Tren Olahraga Mahal Gen Z: Padel, Lari, dan FOMO Positivity

ORBITINDONESIA.COM – Tren olahraga mahal Gen Z dan Milenial kini memenuhi linimasa, dari komunitas lari hingga padel yang sedang naik daun. Di Jakarta dan Jogja, sepatu lari seharga UMR, raket bermerek, dan jam tangan pintar menjadi bagian dari pameran gaya hidup sehat. Di baliknya ada sub-keyword yang ramai dibahas publik: FOMO positivity, prestise sosial, dan minimnya fasilitas publik olahraga.

Di banyak kota besar, olahraga tidak lagi sekadar rutinitas menjaga tubuh, tetapi juga cara membangun citra diri. Tenis, softball, lari komunitas, sampai padel tampil sebagai “olahraga kalcer” yang dianggap modern dan layak dipamerkan. Perlengkapan mahal lalu menjadi bahasa visual yang mudah dibaca di media sosial.

Fenomena ini menguat terutama pada kelas menengah perkotaan yang dekat dengan ekosistem tren. Mereka bergerak cepat dari satu olahraga ke olahraga lain, mengikuti percakapan digital dan ajakan komunitas. Akibatnya, olahraga berubah menjadi paket lengkap: aktivitas, identitas, dan konsumsi.

Dosen Antropologi Universitas Airlangga, Rizky Sugianto Putri, menyebut gejala ini sebagai “FOMO Positivity” pada Gen Z dan Milenial. FOMO yang dulu lekat dengan hiburan, kini bergeser menjadi ketakutan tertinggal gaya hidup sehat. Olahraga pun tampil sebagai lifestyle statement, terutama saat banyak anak muda berada dalam fase quarter-life crisis.

Dalam kerangka itu, unggahan olahraga tidak selalu tentang progres fisik, melainkan tentang eksistensi sosial. Sepatu, baju, raket, dan gawai menjadi penanda keseriusan sekaligus simbol kelas. Ketika simbol itu diulang di linimasa, ia berubah menjadi standar baru yang diam-diam menekan.

Sosiolog Universitas Nasional, Nia Elvina, menilai pergeseran cepat dari sepeda lipat, tenis, hingga padel menunjukkan masyarakat mudah terbawa arus tren. Ia menyebut perubahan tren bisa bersifat siklikal, berulang dalam rentang sekitar satu dekade. Namun yang paling menonjol, kata Nia, dorongannya kerap terkait prestise, bukan murni kesehatan.

Jejaknya terlihat jelas pada era pandemi, ketika sepeda lipat puluhan juta rupiah menjadi komoditas status. Setelah pandemi reda, demam itu meredup dan digantikan oleh tenis lapangan, lalu padel dan lari dengan perangkat premium. Pola ini memperlihatkan bahwa “sehat” bisa menjadi panggung, sementara barang bermerek menjadi tiket masuk.

Di titik ini, olahraga berfungsi sebagai penanda status sosial kelas menengah. Ada tuntutan tak tertulis untuk memakai merek tertentu agar diterima dalam pergaulan olahraga. Komunitas yang seharusnya inklusif berisiko berubah menjadi ruang seleksi ekonomi.

Namun akar masalahnya tidak hanya budaya digital, melainkan juga kondisi kota. Nirwono Joga dalam bukunya RTH 30%! Resolusi (Kota) Hijau mengingatkan amanat Undang-Undang Penataan Ruang yang mewajibkan minimal 30 persen Ruang Terbuka Hijau (RTH). Ia menulis bahwa ketersediaan taman kota dan RTH di kota-kota besar masih jauh dari target itu.

Di lapangan, trotoar sering rusak atau terhalang, sehingga lari menjadi aktivitas penuh risiko. Polusi udara dari kendaraan membuat olahraga pinggir jalan terasa kontradiktif dengan tujuan sehat. Penerangan minim pada malam hari juga meningkatkan ancaman kecelakaan dan kejahatan jalanan.

Ketika ruang publik gratis tak memadai, warga mencari ruang aman yang disediakan pasar. Jalur lari nyaman sering terkonsentrasi di kawasan elite seperti SCBD atau area besar seperti GBK, sementara opsi lain adalah pusat kebugaran berbayar. Akhirnya, akses olahraga yang aman menjadi semakin bergantung pada kemampuan membayar.

Tren olahraga mahal memang bisa dibaca sebagai kabar baik, karena orang bergerak dan lebih sadar tubuh. Namun ia juga bisa menjadi gejala kota yang gagal menyediakan hak dasar: ruang publik yang layak. Ketika negara absen, olahraga berubah dari kebutuhan menjadi komoditas, lalu prestise menempel di setiap gerak.

Di media sosial, “sehat” sering dipaketkan sebagai estetika yang mudah dijual. Ini membuat banyak orang mengejar tampilan, bukan pengetahuan teknik atau batas kemampuan tubuh. Risiko cedera pun meningkat ketika olahraga dilakukan demi validasi, bukan demi kebugaran yang berkelanjutan.

Yang lebih mengkhawatirkan, budaya ini menormalkan gagasan bahwa untuk sehat kita harus membayar mahal. Padahal, kesehatan publik semestinya ditopang oleh kebijakan kota, bukan semata oleh lapangan sewa dan merek premium. Jika tren terus bergerak tanpa koreksi, olahraga akan makin menjauh dari warga yang paling membutuhkan ruang aman untuk bergerak.

Tren olahraga mahal Gen Z, dari padel hingga komunitas lari, adalah cermin dari dua hal sekaligus: hasrat menjadi sehat dan kebutuhan diakui. Ia memperlihatkan FOMO positivity yang mendorong orang bergerak, tetapi juga prestise yang menyusup lewat merek dan akses. Pada saat yang sama, ia membuka luka lama tentang minimnya RTH dan infrastruktur publik yang ramah pejalan kaki.

Pertanyaannya bukan apakah tren ini baik atau buruk, melainkan siapa yang akhirnya tertinggal ketika olahraga menjadi ruang eksklusif. Jika kota menyediakan trotoar aman, taman memadai, dan udara lebih bersih, mungkin “sehat” tak perlu selalu berharga mahal. Pada akhirnya, kita perlu merenung: apakah kita berolahraga untuk hidup lebih panjang, atau untuk terlihat lebih pantas di mata orang lain. (Orbit dari berbagai sumber, 4 Juni 2026)