Denny JA: Bendera Merah Putih yang Terkoyak di Perahu Ayahnya
- Pengantar Buku Rumah Itu Bernama Indonesia (Arisan Puisi Esai, 2026)
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Di Temajuk, Kalimantan Barat, seorang anak meminta ayahnya memasang Merah Putih di perahu. Semalam, ibunya menjahit bendera yang terkoyak, seolah merawat anggota keluarga.
Sang ayah tersenyum. Sebelum kamera anaknya memotret, diam-diam ia menyembunyikan tagihan solar. Ia ingin kemiskinannya tidak ikut masuk ke dalam foto kebanggaan itu.
Bendera kembali berkibar. Tetapi siapa yang akan menjahit kehidupan keluarga nelayan yang terkoyak? Mereka terus mencintai Indonesia, meski setiap hari harus berjuang mempertahankan martabatnya.
-000-
Kisah itu hadir dalam puisi esai Bendera di Perahu Bapak, karya Nita Lusaid, yang membuka antologi Rumah Itu Bernama Indonesia.
Buku ini mengajak kita memasuki Indonesia yang jarang menjadi pusat pidato kenegaraan. Indonesia di perahu nelayan, ruang kelas sederhana, rumah miskin, hingga hutan yang terluka.
Di sana, nasionalisme bukan sekadar bendera dan lagu kebangsaan. Ia hadir dalam kehidupan manusia yang mencintai tanah air, tetapi masih menunggu keadilan.
Antologi terbitan Cerah Budaya International, Oktober 2026, ini menghimpun 38 karya dalam enam kelompok tematik, ditulis oleh delapan belas penulis.
Mereka adalah Adhiyaksa S. Goma, Anggun Julia, Dhenok Kristianti, Dindin Moh Saepudin, Esa Varau Rossain, Eva Mulusia Anies, Fika Asfia, dan Fitri Rizqy Hilda Sari.
Hadir pula Muhammad Ghonim Diah, Haifa Shakayla, Ena Manal Ahmad, Mohamad Farhan, Winarmi Dailami, Nita Lusaid, Rachel Azzahra Putri, Saskia Ubaidi, Shavira Sukma Cahyani, dan Zulri Ramadhan.
Buku ini lahir melalui Komunitas Arisan Puisi Esai, yang diinisiasi Denny JA Foundation, dengan Dhenok Kristianti sebagai mentor sekaligus editor dan Nita Lusaid sebagai penanggung jawab kegiatan.
Dhenok mengisahkan perjalanan mendampingi para penulis, dari keraguan menuju keberanian berkarya. Melalui riset dan revisi, mereka belajar mempertemukan ketelitian fakta dengan kepekaan manusia.
Baginya, antologi ini menjadi cermin Indonesia. Nasionalisme tidak cukup berhenti pada kebanggaan, tetapi juga memerlukan keberanian menyuarakan ketidakadilan dan membela mereka yang terlupakan.
Nita, dalam refleksinya Menata Hati Melalui Arisan Puisi Esai, memperlihatkan bagaimana perjumpaan hangat berkembang menjadi komunitas kreatif yang belajar mendengarkan penderitaan sesama.
Arisan yang semula mengingatkan kita pada persahabatan dan kegembiraan bersama kini memperoleh makna baru. Ia menjadi ruang belajar untuk memperluas kepedulian sosial.
Para penulis datang membawa pengalaman berbeda. Mereka pulang membawa kepekaan baru, kesadaran bahwa kehidupan orang lain juga menyimpan persoalan yang layak diperjuangkan.
-000-
Dari Bendera Menuju Martabat Manusia
Ada satu pertanyaan besar yang mengalir sepanjang antologi ini. Apakah mencintai negara cukup dibuktikan dengan kesetiaan, atau juga menuntut keberanian memperbaiki ketidakadilan?
Seorang nelayan yang kesulitan membeli solar tidak kurang nasionalis dibanding pejabat yang berpidato tentang kedaulatan. Mereka mencintai Indonesia melalui keadaan berbeda.
Namun, hubungan rakyat dengan negara mengandung tanggung jawab timbal balik. Rakyat menjaga republik melalui kesetiaan, sedangkan kekuasaan wajib menjaga rakyat melalui keadilan.
Bendera, lagu kebangsaan, dan upacara kemerdekaan tetap penting. Tetapi kebanggaan simbolik menjadi lebih bermakna ketika disertai kesempatan hidup layak bagi seluruh warga.
Di sinilah antologi ini memperluas pengertian nasionalisme. Kritik yang lahir dari kepedulian bukanlah pengkhianatan, melainkan undangan memperbaiki rumah yang kita cintai.
