah hipotesis teoritis dengan pijakan empiris yang kuat. Jika penelitian di berbagai negara terus menemukan pola yang serupa, DVC berpeluang berkembang menjadi salah satu konsep penting untuk memahami stratifikasi sosial dalam kapitalisme algoritma abad ke-21.
-000-
Dua buku ini memperkaya wawasan kita tentang topik yang dimaksud.
Buku pertama, berjudul: The Precariat: The New Dangerous Class
Guy Standing, Bloomsbury Academic
2011
Guy Standing memperkenalkan konsep precariat sebagai kelas sosial yang hidup dalam ketidakpastian kerja akibat fleksibilitas pasar tenaga kerja. Mereka tidak memiliki kontrak tetap, jaminan sosial, maupun identitas pekerjaan yang stabil.
Menurut Standing, precariat bukan sekadar kelompok miskin, tetapi kelompok yang kehilangan kepastian masa depan sehingga rentan terhadap frustrasi sosial dan politik.
Buku ini penting karena menjelaskan bagaimana globalisasi dan deregulasi pasar menciptakan jutaan pekerja yang berpindah dari satu pekerjaan ke pekerjaan lain tanpa perlindungan memadai. Namun hubungan kerja precariat masih terutama ditentukan oleh perusahaan, kontrak, dan pasar tenaga kerja konvensional.
Mereka masih relatif mengetahui siapa pemberi kerja mereka dan mengapa pekerjaan mereka hilang. Di sinilah riset DVC bergerak lebih jauh.
Pekerja platform bukan hanya kehilangan kepastian kerja, tetapi juga kehilangan kemampuan memahami sistem yang menentukan nasib ekonominya. Mereka bukan hanya rentan terhadap pasar, tetapi juga rentan terhadap algoritma yang tidak transparan.
-000-
Buku kedua: The Age of Surveillance Capitalism, Shoshana Zuboff, PublicAffairs, 2019
Shoshana Zuboff menjelaskan bahwa perusahaan digital modern tidak lagi sekadar menjual produk atau layanan. Mereka mengumpulkan data perilaku manusia dalam skala besar, lalu menggunakan data itu untuk memprediksi dan memengaruhi tindakan pengguna.
Data berubah menjadi sumber keuntungan utama, sementara algoritma menjadi instrumen pengambilan keputusan yang semakin menentukan kehidupan sehari-hari.
Buku ini membantu menjelaskan mengapa pekerja platform mulai merasa hidup mereka dikendalikan oleh sistem yang tidak mereka pahami.
Namun riset DVC memperluas analisis Zuboff. Yang menjadi pusat perhatian bukan hanya eksploitasi data, tetapi bagaimana algoritma mengatur akses terhadap pekerjaan, pendapatan, reputasi, pelanggan, dan harapan hidup pekerja digital.
Dengan demikian, penelitian ini berusaha menjembatani teori kapitalisme pengawasan dengan teori kelas sosial kontemporer.
-000-
Temuan awal riset ini menunjukkan satu hal penting: kami tidak menemukan lima dunia kerja yang sepenuhnya terpisah. Kami menemukan satu pola kehidupan yang berulang.
Driver mengeluhkan algoritma. Kurir mengeluhkan algoritma. Content creator mengeluhkan algoritma. Seller mengeluhkan algoritma.
Bahkan freelancer yang relatif lebih mandiri tetap mengakui bahwa reputasi digital, portofolio, rating, dan sistem platform memengaruhi peluang ekonominya, meskipun ketergantungannya lebih rendah dibanding driver, kurir, atau creator.
Mereka tidak saling mengenal. Mereka bekerja pada platform yang berbeda. Namun mereka menceritakan kegelisahan yang hampir identik.
Pendapatan tiba-tiba turun tanpa penjelasan. Order menghilang. Konten tidak lagi tampil. Akun terkena suspend. Komisi berubah. Peraturan berganti. Semua terjadi tanpa dialog, tanpa negosiasi, dan sering kali tanpa kepastian.
