Kesaksian Serdadu dalam "NAZA": Dokumenter yang Mengguncang Venesia dan Memicu Amarah Pemerintah Israel

Yuval Abraham.

Yuval Abraham.

Review Film

ORBITINDONESIA.COM - Ketika sorak sorai dan standing ovation selama 25 menit membahana di Festival Film Venesia 2026, sebuah pesan kelam tentang tragedi di Gaza telah mengetuk nurani publik internasional.

Sinema dunia menyambut hangat NAZA, sebuah film dokumenter garapan dua sutradara asal Israel pemenang Oscar, Yuval Abraham dan Rachel Szor. Namun, kemenangan dan apresiasi tinggi di panggung global tersebut justru menyulut amarah di tanah air mereka sendiri.

Menteri Kebudayaan Israel melontarkan kecaman keras dan melabeli penghargaan yang diraih NAZA di Venesia sebagai bentuk "pengkhianatan terhadap negara."

Tak berhenti pada retorika verbal, pemerintah Israel bahkan secara terbuka mengupayakan langkah hukum ekstrem: menuntut pencabutan status kewarganegaraan bagi para pembuat filmnya.

Membongkar Mesin Perang dari Dalam

Apa yang membuat NAZA begitu mengguncang hingga memicu kepanikan politik di Tel Aviv? Jawabannya terletak pada keberanian film ini membongkar sistem militer Israel bukan dari sudut pandang luar, melainkan langsung dari mulut para pelakunya.

Judul "NAZA" sendiri diangkat dari istilah acronim internal militer Israel (Israel Defense Forces/IDF) yang merujuk pada estimasi jumlah korban jiwa dari kalangan warga sipil yang "diizinkan" atau dianggap wajar dalam suatu serangan udara.

Melalui penelusuran mendalam pasca-meletusnya perang di Gaza, Abraham dan Szor menyusun narasi yang membongkar mekanisme terstruktur di balik jatuhnya puluhan ribu korban sipil Palestina.

Kekuatan utama dokumenter ini bersumber dari kesaksian langsung para prajurit aktif, veteran, hingga perwira intelijen militer Israel.

Di depan kamera, mereka membeberkan bagaimana keputusan pengeboman diambil, penggunaan teknologi pemantauan berartifisial (AI targeting), hingga longgarnya batasan moral dalam menentukan batas toleransi kematian warga sipil.

Dokumen dan pengakuan internal ini menelanjangi narasi resmi pemerintah yang selama ini mengklaim bahwa jatuhnya korban jiwa semata-mata akibat taktik perisai manusia.

Seni sebagai Pengkhianatan atau Cermin Kemanusiaan?

Sebelumnya, Yuval Abraham dan Rachel Szor telah dikenal luas lewat karya fenomenal mereka, No Other Land, yang sukses meraih Piala Oscar. Melalui NAZA, keduanya mempertegas komitmen untuk menggunakan kanta kamera sebagai instrumen transparansi dan akuntabilitas.

Namun bagi jajaran pejabat kanan Israel, pembongkaran rahasia dapur militer di arena internasional dianggap sebagai tindakan yang tidak memaafkan. Upaya Menteri Kebudayaan untuk mencabut kewarganegaraan para kreatornya menjadi sinyal keras meningkatnya represi negara terhadap suara-suara kritis dari dalam negeri.

Meskipun secara hukum tata negara pencabutan kewarganegaraan membutuhkan proses rumit melalui Mahkamah Agung dan Kementerian Dalam Negeri, wacana ini telah menciptakan preseden buruk bagi kebebasan berekspresi.

NAZA kini berdiri di persimpangan jalan yang tajam: di satu sisi disambut sebagai karya monumental yang memberi suara bagi kebenaran dan kemanusiaan, sementara di sisi lain dicap sebagai musuh negara oleh penguasa tempat karya itu dilahirkan. ***