Rally Iran di Teheran: Janfaday-e Iran dan Pesan Persatuan

Fox News

Fox News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Rally Iran di Teheran digelar pemerintah pada Jumat untuk menegaskan persatuan nasional di tengah perang melawan Amerika Serikat. Ribuan relawan berbaris dengan seragam tempur sambil membawa bendera, ketika sebagian massa meneriakkan slogan anti-AS dan anti-Israel.

Terjemahan akurat artikel sumber menyebut pemerintah Iran mengorganisasi unjuk rasa besar di Teheran untuk menekankan persatuan nasional selama perang melawan AS. Jumlah relawan yang mendaftar pelatihan militer terbatas bervariasi, dan mereka disebut “Janfaday-e Iran” atau “mereka yang mengorbankan nyawa untuk Iran,” menurut The Associated Press.

Para relawan berbaris melewati pusat kota Teheran dalam seragam tempur sambil membawa bendera, dan para penonton bersorak. Mereka diproyeksikan menjadi lapisan keamanan tambahan bagi Garda Revolusi dan milisi Basij, yang selama ini berperan menumpas protes anti-pemerintah.

Kepala baru Basij, Hossein Taeb, menyatakan para relawan akan siap untuk “pertahanan penuh” dan aksi serupa akan digelar di kota lain. Taeb menambahkan para peserta pelatihan baru akan menjadi “mimpi buruk” bagi musuh Iran, disaksikan Presiden Masoud Pezeshkian, para komandan militer, dan pejabat senior lainnya.

Dalam laporan AP, sebagian peserta menginjak bendera AS dan Israel, sementara yang lain meneriakkan “Mati untuk Amerika” dan “Mati untuk Israel.” Adegan ini menegaskan bahwa mobilisasi massa tersebut tidak hanya simbolik, tetapi juga sarat pesan politik ke luar negeri.

Rally Iran di Teheran bekerja sebagai panggung ganda: konsolidasi domestik dan sinyal strategis eksternal. Ketika negara mengumumkan “pelatihan militer terbatas,” yang ditonjolkan justru kesediaan berkorban dan kesiapan “pertahanan penuh.”

Istilah “Janfaday-e Iran” memproduksi narasi pengabdian total, yang efektif mengikat emosi publik pada agenda negara. Dalam logika komunikasi perang, kosakata pengorbanan sering dipakai untuk menutup ruang debat, karena kritik mudah dicap sebagai pelemahan barisan.

Posisi Basij dalam cerita ini penting, karena organisasi tersebut bukan aktor netral dalam memori publik Iran. AP menyinggung peran Basij dalam meredam protes anti-pemerintah, sehingga penambahan “lapisan keamanan” dapat dibaca sebagai penguatan kontrol internal sekaligus kesiapsiagaan eksternal.

Kehadiran Presiden Masoud Pezeshkian dan komandan militer di lokasi memperlihatkan penyatuan simbol sipil dan militer dalam satu frame. Ini menegaskan bahwa perang diperlakukan sebagai urusan nasional total, bukan hanya operasi pertahanan yang terpisah dari politik domestik.

Aksi menginjak bendera dan meneriakkan “Death to America” serta “Death to Israel” menambah efek viral sekaligus meningkatkan risiko eskalasi persepsi. Di mata pendukung, itu adalah ekspresi perlawanan, tetapi di mata lawan, itu dapat dibaca sebagai pembenaran untuk kebijakan yang lebih keras.

Rally semacam ini juga berfungsi sebagai uji loyalitas dan uji mobilisasi, karena negara dapat mengukur seberapa cepat massa dapat dikonsolidasikan. Ketika Taeb menyebut aksi serupa akan diadakan di kota lain, itu mengisyaratkan model replikasi yang terencana dan berkelanjutan.

Rally Iran di Teheran menunjukkan bahwa persatuan nasional sering diproduksi melalui ritual politik, bukan semata muncul dari konsensus. Ketika negara mengangkat relawan sebagai “perisai tambahan,” publik dihadapkan pada pesan bahwa keamanan dan ketertiban adalah prioritas yang tidak bisa ditawar.

Namun, persatuan yang dibangun lewat bahasa “mimpi buruk bagi musuh” menyimpan dilema: ia menyatukan, tetapi juga mengeraskan batas “kita” dan “mereka.” Dalam situasi perang, batas itu bisa meluas dari lawan eksternal menjadi oposisi internal yang dianggap mengganggu stabilitas.

Pada level komunikasi publik, pemerintah tampak ingin memonopoli definisi patriotisme. Jika patriotisme hanya diukur dari kesiapan berbaris dan berteriak slogan, ruang bagi patriotisme kritis—yang bertanya tentang biaya perang, arah diplomasi, dan dampak sosial—menjadi semakin sempit.

Rally Iran di Teheran memperlihatkan bagaimana perang mendorong negara mengaktifkan simbol, massa, dan struktur paramiliter untuk menegaskan kendali dan ketahanan. Laporan AP tentang “Janfaday-e Iran” menempatkan relawan sebagai ikon pengorbanan, sekaligus memperlihatkan peran Basij sebagai alat keamanan domestik.

Pertanyaan yang tersisa adalah apakah persatuan yang dipertontonkan di jalanan akan berujung pada perlindungan warga, atau justru memperdalam politik ketakutan dan polarisasi. Pada akhirnya, sebuah bangsa tidak hanya diuji oleh kemampuannya berbaris, tetapi juga oleh kemampuannya menjaga nalar dan kemanusiaan saat perang menuntut segalanya.

(Orbit dari berbagai sumber, 20 September 2026)