Box Office Akhir Pekan: Other Mommy Unggul, Social Reckoning Ambruk
ORBITINDONESIA.COM – Box office akhir pekan di Amerika Utara dipimpin “Other Mommy” dengan debut US$27,5 juta, meski dicerca kritik dan penonton. Sementara itu “The Social Reckoning” justru dibuka lemah dan terlempar ke posisi kelima dengan US$5,5 juta.
Dalam terjemahan akurat artikel sumber, “Other Mommy” adalah film horor Universal–Blumhouse yang menampilkan Jessica Chastain sebagai doppelgänger “dari neraka” yang bertubuh lentur. Ceritanya tentang entitas paranormal jahat yang menyamar sebagai ibu seorang anak perempuan, lalu meneror keluarga itu.
Film ini memikul rapor buruk: 19% di Rotten Tomatoes dan nilai “D+” dari CinemaScore, bahkan lebih rendah dari “Digger” yang mendapat “C+”. Namun “Other Mommy” tetap melampaui ekspektasi, meraup US$17,69 juta dari box office internasional dan mencapai total global US$45,19 juta, dengan bujet produksi US$18 juta.
Artikel juga menerjemahkan situasi “The Social Reckoning”, drama Facebook ber-rating R dari Sony yang ditulis dan disutradarai Aaron Sorkin. Film itu diproyeksikan buka US$7–8 juta, tetapi hanya mengumpulkan US$5,5 juta domestik dan US$3,5 juta dari 29 pasar internasional, sehingga start globalnya US$9 juta.
Dalam kisahnya, seorang insinyur Facebook (Mikey Madison) membocorkan ribuan dokumen internal kepada reporter (Jeremy Allen White) untuk mengungkap praktik gelap perusahaan. Penonton utamanya laki-laki berusia lebih tua, segmen yang disebut masih lambat kembali ke bioskop sejak pandemi.
Kemenangan “Other Mommy” menegaskan satu pola lama: horor sering “kebal” terhadap ulasan buruk karena menjual sensasi instan. Namun analis David A. Gross dari FranchiseRe mengingatkan, “Film horor umumnya kebal terhadap penerimaan negatif, tapi ini ekstrem,” dan ia memprediksi penurunan tajam pada pekan berikutnya.
Di titik ini, yang menarik bukan sekadar angka US$27,5 juta, melainkan efisiensi model Blumhouse. Dengan bujet US$18 juta dan total global US$45,19 juta, film sudah berada pada jalur balik modal lebih cepat dibanding film berbiaya besar yang butuh napas panjang.
Kontrasnya, “The Social Reckoning” menghadapi masalah ganda: tema yang terasa “televisi”, plus asosiasi yang tak bisa dihindari dengan “The Social Network”. Artikel menekankan film pertama—disutradarai David Fincher, ditulis Sorkin, dibintangi Jessie Eisenberg—mengakhiri perolehan global US$224 juta dan menang empat Oscar, termasuk skenario.
Karena Fincher dan Eisenberg tidak kembali, Sony bahkan mencoba menjauhkan label “sekuel” dan menyebutnya “companion piece”. Strategi itu juga tampak pada bujet yang lebih hemat, US$30 juta dibanding US$40 juta pada film 2010, tetapi Gross tetap menilai jumlah itu “masih banyak yang harus ditutup” pada level box office sekarang.
Data resepsi publik memperjelas mengapa laju film ini tersendat: Rotten Tomatoes 54% dan CinemaScore “B-” yang suam-suam kuku. Di era ketika skandal korporasi, uang, dan kuasa sudah jadi makanan sehari-hari serial streaming, bioskop menuntut sesuatu yang lebih sinematik dari sekadar investigasi yang rapi.
Artikel juga menyorot “Digger”, satir Tom Cruise yang jatuh 60% pada pekan kedua menjadi US$3,2 juta dari 3.321 layar. Totalnya baru US$14 juta domestik dan US$35,3 juta global, padahal Warner Bros. menghabiskan lebih dari US$160 juta untuk produksi dan kerugian teater diproyeksikan US$245 juta.
Yang ironis, pembelaan selebritas—Anne Hathaway, Jane Fonda, Guillermo del Toro, hingga Mandy Patinkin—tidak mengubah nasibnya. “Spoiler alert: tidak berhasil,” tulis artikel, seolah menegaskan bahwa kampanye simpati tak bisa menggantikan kemauan publik membeli tiket.
