Gempa Venezuela La Guaira: Remaja Menggali Reruntuhan Cari Keluarga

The New York Times

The New York Times

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Gempa Venezuela di La Guaira mengubah dua remaja, Winder Delfín (17) dan Deivi (15), menjadi “tikus tanah” yang menggali terowongan di bawah reruntuhan demi menemukan ibu, adik, dan nenek mereka. Pada hari ke-25 pencarian, Winder melihat gaun bermotif bunga milik neneknya dan berbisik, “Ada mayat di dekat sini.”

Sebulan setelah dua gempa besar mengguncang Venezuela, La Guaira masih dipenuhi pencarian manual yang melelahkan dari fajar hingga jauh lewat senja. Para penyintas memanjat gunung puing dengan kapak dan palu godam, didorong obsesi untuk memulangkan jenazah orang yang mereka cintai.

Angka kematian resmi disebut 5.278, namun pemerintah mengakui totalnya bisa setinggi 10.000. Di sela debu yang menyesakkan dan tangan yang berdarah, sebagian orang tidur di atas puing karena tak sanggup pergi ke mana pun.

Dalam situasi ideal, pemulihan jenazah dilakukan tim profesional dengan protokol ketat. Namun kapasitas negara melemah akibat salah urus, korupsi, dan dampak sanksi Amerika Serikat, sehingga beban utama jatuh kepada warga sipil dan relawan.

Kisah Winder dan Deivi memperlihatkan bagaimana bencana besar bisa menggeser peran negara menjadi sekadar latar, sementara warga menjadi mesin utama penyelamatan. Di La Guaira, tentara terlihat berbaris di jalan dan kadang menyapu debu, tetapi penggalian paling berisiko berlangsung di tangan keluarga korban.

Kedua remaja itu tinggal di lantai dasar rumah susun 12 lantai bersama nenek Carmen (69), ibu Yusmani (35), dan adik Moissés (10). Pada 24 Juni saat gempa, mereka pulang dari wahana air dan mendapati gedung mereka lenyap, lalu malamnya menyelamatkan korban dan sejak itu terus menggali.

Butuh tiga minggu untuk menembus “pancake” 12 lantai yang runtuh bertumpuk, dengan alat seadanya yang dipakai bergantian antar tetangga. Mereka membuat beberapa lubang untuk mencari Apartemen 107, memakai sekop, jackhammer, gergaji, hingga pisau dapur.

Fenomena “moles” atau “tikus tanah” menandai krisis ganda: krisis infrastruktur dan krisis perlindungan anak. Anak dan remaja masuk ke celah sempit dengan ponsel dan senter kepala, karena tubuh kecil mereka menjadi satu-satunya “teknologi” yang tersedia.

Di titik ini, data kematian yang besar bukan sekadar statistik, melainkan antrean duka yang tertahan di bawah beton. Psikolog relawan Obtavio Guerra menyebut “realitas emosional belum muncul,” karena pencarian jenazah menjadi cara orang tetap sibuk dan terdistraksi, seperti gelombang yang bisa datang kapan saja.

Temuan benda-benda pribadi memperkuat sisi manusiawi yang kerap hilang dalam laporan bencana. Dari lubang ruang keluarga, mereka mengangkat Alkitab sang ibu yang basah namun utuh, daftar ayat favorit, serta catatan belanja sederhana: dua pisang plantain, dua lemon.

Ketika gaun bermotif bunga Carmen terlihat, keluarga memohon operator ekskavator agar tidak mengganggu karena mereka ingin mengangkat sendiri jenazahnya. Relawan bersetelan plastik putih akhirnya memasukkan Carmen ke kantong hitam, lalu doa dipanjatkan di atas gunung puing.

Proses pemulihan tidak berhenti pada satu jenazah, karena setiap temuan membuka lapis duka berikutnya. Dalam 24 jam berikutnya, Yusmani dan Moissés ditemukan di dapur, sang ayah pingsan, tetapi Winder terus bekerja hingga malam untuk membebaskan ibunya dari tempat ia wafat.

Gempa Venezuela di La Guaira memperlihatkan bahwa ketangguhan komunitas sering dipuji justru saat negara absen dari fungsi dasarnya. Ketika warga dipaksa menggali sendiri, “solidaritas” berubah menjadi mekanisme bertahan hidup yang menutup lubang kegagalan tata kelola.

Ada ironi moral ketika anak-anak menjadi pekerja paling efektif dalam operasi berbahaya, lalu dipandang wajar karena situasi darurat. Kalimat Deivi, “Saya bukan anak kecil lagi,” terdengar bukan sebagai kebanggaan, melainkan sebagai pengakuan bahwa masa kanak-kanak dapat runtuh secepat gedung 12 lantai.

Di sisi lain, relawan lintas kota dan kelompok Kristen yang datang dengan pesan “cinta untuk sesama” menunjukkan bahwa masyarakat sipil masih mampu membangun jaring penyangga. Namun bantuan yang datang belakangan tidak bisa menggantikan sistem pencarian profesional, identifikasi forensik, dan dukungan psikologis jangka panjang.

Tragedi ini juga menantang cara publik menilai angka korban. Antara 5.278 dan 10.000 ada ribuan keluarga yang menunggu kepastian, dan kepastian itu kadang hanya datang lewat sepotong baju, sebuah buku, atau kantong jenazah yang ditarik menuruni puing.

Di La Guaira, gempa Venezuela tidak hanya merobohkan bangunan, tetapi juga memaksa keluarga menegosiasikan duka lewat kerja fisik yang ekstrem. Pencarian Winder dan Deivi menunjukkan bahwa pemulihan jenazah adalah upaya memulihkan martabat, sekaligus cara menunda runtuhnya emosi.

Pertanyaannya kini bukan sekadar berapa korban, melainkan siapa yang bertanggung jawab agar tragedi berikutnya tidak mengulang pola yang sama. Jika negara tidak membangun kapasitas tanggap bencana yang profesional dan melindungi anak dari risiko, berapa banyak “tikus tanah” baru yang akan lahir dari reruntuhan berikutnya? (Orbit dari berbagai sumber, 31 Juli 2026)