Kanker Ovarium: Gejala Samar, Deteksi Dini, dan Pelajaran Becky Drexler

foxnews.com

foxnews.com

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Kanker ovarium kembali jadi sorotan setelah Becky Drexler, relawan advokasi di Minnesota, didiagnosis penyakit yang sama dengan sahabatnya yang meninggal karena kanker ovarium. Ia mengira sering buang air kecil, kembung, konstipasi, dan nyeri pinggul hanyalah tanda penuaan, sampai CT scan menemukan massa di kedua ovarium.

Terjemahan ringkas artikel sumber: Becky Drexler mendampingi sahabatnya, Connie Dahl, yang didiagnosis kanker ovarium stadium 4 pada April 2015 di usia 51 tahun. Dahl wafat pada September 2017 setelah berjuang, dan Drexler lalu aktif menjadi relawan Minnesota Ovarian Cancer Alliance (MOCA).

Setelah pensiun pada 2017, rencana Drexler untuk bepergian dan berkebun terhenti ketika pada Juli 2018 ia didiagnosis kanker ovarium serosa derajat tinggi stadium 3B. Ia menunda periksa karena gejalanya terasa “normal”, sampai merasa seolah ada “dorongan” dari mendiang sahabatnya yang ia simbolkan lewat capung.

Pada ulang tahunnya yang ke-57, dokter memberi kabar CT scan menemukan massa di kedua ovarium, dan ia menjalani operasi empat hari kemudian. Ia lalu menjalani enam siklus kemoterapi karboplatin dan taksol dari September 2018 hingga Januari 2019, sambil ditopang keluarga, tim medis, serta komunitas MOCA.

Agustus 2020 kanker kembali, dan tumor di area panggul diangkat lewat operasi. Ia memilih radiasi terarah, dengan kemoterapi sebagai cadangan, lalu pada Januari 2021 kembali berstatus “no evidence of disease” (NED).

Ia mulai mengonsumsi Lynparza (olaparib), terapi pemeliharaan inhibitor PARP yang dulu belum tersedia saat sahabatnya dirawat. Dari Januari 2021 hingga Februari 2026 ia bertahan dalam status NED, meski dihantui kekhawatiran kekambuhan.

Pada musim dingin 2025, gejala lambung mendorongnya menjalani PET scan yang menemukan tumor di sekitar usus halus dan perlu operasi. Setelah operasi, kekambuhan kanker ovarium terkonfirmasi, dan PET scan berikutnya masih menunjukkan beberapa titik tersisa.

Mei 2026 ia memulai siklus 18 minggu karboplatin, taksol, dan avastin (bevacizumab) hingga akhir September. PET scan pertengahan terapi menunjukkan respons baik, titik-titik menghilang dan tidak ada lesi baru.

Jika PET scan berikutnya mendukung, ia kemungkinan masuk rencana pemeliharaan antibody drug conjugate (ADC), terapi target yang baru disetujui dan disebut memberi hasil “luar biasa”. Sepanjang perjalanan itu, ia tetap aktif di MOCA, termasuk di dewan, komite, dan peninjauan hibah riset.

Dokter Brian M. Slomovitz dari Mount Sinai Medical Center menegaskan kanker ovarium dulu disebut “silent killer” karena sering baru terdeteksi saat lanjut. Sekitar 75% pasien didiagnosis pada stadium 3 atau 4, dan gejalanya tidak spesifik seperti nyeri perut, kembung, perubahan lingkar perut, penurunan nafsu makan, atau penurunan berat badan.

Slomovitz menekankan gejala yang menetap atau memburuk selama satu hingga dua minggu perlu diperiksa. Ia juga menyebut belum ada metode skrining rutin yang andal untuk perempuan berisiko rata-rata, padahal bila terdeteksi di stadium 1, angka kesembuhan mendekati 90%.

Kisah Drexler adalah potret klasik kanker ovarium: gejala samar, keterlambatan periksa, lalu diagnosis pada stadium lanjut. Ini bukan semata soal kelalaian individu, melainkan soal desain “musuh” yang bersembunyi di balik keluhan harian yang mudah dinormalisasi.

