HIV, ARV, dan PrEP: Netty PKS Ingatkan Risiko Tak Hilang

Fraksi PKS

Fraksi PKS

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – HIV, ARV, dan PrEP kembali jadi sorotan setelah anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani mengingatkan publik agar tidak merasa aman hanya karena terapi antiretroviral dan obat pencegahan sudah tersedia. Ia menegaskan ARV bukan obat yang menyembuhkan, sementara PrEP hanya bekerja bila digunakan tepat dan disiplin.

Pesan Netty muncul di tengah kemajuan layanan HIV yang makin dikenal luas, dari ARV untuk menekan virus hingga PrEP untuk pencegahan pada kelompok berisiko. Kemajuan ini, menurutnya, bisa memunculkan ilusi bahwa perilaku seksual berisiko menjadi “lebih aman” tanpa konsekuensi.

Dalam pernyataannya, Netty menempatkan edukasi pencegahan sebagai agenda utama kebijakan, bukan sekadar respons setelah seseorang sudah terpapar risiko. Ia juga mengaitkan pencegahan dengan ketahanan keluarga, pendidikan karakter, dan nilai agama.

Secara medis, ARV adalah terapi jangka panjang yang menekan jumlah virus sehingga kesehatan orang dengan HIV terjaga dan risiko penularan dapat turun drastis bila viral load tidak terdeteksi. WHO menegaskan ARV bukan eradikasi virus, sehingga penghentian terapi bisa membuat virus meningkat kembali dan memperburuk kondisi klinis.

PrEP, di sisi lain, adalah strategi pencegahan yang efektif bila dikonsumsi sesuai protokol dan disertai tes HIV berkala. CDC dan WHO menekankan PrEP tidak melindungi dari infeksi menular seksual lain, sehingga penggunaan kondom, skrining IMS, dan edukasi perilaku tetap relevan.

Di titik ini, peringatan Netty menyasar problem komunikasi publik yang sering terjebak pada slogan “sudah ada obat” tanpa menjelaskan batasannya. Ketika pesan yang sampai hanya kemudahan akses, sebagian orang bisa mengabaikan disiplin terapi, tes rutin, atau pencegahan berlapis.

Namun, tantangan terbesar kebijakan HIV selalu berada pada dua kutub yang sama-sama berbahaya: lengah terhadap risiko, dan membangun stigma. Netty sendiri mengingatkan agar pencegahan tidak dilakukan dengan menghakimi orang dengan HIV, karena mereka tetap berhak atas layanan kesehatan dan perlakuan manusiawi.

Di Indonesia, stigma sering membuat orang enggan tes, menunda pengobatan, atau menyembunyikan statusnya dari pasangan dan keluarga. Padahal, semakin cepat seseorang terdiagnosis dan memulai ARV, semakin besar peluang menekan virus dan memutus rantai penularan.

Kebijakan yang efektif biasanya menggabungkan tiga hal: edukasi yang jujur, akses layanan yang mudah, dan perlindungan dari diskriminasi. Jika salah satunya lemah, maka ARV dan PrEP yang tersedia pun tidak otomatis menurunkan kasus secara berkelanjutan.

Pernyataan Netty kuat karena menolak narasi “teknologi menyelesaikan semuanya” dalam isu HIV. Ia mengingatkan bahwa pencegahan tetap bertumpu pada keputusan manusia, bukan sekadar ketersediaan obat.

Namun, penekanan pada moral dan larangan agama perlu disampaikan dengan kehati-hatian komunikasi agar tidak berubah menjadi generalisasi yang mengunci dialog kesehatan. Dalam praktiknya, pesan yang terlalu normatif dapat membuat kelompok rentan menjauh dari layanan, padahal mereka justru membutuhkan akses tes, konseling, dan pencegahan.

Jalan tengahnya adalah membedakan tegas antara edukasi risiko dan penghakiman identitas. Negara bisa menyampaikan faktor risiko penularan secara terbuka, sambil memastikan layanan kesehatan ramah, rahasia terjaga, dan stigma ditekan.

Netty juga tepat saat menuntut komunikasi publik yang komprehensif untuk generasi muda. Anak muda butuh informasi yang tidak menakut-nakuti, tetapi juga tidak memutihkan realitas bahwa HIV masih ada, masih menular, dan masih membutuhkan disiplin pencegahan.

ARV dan PrEP adalah kemajuan besar, tetapi keduanya bukan tiket bebas risiko, seperti yang ditegaskan Netty Prasetiyani. Pencegahan yang kuat tetap membutuhkan edukasi, tes rutin, perilaku aman, dan layanan yang bebas stigma.

Pertanyaan yang tersisa adalah ini: apakah kita ingin membangun kebijakan HIV yang membuat orang merasa aman untuk mencari pertolongan, atau justru membuat mereka diam karena takut dihakimi. Di sanalah ukuran kedewasaan publik diuji, karena kesehatan masyarakat tidak hanya soal obat, tetapi juga soal keberanian memahami dan melindungi sesama.

(Orbit dari berbagai sumber, 25 Juli 2026)