Pemecatan Mykhailo Fedorov Guncang Ukraina, Reformasi Militer Terancam

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Pemecatan Mykhailo Fedorov sebagai menteri pertahanan Ukraina memicu protes dan membuka konflik tajam antara agenda reformasi militer dan budaya komando lama. Di tengah perang melawan Rusia, keputusan Presiden Volodymyr Zelenskyy ini berubah menjadi ujian politik, sekaligus pertaruhan atas modernisasi pertahanan dan transparansi pengadaan.

Mykhailo Fedorov berusia 35 tahun, tanpa latar militer dan tanpa pengalaman tempur di medan perang. Namun ia dipuji saat memimpin Kementerian Transformasi Digital, lalu ditarik ke pertahanan untuk mengurus logistik, anggaran, reformasi, antikorupsi, serta negosiasi bantuan dan pinjaman Barat bernilai miliaran dolar.

Setelah dilantik pada Januari, Fedorov menyerahkan daftar masalah mendesak kepada Zelenskyy. Ia menilai sistem manajemen “kacau”, rotasi komandan terlalu sering, distribusi senjata tidak transparan, birokrasi menumpuk, dan keputusan kerap berbasis loyalitas, bukan analisis data.

Fedorov juga menyinggung adanya resistensi reformasi dari Staf Umum di bawah Panglima Oleksandr Syrskii. Ia menyebut komandan efektif dan pendukung reformasi kerap “diisolasi”, sehingga perubahan sulit mengakar.

Tujuh bulan kemudian, Zelenskyy mencopot Fedorov. Sumber ketegangan utamanya disebut berasal dari kemarahan Syrskii terhadap perubahan yang didorong Fedorov, namun publik Ukraina justru lebih marah pada pencopotannya.

Unjuk rasa muncul di Kyiv dan kota-kota kunci, relatif besar untuk ukuran Ukraina masa perang. Seorang demonstran bernama Taisiya mengatakan Fedorov muda, cerdas, dan terbukti reformis, bahkan ia ingin melihatnya menjadi presiden.

Di sisi lain, peran tempur tetap dipimpin Syrskii, jenderal bintang empat berusia 60 tahun. Ia dipuji karena mempertahankan Kyiv dan memukul mundur Rusia di timur laut pada 2022, tetapi juga dicap “tukang jagal” karena dianggap abai pada korban prajurit.

Di luar medan perang, Fedorov mendorong reformasi berbasis teknologi yang mirip gaya Silicon Valley. Ia meningkatkan jumlah drone, khususnya pengebom jarak menengah dan jauh, yang dilaporkan melumpuhkan jalur suplai Rusia dan menghantam depot senjata, depot bahan bakar, kilang minyak, hingga sistem pertahanan udara.

Langkah itu disebut banyak pihak sebagai titik balik perang, karena menggeser keseimbangan dari perang parit ke perang presisi. Ia juga mempromosikan drone berbasis AI yang dapat mengidentifikasi target tanpa komunikasi dengan pilot manusia yang bisa dijamming Rusia.

Fedorov memperbanyak robot darat untuk mengirim makanan, amunisi, dan mengevakuasi prajurit terluka. Ia juga menekan skema korupsi dengan membuat pengadaan persenjataan lebih transparan, sehingga rantai belanja militer lebih bisa diaudit.

Menurut analis Kyiv Ihar Tyshkevich kepada Al Jazeera, efisiensi kementerian meningkat dan tercermin pada keberhasilan serangan Ukraina ke wilayah Rusia. Ia menilai karena Syrskii “sangat tidak populer”, banyak warga justru berterima kasih pada Fedorov.

Di jalanan, poster protes memuat slogan seperti “Fedorov adalah neraka bagi Rusia” dan “Zelenskyy menembak kakinya sendiri”. Kehadiran prajurit di aksi tidak banyak, dan sebagian menolak bicara karena takut pembalasan dari atasan.

Seorang operator drone bernama Boris, yang cuti dari front timur, mengatakan tidak ada keajaiban namun hasilnya baik. Ia mengakui Fedorov belum menyelesaikan masalah besar, seperti masa dinas yang terbatas bagi prajurit lama yang tetap ditahan di garis depan meski terluka fisik dan mental.