Nasionalisme yang matang tidak meminta rakyat menutup mata terhadap kekurangan. Ia justru membutuhkan keberanian mengakui persoalan tanpa kehilangan keyakinan pada masa depan.
Buku ini juga memperlihatkan bagaimana puisi esai mempertemukan dua dunia yang sering terpisah: fakta sosial yang terukur dan pengalaman batin yang tidak selalu terlihat.
Statistik dapat menunjukkan jumlah anak yang meninggalkan sekolah. Tetapi sebuah cerita memperlihatkan bagaimana seorang anak melipat seragam sambil menguburkan cita-citanya sendiri.
Data memberi kita ukuran persoalan. Sastra memberi persoalan itu wajah.
Namun, nilai terdalam antologi ini terletak pada sesuatu yang lebih luas. Ia ikut membangun apa yang selama ini saya sebut sebagai Arsip Batin Bangsa.
-000-
Puisi Esai sebagai Arsip Batin Bangsa
Setiap bangsa mempunyai arsip resmi. Di sana tersimpan undang-undang, keputusan politik, statistik pembangunan, catatan peperangan, dan peristiwa yang dianggap menentukan perjalanan sejarah.
Tetapi manusia tidak hanya hidup dalam keputusan besar. Mereka juga hidup dalam ketakutan, kehilangan, harapan, kesunyian, dan keberanian yang jarang tercatat.
Sejarah mungkin mencatat kapan kerusuhan terjadi. Namun, siapa mencatat kegelisahan seorang ibu yang menunggu anaknya pulang ketika jalanan dipenuhi api?
Laporan ekonomi dapat menghitung kerugian nelayan. Tetapi siapa menyimpan rasa malu seorang ayah yang menyembunyikan tagihan solar dari kamera anaknya sendiri?
Di sinilah sastra menemukan salah satu panggilan terpentingnya. Ia membantu menyimpan pengalaman batin manusia yang sering terjatuh dari halaman sejarah resmi.
Arsip Batin Bangsa adalah ingatan kolektif tentang bagaimana rakyat mengalami peristiwa sejarah, bukan sekadar catatan mengenai apa yang terjadi.
Arsip resmi membantu sebuah bangsa mengingat peristiwa. Arsip batin membantu bangsa memahami manusia yang berada di dalamnya, beserta luka dan harapan mereka.
Keduanya tidak saling menggantikan. Justru ketika dipertemukan, sejarah memperoleh kedalaman moral, sementara sastra mendapatkan pijakan kenyataan yang dapat diperiksa secara bertanggung jawab.
Gagasan ini bukan lahir dari renungan yang jauh dari kehidupan. Ia tumbuh dari pengalaman yang sangat personal, ketika sebuah kisah kekerasan mengguncang batin.
-000-
Dari Kerusuhan Mei 1998 Menuju Sapu Tangan Fang Yin
Ingatan saya kembali kepada kerusuhan Mei 1998. Indonesia mengalami salah satu babak paling menyakitkan ketika kekerasan, penjarahan, dan kebencian rasial merobek kehidupan warga, terutama warga keturunan Tionghoa.
Saya mendengar kisah tentang anak seorang teman yang menjadi korban kekerasan dalam kerusuhan tersebut. Cerita itu meninggalkan kegelisahan yang tidak mudah dilupakan, dan kelak menjadi ilham bagi tokoh fiktif Fang Yin.
Di balik peristiwa besar yang dibicarakan publik, terdapat kehidupan pribadi yang hancur. Ada ketakutan yang tidak selesai ketika kerusuhan berakhir dan jalanan kembali tenang.
Yang terus mengusik bukan hanya kenyataan bahwa kekerasan telah terjadi. Lebih jauh, bagaimana penderitaan seseorang dapat tetap hidup ketika perhatian masyarakat mulai berpindah?
Sejak itu, pertanyaan tentang kemampuan sastra menyimpan kesaksian manusia menjadi semakin penting. Saya ingin pengalaman korban tidak tenggelam dalam angka dan kronologi.
Kegelisahan tersebut baru menemukan bentuk kesusastraan empat belas tahun kemudian, melalui Sapu Tangan Fang Yin (2012). Puisi esai ini mengisahkan perempuan Tionghoa yang menjadi korban kekerasan seksual dalam tragedi Mei 1998.
Sapu tangan adalah benda kecil. Dalam puisi itu, sapu tangan pemberian kekasih yang kemudian meninggalkannya dibawa Fang Yin ke Amerika dan disimpannya selama tiga belas tahun.
Benda sederhana itu menyimpan sesuatu yang tidak sanggup ditampung oleh laporan sejarah paling tebal. Ia menjadi lambang ingatan, kehilangan, dan luka yang terus dibawa, bahkan ketika dunia telah menganggap tragedi sebagai masa lalu.