Salah satu peserta berkata bahwa ia pernah sehari mendapat lima belas order, tetapi esoknya hanya satu atau dua, meskipun tetap bekerja seharian.
Seorang kurir berkata akun yang disuspend seharian langsung membuatnya bertanya, “Anak saya makan apa?” Seorang seller mengatakan bahwa bila akun hilang, data pelanggan tidak bisa dibawa, komisi hilang, dan ia harus memulai lagi dari nol.
Kalimat-kalimat ini bukan hanya keluhan ekonomi. Ia adalah kesaksian tentang hilangnya kendali manusia atas sumber nafkahnya.
Dalam coding penelitian, pola tersebut membentuk enam dimensi kerentanan: kerentanan ekonomi, kerentanan algoritma, kerentanan hak, kerentanan pengakuan, kerentanan harapan, dan solidaritas kelas.
Di dalamnya muncul tema-tema kuat seperti ketergantungan pada algoritma, hubungan usaha dan hasil yang kabur, reputasi digital sebagai aset ekonomi, ketakutan kehilangan akses, data yang tidak dikendalikan pekerja, dan algoritma sebagai kekuasaan baru.
Temuan inilah yang paling penting. Selama ini kita mengira teknologi hanya mengubah alat kerja. Ternyata teknologi juga mengubah struktur sosial. Ia mengubah cara manusia memperoleh nafkah, siapa yang memiliki kekuasaan, dan siapa yang menentukan peluang hidup.
-000-
Apa yang membedakan Digitally Vulnerable Class dengan proletariat dan precariat?
Proletariat menjual tenaga kepada pemilik modal. Precariat menjual tenaga tanpa kepastian. DVC menjual tenaga, kreativitas, reputasi, data, dan identitas digitalnya kepada sebuah sistem yang tidak pernah benar-benar mereka kenal.
Yang mereka hadapi bukan lagi mandor, bukan pula manajer personalia. Yang mereka hadapi adalah algoritma. Algoritma tidak marah, tidak tersenyum, dan tidak pernah menjelaskan alasannya.
Namun ia mampu menentukan siapa memperoleh pelanggan, siapa kehilangan pendapatan, siapa muncul di halaman pertama, dan siapa menghilang dari layar jutaan pengguna.
Karl Marx menjelaskan bahwa konflik utama kapitalisme terjadi antara pemilik modal dan buruh. Hubungan kekuasaan masih jelas. Buruh mengetahui siapa yang mempekerjakan mereka dan siapa yang menentukan upah mereka. Karena hubungan itu nyata, konflik pun nyata.
Negosiasi dapat dilakukan, serikat buruh dapat dibentuk, dan demonstrasi memiliki sasaran yang jelas.
Sebaliknya, pekerja digital menghadapi sesuatu yang jauh lebih kabur. Mereka tidak selalu mengetahui mengapa order turun, mengapa akun kehilangan jangkauan, mengapa video dengan kualitas sama menghasilkan penonton yang berbeda, mengapa tarif berubah, mengapa akun disuspend, atau mengapa komisi dipotong.
Pertanyaan-pertanyaan itu sering berakhir tanpa jawaban. Hubungan kekuasaan berubah menjadi hubungan dengan sistem yang nyaris tidak memiliki wajah.
Guy Standing menggambarkan precariat sebagai kelas yang hidup dalam ketidakpastian pekerjaan. Penelitian ini menunjukkan bahwa pekerja digital mengalami sesuatu yang lebih dalam: ketidakpastian sebab.
Mereka bukan hanya tidak mengetahui apakah besok memperoleh pekerjaan. Mereka juga tidak mengetahui mengapa hari ini mereka kehilangan pekerjaan.
Dalam masyarakat industri, hubungan sebab akibat masih dapat dijelaskan. Produksi turun, permintaan menurun, perusahaan merugi, lalu terjadi pemutusan hubungan kerja.
