Pemakaman Massal Korban Banjir Bandang Nepal, Duka dan Peringatan Iklim
ORBITINDONESIA.COM – Pemakaman massal korban banjir bandang Nepal digelar di Devghat, Chitwan, saat keluarga menunggu nama-nama yang tak lagi pulang. Di tengah deretan jenazah korban longsor Nepal, duka berubah menjadi pertanyaan: mengapa bencana terasa makin sering dan makin mematikan.
Devghat, sebuah kawasan pertemuan sungai yang sakral bagi banyak warga, mendadak menjadi ruang perpisahan kolektif. Pemakaman massal itu menandai skala kehilangan yang melampaui kemampuan keluarga untuk berduka secara privat.
Banjir bandang dan longsor kerap mengikuti hujan ekstrem di negara pegunungan seperti Nepal. Ketika lereng rapuh bertemu sungai yang meluap, rumah, jalan, dan tubuh manusia sama-sama terseret.
Dalam banyak kasus, korban bukan hanya yang tinggal di tepi sungai, tetapi juga mereka yang hidup di bawah tebing yang dipotong untuk permukiman. Risiko bertambah saat pembangunan berjalan tanpa peta bahaya yang kuat dan pengawasan yang konsisten.
Nepal berada di jantung Himalaya, wilayah yang secara ilmiah dikenal rentan terhadap perubahan pola monsun dan pencairan gletser. Laporan IPCC menegaskan Asia Selatan mengalami peningkatan kejadian hujan ekstrem yang memperbesar potensi banjir bandang dan longsor.
Secara geografis, Chitwan menjadi simpul aliran air dari hulu ke dataran lebih rendah, sehingga limpasan cepat dapat menumpuk dalam hitungan jam. Ketika peringatan dini terlambat, evakuasi berubah menjadi perlombaan yang hampir mustahil dimenangkan.
Tragedi di Devghat juga memotret masalah klasik manajemen bencana: data risiko ada, tetapi tidak selalu hadir dalam keputusan harian warga. Banyak keluarga memilih tinggal dekat sumber air dan akses kerja, meski itu berarti tinggal dekat jalur bahaya.
Di sisi lain, deforestasi dan pembukaan lahan di lereng memperlemah daya ikat tanah. Infrastruktur drainase yang buruk membuat air permukaan menambah tekanan pada tebing dan memicu longsoran susulan.
Rantai bencana ini biasanya berakhir di tempat yang sama: pemakaman, bantuan darurat, lalu pelan-pelan dilupakan. Padahal, setiap pemakaman massal adalah arsip sosial tentang kegagalan mitigasi yang berulang.
Pemakaman massal korban banjir bandang Nepal bukan sekadar berita duka, melainkan indikator bahwa risiko telah dinormalisasi. Ketika kematian kolektif dianggap “takdir musim hujan”, ruang untuk menuntut kebijakan yang lebih keras ikut mengecil.
Negara sering hadir setelah bencana, tetapi terlihat samar sebelum bencana. Yang dibutuhkan bukan hanya tenda dan logistik, melainkan tata ruang yang berani memindahkan permukiman dari zona rawan.
Namun tanggung jawab tidak berhenti pada pemerintah, karena ekonomi lokal ikut mendorong orang tinggal di tempat berbahaya. Jika relokasi tidak disertai pekerjaan, sekolah, dan akses layanan, maka relokasi hanya memindahkan kemiskinan.
Di level global, Nepal adalah pengingat ketidakadilan iklim: emisi historisnya kecil, tetapi bebannya besar. Setiap jenazah yang dimakamkan di Devghat seolah menagih janji pendanaan adaptasi yang sering terdengar di konferensi, namun lambat tiba di desa.
Di Devghat, kesedihan tidak hanya berbicara tentang siapa yang hilang, tetapi juga tentang apa yang gagal dijaga. Pemakaman massal itu mengajarkan bahwa bencana alam selalu memiliki sisi sosial dan politik.
Jika hujan ekstrem akan menjadi “normal baru”, maka kesiapsiagaan harus menjadi kebiasaan baru yang sama kuatnya. Pertanyaannya sederhana dan tajam: berapa banyak pemakaman lagi yang dibutuhkan sebelum pencegahan dianggap lebih penting daripada belasungkawa.
(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)