Data yang dikutip Slomovitz bahwa sekitar 75% kasus ditemukan pada stadium 3 atau 4 menjelaskan mengapa kanker ovarium tetap mematikan. Ketika penyakit baru terlihat setelah menyebar, terapi menjadi maraton panjang, bukan sprint penyembuhan.

Di sisi lain, perjalanan Drexler menunjukkan lompatan terapi dalam satu dekade. Inhibitor PARP seperti olaparib (Lynparza) dan opsi ADC menandai era onkologi presisi, di mana “pemeliharaan” menjadi strategi memperpanjang masa NED, bukan sekadar menunggu kambuh.

Namun kemajuan terapi berhadapan dengan lubang besar: deteksi dini. Tidak adanya tes skrining rutin yang direkomendasikan untuk perempuan berisiko rata-rata membuat pintu masuk sistem kesehatan bergantung pada kewaspadaan gejala, yang ironisnya paling sulit dikenali.

Gejala yang disebut Drexler dan dokter—sering berkemih, konstipasi, kembung, nyeri panggul/hip, perubahan lingkar perut, nafsu makan turun—adalah gejala “serba bisa” yang bisa berarti banyak hal. Dalam praktik sehari-hari, gejala ini sering dibaca sebagai stres, pola makan, menopause, atau penuaan.

Di sinilah peran literasi kesehatan publik menjadi krusial. Pesan “periksa bila menetap 1–2 minggu” terdengar sederhana, tetapi bisa menjadi garis pembatas antara stadium 1 dengan peluang sembuh mendekati 90%, dan stadium 3–4 dengan perjalanan terapi berulang.

Kisah ini juga menggarisbawahi pentingnya akses ke ginekolog onkolog. Drexler menekankan hal itu karena penanganan kanker ovarium memerlukan keahlian khusus, dari penentuan stadium, strategi operasi, hingga pemilihan kombinasi terapi target.

Selain medis, ada dimensi sosial yang sering luput: komunitas. MOCA memberi Drexler dukungan emosional, jejaring informasi, dan rasa kendali, yang dalam penyakit kronis sering sama pentingnya dengan obat.

Pelajaran paling tajam dari kisah ini adalah paradoks kanker ovarium: ia tidak benar-benar “sunyi”, tetapi suaranya terlalu pelan untuk didengar. Ketika sistem belum punya skrining yang andal, beban deteksi dini diam-diam dipindahkan ke tubuh perempuan dan intuisi mereka sendiri.

Ajakan “advocate for yourself” terdengar inspiratif, tetapi juga menyimpan kritik sosial. Tidak semua orang punya waktu, biaya, atau keberanian untuk menuntut pemeriksaan lanjutan, apalagi ketika gejala dianggap remeh oleh lingkungan atau bahkan tenaga kesehatan.

Di sisi lain, kemajuan terapi yang menyelamatkan Drexler juga menyingkap ketidakadilan waktu. Ia sendiri mengakui sahabatnya tidak kebagian obat yang kini tersedia, sehingga sains bukan hanya soal penemuan, tetapi soal siapa yang hidup cukup lama untuk menikmatinya.

Karena itu, riset deteksi dini harus diperlakukan sebagai proyek moral, bukan sekadar proyek akademik. Jika stadium 1 mendekati 90% bisa disembuhkan, maka setiap keterlambatan diagnosis adalah biaya manusia yang seharusnya bisa ditekan.

Kisah Becky Drexler bukan sekadar cerita ketegaran, melainkan peta masalah kanker ovarium: gejala samar, diagnosis terlambat, terapi panjang, dan harapan yang tumbuh dari inovasi. Ia hidup di persimpangan antara duka sahabatnya dan kemajuan ilmu yang kini memberinya waktu.

Jika ada satu pesan yang perlu dibawa pulang, itu sederhana dan keras: dengarkan tubuh, catat gejala, dan periksa bila menetap. Dan pertanyaan yang tersisa untuk kita semua adalah, kapan deteksi dini kanker ovarium menjadi hak yang nyata, bukan sekadar harapan riset.

(Orbit dari berbagai sumber, 15 September 2026)