Dalam masyarakat digital, hubungan sebab akibat sering menghilang. Pendapatan turun tanpa penjelasan. Viewers hilang tanpa alasan. Order berhenti tanpa pemberitahuan. Kerja keras meningkat, tetapi hasil justru menurun. Di sinilah hubungan antara usaha dan hasil menjadi kabur.
Precariat hidup dalam ketidakpastian kerja akibat fleksibilitas pasar dan lemahnya perlindungan sosial. DVC menanggung lapisan kerentanan yang lebih baru: hidupnya semakin ditentukan oleh algoritma yang tak mereka pahami, oleh patahnya hubungan sebab-akibat antara usaha dan hasil. Juga oleh reputasi digital dan data yang menjadi aset ekonomi tetapi dikendalikan platform, bukan pekerja.
-000-
Temuan paling revolusioner dari riset ini adalah berubahnya algoritma dari alat teknis menjadi otoritas sosial. Dalam persepsi para peserta, algoritma telah menjadi kekuasaan baru.
Ia menentukan distribusi order, reputasi, visibilitas, akses pelanggan, performa akun, dan besarnya pendapatan. Dalam beberapa kasus, ia menentukan apakah seseorang masih dapat membeli beras minggu depan.
Dahulu birokrasi menentukan hidup warga negara. Kemudian pasar menentukan hidup pekerja. Kini algoritma mulai menentukan peluang ekonomi jutaan manusia. Perubahan ini sangat besar, tetapi ironisnya kita masih sering menjelaskannya dengan teori lama.
Namun riset ini juga menemukan paradoks penting. Hampir seluruh peserta tetap memandang platform digital sebagai gerbang ekonomi. Mereka tidak membencinya.
Mereka justru membutuhkannya. Platform membuka kesempatan yang sebelumnya tidak pernah mereka miliki. Seorang ibu rumah tangga dapat menjadi seller nasional.
Seorang penyanyi lokal dapat memperoleh undangan manggung. Seorang desainer memperoleh klien luar negeri. Seorang programmer dibayar dalam dolar.
Teknologi benar-benar membuka pintu kesempatan baru. Namun pada saat yang sama, pintu itu hanya memiliki satu penjaga: algoritma. Inilah inti DVC. Platform memberi peluang, tetapi sekaligus menciptakan kerentanan. Semakin besar peluang yang dibuka, semakin besar pula ketergantungan yang lahir.
Saya beberapa kali merenungkan hasil penelitian ini sendirian, terutama setelah membaca kembali transkrip demi transkrip. Ada kalimat yang terus mengganggu pikiran saya: “Bekerja keras belum tentu menghasilkan kehidupan yang lebih baik.”
Kalimat itu dahulu mungkin terdengar seperti keluhan biasa. Kini saya memandangnya sebagai gejala perubahan peradaban.
Sejak kecil kita diajarkan bahwa kerja keras adalah jalan menuju masa depan. Namun dalam ekosistem digital, kerja keras saja ternyata tidak lagi cukup. Yang bekerja bukan hanya manusia. Yang bekerja juga algoritma.
Manusia dapat meningkatkan kualitas dirinya, tetapi ia tidak dapat mengendalikan perubahan parameter sistem. Di situlah lahir kecemasan baru, bukan kecemasan karena malas, melainkan kecemasan karena kehilangan kendali.
Yang hilang bukan hanya pendapatan. Yang mulai hilang adalah keyakinan bahwa masa depan dapat dibangun melalui usaha sendiri.
-000-
Namun apakah DVC benar-benar merupakan kelas sosial baru?
Di sinilah kontra argumen perlu diajukan. Sebagian ilmuwan mungkin berpendapat bahwa DVC hanyalah variasi baru dari precariat digital. Yang berubah hanyalah teknologi, sedangkan substansi hubungan kerja tetap sama. Pendapat ini layak dipertimbangkan.
