Literasi Keuangan Anak: Orang Tua AS Buka Tabu Uang

InvestmentNews

InvestmentNews

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan anak kini jadi percakapan keluarga yang kian terbuka di Amerika Serikat, dari meja makan sampai layar ponsel. Survei U.S. Bank bersama Morning Consult menunjukkan orang tua mulai memutus siklus “uang itu tabu” dengan mengajarkan menabung, budgeting, dan tujuan finansial sejak dini.

Selama puluhan tahun, banyak keluarga Amerika membesarkan anak dengan satu aturan tak tertulis: uang tidak dibahas. Dampaknya sering muncul belakangan, ketika anak dewasa menghadapi utang, kartu kredit, dan keputusan finansial tanpa peta.

Data survei U.S. Bank menegaskan jurang generasi itu. Hanya 49% Baby Boomers mengatakan uang dibicarakan di rumah masa kecil mereka, sementara 62% Gen Z mengaku tumbuh dengan percakapan finansial.

Perubahan ini tidak terjadi di ruang hampa. Biaya hidup, suku bunga, dan banjir informasi investasi di media sosial membuat keluarga merasa harus lebih siap, lebih cepat.

Survei U.S. Bank mencatat hampir sembilan dari 10 orang tua merasa nyaman berbicara soal uang dengan anak. Sekitar dua pertiga sudah mulai atau berencana mengajarkan dasar money management sebelum usia 12 tahun.

Lebih dari sembilan dari 10 orang tua menilai penting anak belajar menabung, budgeting, dan menetapkan tujuan finansial. Ini menandai pergeseran dari sekadar “jangan boros” menjadi “pahami sistemnya.”

Namun, percakapan belum otomatis menjadi kebiasaan. Hanya sekitar separuh orang tua yang sudah membuka rekening bank anak, padahal rekening adalah alat latihan paling sederhana untuk mengelola uang nyata.

Menariknya, hambatan utama bukan biaya, melainkan ketidakpastian. Banyak orang tua mengaku ragu apakah anak “sudah siap” atau mereka sendiri tidak tahu harus mulai dari mana.

Di sisi lain, minat anak terhadap investasi muncul lebih cepat dari generasi sebelumnya. Survei Charles Schwab pada April menemukan 70% remaja sangat atau amat tertarik pada investasi, dan 73% orang tua menilai pendidikan investasi untuk remaja sangat penting.

Yang paling menentukan adalah sumber kepercayaan. Sebanyak 56% remaja menyebut orang tua sebagai pihak yang paling mereka percaya untuk nasihat investasi, melampaui influencer dan konten viral.

Riset Schwab juga menyorot kebutuhan pendidikan formal yang tertinggal. Hampir dua pertiga orang tua dan separuh remaja menempatkan pendidikan finansial sebagai mata pelajaran terpenting di sekolah.

Tren ini membentuk satu realitas baru: rumah menjadi “sekolah finansial” pertama. Tetapi tanpa latihan praktik, pelajaran mudah menguap menjadi slogan, bukan keterampilan.

Terbuka membahas uang adalah kemajuan, tetapi itu baru pintu masuk. Jika orang tua hanya berhenti pada ceramah tentang menabung, anak tetap tidak belajar mengelola godaan, risiko, dan konsekuensi.

Masalahnya bukan sekadar anak belum siap, melainkan orang dewasa sering takut kehilangan kendali. Membiarkan anak mengelola uang saku di rekening, membuat kesalahan kecil, lalu mengevaluasinya, justru membangun “otot” finansial yang tidak bisa digantikan nasihat.

Di era remaja tertarik investasi, literasi keuangan anak juga harus mencakup literasi risiko. Tanpa itu, antusiasme bisa diseret ilusi cepat kaya, apalagi ketika algoritma lebih cepat daripada kurikulum sekolah.

Karena 56% remaja paling percaya orang tua, tanggung jawabnya menjadi moral sekaligus praktis. Orang tua perlu jujur tentang batas pengetahuan mereka, lalu belajar bersama anak, bukan berpura-pura selalu benar.

Jika sekolah belum mengejar kebutuhan, keluarga tidak bisa menunggu. Tetapi keluarga juga tidak boleh berjalan sendiri, karena pendidikan finansial yang sehat membutuhkan ekosistem: sekolah, bank, regulator, dan media yang tidak memonetisasi kebodohan publik.

Generasi orang tua hari ini tampak sedang mematahkan tradisi diam tentang uang, dan itu kabar baik bagi literasi keuangan anak. Namun, survei juga mengingatkan bahwa keberanian berbicara harus diikuti keberanian memberi pengalaman nyata.

Pertanyaannya sederhana tetapi menentukan: apakah kita ingin anak hanya tahu istilah budgeting, atau benar-benar mampu membuat keputusan saat uangnya terbatas dan godaan tak terbatas. Mungkin kedewasaan finansial lahir bukan dari satu nasihat besar, melainkan dari banyak latihan kecil yang konsisten. (Orbit dari berbagai sumber, 5 September 2026)