Di papan tengah, “Verity” (adaptasi Colleen Hoover) meraih posisi kedua dengan US$11,4 juta, meski turun 64% dari pekan pembuka. Film Amazon MGM itu sudah mengumpulkan US$53 juta di Amerika Utara dan US$113 juta global dengan bujet US$40 juta, sebuah kemenangan yang rapi dan terukur.
“Resident Evil” versi reboot turun ke posisi ketiga dengan US$8,3 juta pada pekan keempat. Totalnya kuat: US$138,5 juta domestik dan US$300 juta global dari bujet US$75 juta, dan artikel menyebut film ini bersama “Spider-Man: Brand New Day” membantu meredam potensi kerugian Sony dari “The Social Reckoning”.
“Heart of the Beast” berada di posisi keempat dengan US$7,1 juta pada pekan ketiga. Film bertema survival tentang pria yang selamat dari kecelakaan pesawat bersama anjingnya itu sudah meraih US$49,6 juta domestik dan US$131,3 juta global, namun masih harus “terus berjalan” untuk membenarkan bujet US$82 juta.
Di ranah specialty, “Fjord” memimpin start terbatas dengan US$124 ribu dari empat bioskop di New York dan Los Angeles, setara sekitar US$31 ribu per lokasi. “Misty Green” mengumpulkan US$85.716 dari enam layar, sementara dokumenter Elon Musk berjudul “Musk” meraih US$68.900 dari empat lokasi, angka yang dinilai menonjol karena durasinya hampir empat jam dan bahkan memiliki jeda.
Secara musiman, Oktober disebut lesu setelah September yang lebih kuat dari perkiraan. Pendapatan bulan ini 23% di atas titik yang sama pada 2025—yang menjadi Oktober terendah dalam tiga dekade—namun 8% di bawah 2019, tahun terakhir sebelum COVID mengguncang box office.
Meski begitu, industri punya alasan merayakan: pendapatan domestik sudah melampaui US$8 miliar menurut Rentrak, lebih cepat daripada tahun lalu yang baru menembusnya pada Desember. Paul Dergarabedian dari Rentrak menilai musim panas berperan besar, dan ia memprediksi November–Desember akan memanas lagi seiring jadwal film besar seperti “Avengers: Doomsday”, “Dune: Part III”, “The Hunger Games: Sunrise on the Reaping”, dan “Focker-in-Law”.
Yang paling “berita” dari akhir pekan ini bukanlah kemenangan horor, melainkan rapuhnya film bertema korporasi di layar lebar. Ketika skandal perusahaan sudah menjadi format nyaman di serial, bioskop menuntut pengalaman yang lebih visceral, dan “Other Mommy” menawarkan itu—walau kualitasnya diperdebatkan.
Nilai 19% Rotten Tomatoes dan “D+” CinemaScore seharusnya menjadi alarm bahwa kemenangan bisa bersifat semu. Horor boleh menang cepat, tetapi “umur” film ditentukan oleh rekomendasi mulut ke mulut, dan Gross sudah memberi sinyal bahwa penurunannya akan tajam.
Di sisi lain, “The Social Reckoning” seperti terjebak di antara dua dunia: ingin terlihat serius, tetapi harus berlari dari bayang-bayang mahakarya “The Social Network”. Menyebutnya “companion piece” tampak seperti upaya menghindari ekspektasi, namun publik justru membaca itu sebagai tanda film ini tidak punya keberanian berdiri sebagai pernyataan sinematik sendiri.
Kasus “Digger” memperlihatkan pelajaran paling mahal: reputasi bintang dan solidaritas industri tidak otomatis menggerakkan pasar. Pada akhirnya, penonton membeli cerita yang mereka rasa perlu ditonton di bioskop, bukan sekadar film yang “kasihan kalau gagal”.
Akhir pekan ini memperlihatkan box office sebagai cermin selera yang makin pragmatis: murah, cepat, dan memacu adrenalin mengalahkan drama korporasi yang terasa seperti episode panjang. Namun angka-angka juga mengingatkan bahwa kemenangan awal tanpa kepercayaan penonton bisa runtuh secepat ia naik.
Jika Hollywood ingin menjaga bioskop tetap relevan, pertanyaannya bukan hanya film apa yang laku, tetapi pengalaman apa yang tak bisa digantikan layar rumah. Ketika horor menang meski dicaci, dan drama serius kalah meski rapi, mungkin kita sedang menyaksikan perubahan selera yang lebih dalam daripada sekadar tren musiman. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Oktober 2026)