Memang terdapat irisan antara DVC dan precariat. Keduanya sama-sama mengalami ketidakpastian kerja, perlindungan lemah, posisi tawar rendah, dan mobilitas sosial terbatas. Namun riset ini menunjukkan adanya unsur yang tidak dapat dijelaskan sepenuhnya oleh konsep precariat.
Kerentanan utama DVC bukan hanya berasal dari fleksibilitas pasar tenaga kerja. Ia berasal dari ketergantungan terhadap sistem algoritmik yang tidak transparan, hilangnya hubungan yang jelas antara usaha dan hasil, reputasi digital sebagai aset ekonomi, ketakutan kehilangan akses digital, data yang tidak dimiliki pekerja, dan kekuasaan algoritma yang mengatur peluang hidup sehari-hari.
Pola ini muncul lintas profesi, dari pengemudi hingga seller live commerce, meskipun intensitasnya berbeda.
Karena itu, DVC belum perlu disebut sebagai kelas sosial yang telah mapan. Lebih tepat jika ia disebut sebagai embrio kelas sosial baru. Ia masih tumbuh, masih harus diuji, dan masih perlu diteliti di berbagai negara, platform, serta periode waktu.
Namun benih-benihnya telah terlihat cukup jelas. Sejarah ilmu pengetahuan selalu dimulai dari keberanian mengenali benih sebelum ia menjadi hutan.
Sejarah menunjukkan bahwa setiap kelas sosial baru lahir bukan hanya karena cara manusia mencari nafkah berubah, tetapi juga karena cara manusia menghadapi ketidakpastian ikut berubah.
Dulu ketidakpastian datang dari musim, perang, atau pemilik modal. Kini ketidakpastian datang dari algoritma. Nasib ekonomi seseorang dapat berubah tanpa ia pernah memahami sebabnya. Di sinilah letak kebaruan DVC.
Perbedaannya bukan semata-mata soal pendapatan atau pekerjaan, melainkan soal pengetahuan. Sebagian orang memahami logika sistem.
Sebagian lain hanya menerima akibatnya. Maka DVC bukan hanya kelas ekonomi baru, tetapi juga kelas yang dipisahkan oleh kemampuan memahami mekanisme yang mengatur hidupnya
-000-
Enam dimensi DVC menunjukkan bahwa kerentanan pekerja digital tidak berdiri sendiri. Ia membentuk ekosistem. Setiap kerentanan memperkuat kerentanan lain.
Pertama adalah kerentanan ekonomi. Pendapatan pekerja digital naik turun secara tajam dan sulit diprediksi. Bagi sebagian peserta, platform menjadi sumber utama bahkan satu-satunya penghasilan. Ketika order hilang, akun disuspend, atau viewers turun, kehidupan ekonomi langsung terganggu.
Fleksibilitas yang semula menjadi daya tarik berubah menjadi fleksibilitas semu: bebas bekerja, tetapi harus selalu online.
Kedua adalah kerentanan algoritma. Algoritma menentukan order, viewers, rating, reputasi, visibilitas, dan pendapatan. Yang paling mengkhawatirkan bukan hanya kekuasaan algoritma, tetapi ketidakjelasannya.
Pekerja tidak mengetahui mengapa sistem berubah, bagaimana keputusan dibuat, dan bagaimana memperbaikinya. Hubungan manusia dan teknologi berubah menjadi hubungan yang nyaris feodal. Hanya saja tuannya kini tersembunyi di balik kode.
Ketiga adalah kerentanan hak. Para pekerja digital memikul risiko seperti pekerja tetap, tetapi sering tidak memiliki perlindungan yang setara.
Mereka menghadapi kecelakaan, penipuan, suspend akun, perubahan kebijakan, dan sengketa pelanggan, tetapi mekanisme pengaduan sering lambat, otomatis, atau tidak memuaskan. Status “mitra” membuat tanggung jawab platform menjadi kabur.
Keempat adalah kerentanan pengakuan. Banyak pekerjaan digital telah menjadi sumber nafkah utama, tetapi belum sepenuhnya diakui sebagai profesi stabil. Freelancer masih dianggap belum memiliki pekerjaan tetap.
