Dae'Quan Wright Masuk Portal Transfer NCAA Usai NFL Browns
ORBITINDONESIA.COM – Dae'Quan Wright, mantan tight end Ole Miss yang sempat berada di Cleveland Browns, resmi lolos waiver NFL dan disebut akan menandatangani kesepakatan dengan LSU Tigers asuhan Lane Kiffin. ESPN melalui Adam Schefter menilai kasus ini berpotensi menjadi preseden: pemain yang sempat bisa bermain di NFL lalu kembali ke sepak bola kampus lewat portal transfer NCAA.
Menurut laporan Adam Schefter, Cleveland Browns lebih dulu melepas Wright, lalu statusnya menunggu proses waiver NFL sebelum ia bisa kembali ke level perguruan tinggi. Setelah ia “cleared waivers”, arah berikutnya disebut menuju LSU, sebuah langkah yang memantik perdebatan tentang batas antara amatirisme kampus dan profesionalisme.
Gelombang kembalinya atlet tidak berdiri sendiri, karena Max Olson dari ESPN melaporkan Wright termasuk beberapa nama yang masuk portal berkat perintah penahanan sementara dari pengadilan Louisiana. Associated Press mencatat ada 33 atlet lintas cabang, termasuk 16 pemain football, yang menggugat demi mendapat tahun kelima kelayakan bermain.
Brad Crawford dari CBS Sports menekankan satu detail penting: Wright disebut sebagai pemain NFL aktif pertama yang masuk portal transfer perguruan tinggi. Jika benar, ini bukan sekadar perpindahan tim, melainkan uji coba nyata terhadap celah aturan yang muncul dari putusan pengadilan.
Terjemahan akurat isi artikel sumber menyebut Wright adalah mantan tight end Ole Miss dan Cleveland Browns yang baru masuk portal transfer NCAA, telah resmi lolos waiver, dan diperkirakan menandatangani kontrak dengan LSU Tigers. Schefter juga mengatakan Wright “dipercaya menjadi pemain pertama yang bisa bermain untuk tim NFL, lalu kembali bermain di kampus.”
Terjemahan itu juga memuat bahwa beberapa atlet lain ikut masuk portal, termasuk TJ Harden dari SMU, Weylin Lapuaho dari BYU, Zxavian Harris dari Ole Miss, Trent Hendrick dari James Madison, Ethan Johnson dari Appalachian State, dan Luke Drzewiecki dari New Mexico. Mereka bisa masuk portal karena adanya temporary restraining order dari pengadilan Louisiana yang sementara membuat mereka memenuhi syarat untuk kembali bermain.
Dari sisi data performa, Wright memang punya “nilai jual” yang membuat pintu kampus terbuka lebar. Ia tidak terpilih dalam NFL Draft April, tetapi pada musim terakhirnya di Ole Miss ia mencatat 39 tangkapan, 635 yard, dan lima touchdown, serta membantu timnya meraih tiket College Football Playoff.
Dua momen yang disebut dalam artikel menegaskan dampaknya di panggung besar. Ia mencetak touchdown saat Ole Miss menang di SEC atas South Carolina, dan satu touchdown lain saat Rebels kalah dari Miami di semifinal nasional CFP.
Nama lain yang ikut disorot adalah Zxavian Harris, yang juga bagian dari skuad Ole Miss tersebut. Harris menutup musim 2025 dengan 58 tekel, sembilan tekel untuk rugi, tiga sack, tiga operan dipatahkan, dan satu intersepsi.
Namun inti persoalan bukan sekadar statistik, melainkan arsitektur aturan yang sedang bergeser. Jika putusan sementara pengadilan bisa membuka jalan “pulang” dari orbit NFL ke NCAA, maka jalur karier atlet berubah dari tangga satu arah menjadi pintu putar.
Di sinilah portal transfer NCAA bertransformasi dari pasar perpindahan antarkampus menjadi mekanisme mobilitas lintas level. Ketika seorang pemain sempat berada di practice squad NFL saat training camp lalu kembali ke kampus, konsep “amatir” menjadi makin sulit dipertahankan secara moral maupun administratif.
Kasus Dae'Quan Wright menunjukkan bahwa hukum kini ikut menulis playbook sepak bola kampus, bukan hanya NCAA atau konferensi. Temporary restraining order memberi ruang napas bagi atlet yang merasa hak kelayakannya dipotong, tetapi efek sampingnya adalah lahirnya jalur yang bisa dimanfaatkan secara strategis.
Jika NCAA menerima kembalinya pemain berstatus “nyaris NFL”, maka kompetisi kampus berpotensi makin timpang. Program besar dengan daya tarik NIL, staf elite, dan eksposur nasional akan lebih mudah “memulangkan” talenta yang sudah tersaring kerasnya ekosistem profesional.
Di sisi lain, menutup pintu rapat-rapat juga tidak sepenuhnya adil bagi atlet yang tidak mendapat kepastian karier dari NFL. Wright tidak ter-draft, dan status practice squad tidak selalu berarti stabil, sehingga kembali ke kampus bisa dipandang sebagai upaya rasional untuk mengamankan pendidikan, panggung, dan nilai pasar.
Masalahnya, publik akan bertanya: apakah ini masih tentang pendidikan, atau tentang optimasi karier dengan memanfaatkan celah regulasi. Ketika batas NCAA dan NFL memudar, yang paling rentan justru program kecil dan pemain yang tidak punya akses litigasi.
LSU, yang disebut akan menjadi pelabuhan Wright, berada di titik persimpangan antara kebutuhan menang dan legitimasi sistem. Jika transfer semacam ini menjadi tren, NCAA mungkin dipaksa merumuskan ulang definisi kelayakan, termasuk bagaimana memperlakukan pengalaman profesional, waiver, dan status roster.
Kembalinya Dae'Quan Wright dari orbit NFL ke portal transfer NCAA bukan sekadar kisah comeback, melainkan sinyal bahwa era baru sedang dibentuk oleh pengadilan, portal, dan ekonomi NIL. Ia bisa menjadi preseden yang menguntungkan atlet, tetapi juga bisa membuka ketimpangan baru dalam peta persaingan kampus.
Pertanyaan akhirnya sederhana tetapi tajam: jika jalur NFL-ke-NCAA menjadi normal, apa yang masih membedakan sepak bola kampus dari liga profesional selain labelnya. Di tengah euforia transfer dan peluang kedua, publik layak menuntut satu hal yang konsisten, yaitu keadilan aturan yang tidak hanya menguntungkan mereka yang paling kuat. (Orbit dari berbagai sumber, 31 Agustus 2026)