Waisak 2026 dan Dharma, Jawaban Umat Buddha di Era AI
ORBITINDONESIA.COM – Waisak 2026 menjadi kata kunci yang ramai dicari, terutama ketika umat Buddha Indonesia dihadapkan pada era artificial intelligence dan hidup yang kian tidak pasti. Dari Mendut, Magelang, Ketua Umum DPP WALUBI Hartati Murdaya mengingatkan bahwa Dharma harus kembali menjadi sumber moralitas dan kebijaksanaan di tengah perubahan zaman.
Waisak 2026 bertepatan dengan 2570 BE dan diperingati pada Senin, 31 Mei 2026 di berbagai daerah. Perayaan ini menandai Trisuci Waisak, yakni kelahiran, pencerahan, dan parinibbana Buddha Gotama sebagai fondasi keyakinan umat.
Namun Waisak tidak hadir dalam ruang hampa, karena masyarakat sedang hidup dalam percepatan teknologi dan tekanan ekonomi yang menguji ketenangan batin. Dalam pembukaan Dhammavicayo 2026 pada 28 Mei 2026, Hartati menegaskan bahwa perubahan yang cepat membuat kondisi “serba tidak pasti” bagi manusia modern.
Dhammavicayo 2026 digelar di Vihara Griya Vipassana Avalokitesvara dan dihadiri bhikkhu sangha, samanera, romo pandita, tokoh Buddhis, serta umat dari berbagai daerah. Tema yang diangkat, “Dharma Sebagai Sumber Moralitas dan Kebijaksanaan”, terasa seperti respons langsung terhadap kegelisahan publik.
Di level simbolik, Waisak sering jatuh ke pola seremonial yang aman, rapi, dan mudah dipublikasikan. Hartati memotong kecenderungan itu dengan kalimat tegas bahwa Waisak Nasional “bukan untuk hura-hura” melainkan ruang diskusi Dharma dan pengalaman batin.
Tekanan modern bukan hanya soal kecepatan informasi, tetapi juga kaburnya batas benar-salah dalam praktik sehari-hari. Ketika keputusan diambil serba instan, moralitas mudah direduksi menjadi kepatuhan sosial, bukan kesadaran akan akibat tindakan.
Di titik ini, istilah Dhammavicayo menjadi penting karena berarti penyelidikan Dhamma melalui pengamatan dan perenungan. Ia juga dikenal sebagai salah satu dari tujuh faktor pencerahan (Bojjhaṅga) yang menumbuhkan kejernihan dan kebijaksanaan.
Hartati mengangkat isu artificial intelligence dengan peringatan yang sederhana namun menusuk, yakni manusia bisa “menjadi robot” bila tidak hati-hati. Ini bukan penolakan teknologi, melainkan kritik pada cara teknologi membentuk kebiasaan batin yang otomatis, reaktif, dan dangkal.
Secara global, diskusi etika AI memang makin kuat dalam beberapa tahun terakhir karena dampaknya pada pekerjaan, privasi, dan disinformasi. Di Indonesia, adopsi AI dalam layanan publik dan bisnis juga meningkat, sehingga isu moralitas bukan lagi wacana akademik semata.
Dalam Buddhisme, moralitas dibangun dari kesadaran sebab-akibat, sedangkan kebijaksanaan tumbuh dari kemampuan melihat kehidupan secara jernih. Hartati menekankan pelepasan dari kemelekatan, kebencian, dan keserakahan sebagai inti latihan batin di tengah godaan duniawi.
Ia juga mengingatkan fakta yang sering disangkal manusia modern, yakni hidup bersifat sementara dan tidak ada yang dapat dibawa saat berakhir. Pesan ini terasa relevan ketika budaya pencapaian membuat kekayaan dan jabatan seolah menjadi ukuran tunggal keberhasilan.
Rangkaian Dhammavicayo 2026 menghadirkan empat pembicara dari tradisi Theravāda dan Vajrayāna, dengan format ceramah, meditasi, dialog interaktif, dan blessing penutup. Format ini menunjukkan upaya menjembatani pengetahuan dan praktik, agar Dharma tidak berhenti sebagai slogan.
Peringatan Hartati tentang “era menuju robot” perlu dibaca sebagai kritik sosial, bukan sekadar retorika keagamaan. Ketika algoritma mengatur perhatian, manusia mudah kehilangan kemampuan hening untuk menilai, lalu menyerahkan pilihan hidup pada arus.
Di sisi lain, ajakan kembali pada Dharma juga harus diuji agar tidak menjadi pelarian dari problem nyata seperti ketimpangan, konflik identitas, dan krisis kesehatan mental. Spiritualitas yang kuat seharusnya melahirkan keberanian bertindak welas asih, bukan hanya ketenangan personal.
Karena itu, penekanan pada berdana dan hidup secukupnya menjadi jembatan antara batin dan sosial. Pesan “tanpa pamrih” menantang budaya transaksional, sekaligus menguji ketulusan umat di luar panggung perayaan.
Waisak 2026 dapat menjadi momen koreksi arah, yakni kemajuan duniawi berjalan seiring pertumbuhan spiritual. Jika tidak, modernitas hanya menghasilkan manusia yang cepat, produktif, dan canggih, tetapi rapuh saat menghadapi kehilangan.
Waisak 2026 pada akhirnya bukan soal kalender, melainkan soal keberanian menata ulang cara hidup di tengah ketidakpastian. Ketika Dharma dipahami sebagai sumber moralitas dan kebijaksanaan, ia menjadi kompas yang menjaga manusia tetap manusia.
Pertanyaannya sederhana namun menentukan, apakah kita memakai teknologi sebagai alat, atau membiarkannya membentuk batin yang otomatis dan dingin. Di tengah era AI, kejernihan hati mungkin bukan pilihan tambahan, melainkan syarat agar hidup tetap bermakna. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Mei 2026)