Content creator dianggap hanya bermain media sosial. Seller digital dianggap sekadar jualan online. Masyarakat masih menggunakan ukuran lama untuk menilai pekerjaan baru.
Kelima adalah kerentanan harapan. Banyak peserta tetap bekerja keras, tetapi tidak ingin anaknya menempuh profesi yang sama. Jawaban itu sangat berarti.
Seseorang mungkin bertahan dalam suatu pekerjaan, tetapi ketika ia tidak ingin anaknya mengalami hal yang sama, ia sesungguhnya sedang kehilangan keyakinan terhadap masa depan profesinya. Harapan masih ada, tetapi semakin rapuh. Harapan masih menjadi bahan bakar, tetapi tangkinya semakin tipis.
Keenam adalah solidaritas kelas. Setiap kelas sosial dalam sejarah lahir melalui pengalaman bersama. Proletariat lahir dari pabrik. Petani lahir dari desa.
Kelas menengah lahir dari pendidikan dan profesi. DVC lahir dari pengalaman digital yang sama. Driver merasa senasib dengan kurir. Seller memahami kecemasan influencer. Freelancer memahami arti reputasi digital. Mereka memang bekerja dalam profesi berbeda, tetapi hidup di bawah logika sistem yang sama.
Solidaritas ini masih informal. Ia belum menjadi organisasi kuat atau gerakan kolektif yang mampu memengaruhi kebijakan platform. Namun semua gerakan besar dalam sejarah selalu dimulai dari percakapan kecil di antara mereka yang merasa mengalami nasib sama.
Kesadaran kelas tidak lahir dalam sehari. Ia tumbuh ketika seseorang berkata, “Ternyata bukan hanya saya yang mengalami ini.”
-000-
Penelitian ini tentu memiliki keterbatasan. Wilayahnya masih terbatas pada Jabodetabek. Metodenya berbasis FGD sehingga perlu diperkuat dengan observasi lapangan, wawancara mendalam, survei kuantitatif, dan penelitian longitudinal.
Variabel lain seperti tingkat pendidikan, tingkat pendapatan, pekerjaan utama atau sampingan, serta variasi antarplatform belum dianalisis mendalam.
Riset ini juga menemukan bahwa tidak semua pekerja digital memiliki tingkat kerentanan yang sama. Freelancer profesional memiliki ketergantungan algoritmik lebih rendah karena reputasi, portofolio, dan klien dapat dibawa lintas platform.
Seller yang memiliki toko fisik lebih tangguh dibanding affiliate yang sepenuhnya hidup dari platform. Sebagian content creator membangun akun cadangan untuk mengurangi risiko suspend. Artinya, DVC bukan kelompok homogen. Ia adalah spektrum kerentanan.
Justru karena adanya variasi itulah konsep DVC menjadi menarik. Sebuah kelas sosial tidak pernah lahir dari keseragaman mutlak. Ia lahir karena terdapat struktur pengalaman yang lebih dominan daripada perbedaannya.
Setelah membaca seluruh transkrip, saya tidak hanya melihat data. Saya melihat wajah manusia. Seorang ibu menjadi pengemudi daring karena penghasilan suaminya tidak cukup.
Seorang kurir tetap bekerja setelah dua kali mengalami kecelakaan karena keluarganya harus makan. Seorang freelancer terus belajar agar tidak digantikan kecerdasan buatan.
Seorang content creator hidup dalam kecemasan setiap kali algoritma berubah. Seorang seller bangun dini hari untuk siaran langsung, tanpa pernah tahu apakah hari itu tokonya ramai atau sepi.
Mereka berasal dari dunia yang berbeda. Namun mereka menjalani bab yang sama dalam sejarah manusia: bab ketika teknologi membuka kesempatan yang belum pernah sebesar ini, sekaligus menciptakan ketidakpastian yang belum pernah sedalam ini.