Boris juga menyebut Fedorov belum menaikkan jumlah rekrut di tengah kampanye wajib militer yang sangat tidak populer. Ia menilai angka desertir juga belum turun, sehingga reformasi teknologi belum otomatis menyentuh krisis sumber daya manusia.

Namun Fedorov mengambil langkah sederhana dan tidak lazim yang berdampak langsung. Pada Februari, ia meyakinkan SpaceX milik Elon Musk untuk mematikan semua modem Starlink di Ukraina, lalu menyalakannya kembali hanya setelah verifikasi.

Akibatnya, ribuan modem yang diselundupkan ke Rusia dan dipakai pasukan Rusia di wilayah pendudukan tidak menyala lagi. Langkah ini sementara merusak presisi serangan drone Moskow dan menurunkan kualitas komunikasi antara prajurit dan komandan.

Reaksi Rusia memperjelas nilai strategis Fedorov. Blogger militer Rusia Alexey Zhivov menulis di Telegram bahwa pencopotan Fedorov “sangat baik” karena ia “terlalu pintar dan efektif bagi musuh”.

Narasi propaganda juga ikut bermain, dengan tuduhan konspiratif bahwa Fedorov mencoba menjatuhkan Zelenskyy. Analis Moskow Sergey Markov menyebut protes sebagai “kerusuhan politik”, karena tuntutan utamanya adalah membatalkan keputusan pemecatan.

Di Kyiv, Volodymyr Fesenko dari Penta think tank mengatakan situasi ini menyerupai kebuntuan. Ia menekankan Zelenskyy “belum punya solusi”, apalagi ada laporan dua penasihat Fedorov mundur dan parlemen enggan cepat memilih menteri baru.

Pemecatan ini terlihat seperti benturan dua logika perang yang berbeda. Syrskii mewakili tradisi hierarki keras dan kendali Staf Umum, sedangkan Fedorov membawa manajemen data, transparansi, dan inovasi yang mengganggu kenyamanan struktur lama.

Dalam perang modern, kemenangan tidak hanya ditentukan jumlah brigade, tetapi juga rantai pasok, integritas pengadaan, dan kecepatan adaptasi teknologi. Ketika reformasi membuat serangan lebih akurat dan korupsi lebih sulit, resistensi internal sering muncul sebagai “alasan disiplin” atau “stabilitas komando”.

Fedorov sendiri melawan balik dengan konferensi pers, menuduh Syrskii “merajut intrik” dan berupaya “memecah” Ukraina alih-alih fokus perang. Ia mengakui Syrskii menyelamatkan negara pada 2022, tetapi menegaskan perang telah berubah total dan militer harus ikut berubah.

Di sini, Zelenskyy menghadapi dilema klasik pemimpin perang: menjaga kesatuan komando atau mempertahankan reformator yang efektif. Keputusan mencopot reformator di tengah hasil yang terlihat, justru membuka ruang bagi publik untuk membaca pemecatan sebagai kompromi politik, bukan pertimbangan strategis.

Aspek paling berbahaya bagi Zelenskyy adalah efek politik yang tak ia rencanakan. Tyshkevich menilai pemecatan mengubah Fedorov menjadi “pahlawan populer yang menderita demi kebenaran”, sementara Zelenskyy sedang menghadapi turunnya dukungan akibat skandal korupsi di lingkaran sekutunya.

Jika Fedorov tetap loyal, ia masih bisa menjadi aset negara. Namun jika popularitasnya naik karena dianggap korban sistem, ia bisa berubah menjadi ancaman elektoral pascaperang, terutama bila publik menilai modernisasi militer sengaja diperlambat.

Kisah Mykhailo Fedorov menunjukkan bahwa perang bukan hanya duel artileri, tetapi juga pertarungan tata kelola. Ukraina membutuhkan senjata, tetapi juga membutuhkan sistem yang bersih, cepat, dan adaptif agar bantuan Barat tidak bocor dan inovasi tidak dipatahkan intrik.

Pertanyaannya kini sederhana namun tajam: apakah pemimpin perang lebih takut pada musuh di garis depan, atau pada reformasi yang mengubah peta kekuasaan di belakangnya. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah Ukraina menang sebagai negara modern, atau hanya bertahan sebagai negara yang terus mengulang masalah lama. (Orbit dari berbagai sumber, 27 Juli 2026)