Pakta Makkah Turki-Saudi-Pakistan: Penilaian Mohsen Rezaei
ORBITINDONESIA.COM – Pakta Makkah, perjanjian keamanan trilateral Turki, Arab Saudi, dan Pakistan, dinilai Mohsen Rezaei sebagai sinyal konsolidasi baru di jantung geopolitik Muslim. Penilaian itu bukan sekadar komentar, melainkan pembacaan Iran atas arah koalisi yang bisa mengubah peta ancaman dan aliansi regional.
Di Timur Tengah dan Asia Selatan, arsitektur keamanan jarang lahir dari ketenangan, melainkan dari rasa cemas yang sama-sama dipelihara. Turki mencari ruang pengaruh pasca-krisis Suriah, Saudi memburu payung stabilitas setelah bertahun-tahun kompetisi regional, sementara Pakistan menimbang manfaat strategis di tengah tekanan ekonomi dan dinamika Afghanistan.
Istilah “Pakta Makkah” juga sarat simbol, karena menempel pada kota suci yang mengisyaratkan legitimasi moral. Dalam praktiknya, simbol sering dipakai untuk menutup fakta bahwa perjanjian keamanan tetaplah kalkulasi kepentingan, bukan sekadar persaudaraan.
Mohsen Rezaei, sebagai Sekretaris Dewan Keamanan Nasional, membaca pakta ini melalui lensa keseimbangan kekuatan dan pencegahan. Jika tiga negara menyatukan intelijen, latihan militer, dan koordinasi kontra-teror, maka efeknya bisa melampaui keamanan domestik dan merembet ke persaingan pengaruh di kawasan.
Turki membawa kapasitas industri pertahanan yang meningkat, dari drone tempur hingga sistem komando yang diuji di beberapa medan konflik. Saudi membawa sumber daya finansial dan jaringan diplomatik, sedangkan Pakistan membawa pengalaman militer dan posisi geografis yang menghubungkan Teluk, Asia Selatan, dan jalur menuju Asia Tengah.
Namun, “trilateral” tidak otomatis berarti solid, karena kepentingan ketiganya tidak selalu sejalan. Turki kerap bernegosiasi keras soal isu Ikhwanul Muslimin dan pengaruh di Mediterania Timur, Saudi sensitif terhadap ancaman lintas-batas dan stabilitas internal, sementara Pakistan harus menjaga kalkulasi dengan India dan kebutuhan bantuan ekonomi.
Dari sisi Iran, pakta semacam ini berpotensi dibaca sebagai upaya pembatasan ruang gerak, terutama jika koordinasinya menyentuh isu-isu sensitif seperti keamanan maritim dan jaringan proksi. Di banyak kasus, respons negara yang merasa “dikepung” adalah memperkuat pencegahan, bukan melunak, sehingga pakta keamanan bisa memicu spiral ketidakpercayaan.
Rezaei kemungkinan menekankan bahwa koalisi keamanan yang lahir tanpa mekanisme transparansi dan manajemen krisis cenderung memperbesar risiko salah hitung. Sejarah menunjukkan, blok-blok regional sering efektif di atas kertas, tetapi rapuh ketika berhadapan dengan perbedaan prioritas dan perubahan rezim.
Yang juga penting, label kontra-teror sering menjadi payung luas yang bisa dipakai untuk agenda yang lebih politis. Ketika definisi “ancaman” tidak disepakati secara sempit, operasi keamanan bisa bergeser menjadi kompetisi pengaruh, dan itulah titik yang biasanya mengundang reaksi keras dari pihak yang merasa disasar.
Penilaian Rezaei seharusnya dibaca sebagai pesan ganda: peringatan dan undangan. Peringatan bahwa Iran tidak akan menganggap enteng konsolidasi militer di sekelilingnya, sekaligus undangan bahwa stabilitas regional tidak bisa dibangun lewat pakta eksklusif yang memproduksi kubu baru.
Pakta Makkah bisa menjadi alat stabilisasi jika fokus pada ancaman yang benar-benar bersama, seperti terorisme lintas negara, penyelundupan, dan keamanan jalur logistik. Tetapi ia bisa berubah menjadi instrumen polarisasi jika dipakai untuk menekan rival, karena rival akan membalas dengan logika yang sama.
Publik perlu bertanya: siapa yang diuntungkan ketika keamanan dijadikan proyek blok, bukan proyek tata kelola bersama. Di kawasan yang sarat konflik, “koalisi” sering terdengar seperti solusi, padahal kadang hanya cara lain untuk melanjutkan kompetisi dengan bahasa yang lebih rapi.
Pernyataan Mohsen Rezaei tentang Pakta Makkah menegaskan bahwa setiap perjanjian keamanan adalah teks politik yang dibaca berbeda oleh tiap ibu kota. Turki, Saudi, dan Pakistan mungkin melihatnya sebagai penguatan koordinasi, tetapi Iran bisa melihatnya sebagai perubahan medan permainan.
Pada akhirnya, pertanyaan terbesar bukan apakah pakta itu akan ditandatangani atau diperluas, melainkan apakah ia akan menurunkan rasa takut atau justru menginstitusikannya. Jika keamanan dibangun di atas eksklusivitas, maka stabilitas hanya akan menjadi jeda singkat sebelum ketegangan berikutnya. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)