-000-
Penelitian ini tidak boleh berhenti sebagai laporan akademik. Ia perlu menjadi awal percakapan yang lebih luas antara akademisi dan pembuat kebijakan, antara perusahaan platform dan pekerja digital, antara pengembang teknologi dan ahli etika, antara ekonom, sosiolog, ilmuwan data, psikolog, dan pembuat undang-undang.
Jika DVC benar-benar berkembang menjadi kelas sosial baru, tantangannya tidak dapat diselesaikan oleh satu disiplin ilmu. Ia membutuhkan bahasa baru, kerangka hukum baru, kebijakan baru, dan mungkin kontrak sosial baru.
Revolusi algoritma tidak boleh hanya melahirkan efisiensi. Ia juga harus melahirkan keadilan. Teknologi seharusnya memperluas martabat manusia, bukan mempersempit ruang kendalinya.
Pada akhirnya, setiap zaman memiliki pertanyaan besarnya sendiri. Abad kesembilan belas bertanya tentang hubungan antara buruh dan pabrik. Abad kedua puluh bertanya tentang hubungan antara negara dan pasar. Abad kedua puluh satu mulai bertanya tentang hubungan antara manusia dan algoritma.
Pertanyaan itulah yang sedang kami teliti. Mungkin beberapa dekade dari sekarang, sejarah akan mencatat bahwa pada masa inilah dunia mulai menyadari lahirnya bentuk kerentanan yang sama sekali baru: kerentanan digital, kerentanan algoritmik, dan kerentanan yang perlahan membentuk wajah kelas sosial baru.
Karena setiap peradaban tidak dikenang oleh kecanggihan teknologi yang diciptakannya, melainkan oleh sejauh mana teknologi itu tetap memuliakan manusia.
Menghadapi DVC, negara tidak bisa lagi memakai regulasi perburuhan usang. Diperlukan undang-undang transparansi algoritma yang memaksa platform membuka parameter sistemnya, memberikan hak banding manusiawi atas pembekuan akun, serta menjamin portabilitas data reputasi pekerja.
Langkah ini penting agar mitigasi risiko tidak melulu menjadi beban individu pekerja, melainkan tanggung jawab bersama demi mewujudkan ekosistem digital yang adil dan memanusiakan manusia.
Di masa lalu, orang miskin takut kehilangan tanah. Buruh takut kehilangan pabrik. Hari ini, kelas digital yang rentan takut kehilangan akses ke platform dan algoritma.*
-000-
Referensi
1. Standing, Guy. The Precariat: The New Dangerous Class. Bloomsbury Academic, 2011.
2. Zuboff, Shoshana. The Age of Surveillance Capitalism: The Fight for a Human Future at the New Frontier of Power. PublicAffairs, 2019.
3. Marx, Karl. Capital: A Critique of Political Economy, Volume I. Penguin Classics, edisi modern berdasarkan terbitan pertama 1867.
4. Weber, Max. Economy and Society. University of California Press, 1978.
5. Castells, Manuel. The Rise of the Network Society. Wiley-Blackwell, Second Edition, 2010.
6. Srnicek, Nick. Platform Capitalism. Polity Press, 2017.
7. Scholz, Trebor, ed. Digital Labor: The Internet as Playground and Factory. Routledge, 2013.
8. Casilli, Antonio A. Waiting for Robots: The Hired Hands of Automation. University of Chicago Press, 2021.
9. LSI Denny JA, Divisi Khusus. Laporan Focus Group Discussion: Digital Vulnerable Class (DVC), Eksplorasi Kerentanan Pekerja Platform dan Potensinya sebagai Cikal Bakal Kelas Sosial Baru. Jakarta, Juli 2026.
10. LSI Denny JA, Divisi Khusus. Data Koding Enam Dimensi DVC. Jakarta, Juli 2026.
11. LSI Denny JA, Divisi Khusus. Catatan Temuan FGD DVC. Jakarta, Juli 2026.
-000-
Ratusan esai Denny JA soal filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, review buku, film dan lagu, bisa dilihat di FaceBook Denny JA's World