Di situlah saya semakin memahami perbedaan antara mengetahui penderitaan dan merasakannya. Pengetahuan membuat kita memahami peristiwa. Empati mengajak kita bertanggung jawab.
Tentu, pengolahan kesaksian menjadi sastra menuntut kehati-hatian. Pengalaman korban harus dihormati, fakta dijaga, dan imajinasi tidak boleh diperlakukan sebagai dokumentasi harfiah.
Namun, tanpa ruang bagi pengalaman batin, sejarah dapat berubah menjadi museum peristiwa yang dingin. Kita mengetahui tanggalnya, tetapi kehilangan getaran kemanusiaannya.
Pengalaman Sapu Tangan Fang Yin memperkuat keyakinan saya bahwa puisi esai dapat menjadi jembatan antara kesaksian sosial dan ingatan moral sebuah bangsa.
Karena itu, membaca antologi Arisan Puisi Esai membawa kegembiraan tersendiri. Semakin banyak penulis bersedia menjadi saksi kehidupan yang sebelumnya tidak memperoleh perhatian.
Mereka tidak harus menunggu peristiwa monumental. Di tangan yang peka, penderitaan seorang nelayan pun dapat membuka percakapan besar tentang nasionalisme dan keadilan.
-000-
Tiga Kisah dari Rumah yang Belum Selesai Dibangun
Dalam Masa Depan yang Tak Sampai, Haifa Shakayla menghadirkan Dimas, seorang anak yang bercita-cita menjadi guru, tetapi terbentur keadaan ekonomi keluarganya.
Dimas membayangkan dirinya berdiri di depan kelas. Ia ingin menuliskan pelajaran di papan tulis dan membantu anak-anak lain mengenal dunia yang lebih luas.
Namun, kemiskinan membuat masa depan terasa semakin jauh. Buku harus disimpan. Seragam dilipat. Kehidupan meminta tenaganya sebelum masa kecil sempat diselesaikan.
Yang paling menyedihkan, Dimas tidak kehilangan kecerdasan atau kemauan belajar. Ia kehilangan kesempatan, sesuatu yang seharusnya tidak ditentukan semata oleh keadaan keluarga.
Ada tragedi yang berlangsung tanpa jeritan. Ia terjadi ketika seorang anak perlahan berhenti membicarakan cita-citanya karena kebutuhan hari ini selalu datang lebih dahulu.
Lebih menggetarkan lagi, kisah tersebut ditulis Haifa ketika masih berusia empat belas tahun. Kepekaan terhadap ketidakadilan ternyata tidak harus menunggu kedewasaan.
Karya ini mengingatkan pembuat kebijakan bahwa keberhasilan pendidikan tidak cukup diukur melalui anggaran dan jumlah sekolah, melainkan juga kehidupan anak yang terselamatkan.
-000-
Dalam Merdeka di Bawah Lampu Kristal, Saskia Ubaidi mempertemukan dua dunia yang berada di bawah bendera sama, tetapi mengalami kemerdekaan secara berbeda.
Di satu tempat, lampu kristal menerangi perayaan. Orang berbicara tentang kejayaan republik. Di tempat lain, seorang ibu menghitung uang untuk beras.
Ia juga memikirkan ongkos sekolah anaknya. Setiap pengeluaran harus dipertimbangkan, sedangkan gemerlap kemerdekaan tampak begitu jauh dari meja makan keluarganya.
Kontras itu menggugah bukan karena perayaan kemerdekaan merupakan kesalahan. Bangsa membutuhkan simbol kebersamaan, tetapi simbol juga harus mengingatkan kita kepada tanggung jawab.
Apalah arti kemerdekaan bagi seorang ibu jika setiap malam ia masih harus memilih antara kebutuhan makan keluarga dan kesempatan pendidikan anaknya sendiri?
Lampu kristal mungkin mampu menerangi ruangan yang megah. Namun, cahaya kemerdekaan belum sempurna jika tidak menjangkau rumah-rumah yang masih hidup dalam kecemasan.
-000-
Kisah ketiga hadir dalam Menagih Janji Republik, karya Adhiyaksa S. Goma, yang membawa pembaca menuju Aceh, daerah dengan sejarah pengorbanan dan pergulatan panjang.
Pada 1948, rakyat Aceh mengumpulkan emas dan dana untuk membeli pesawat Seulawah bagi republik yang baru lahir. Kemudian datang konflik bersenjata, tsunami 2004, dan perdamaian Helsinki 2005.
Dari ingatan itu, karya ini mengajukan pertanyaan yang tidak nyaman. Mengapa daerah yang pernah menyumbangkan sayap bagi republik masih harus memperjuangkan agar kebutuhan warganya memperoleh perhatian yang memadai?
Pertanyaan itu tidak cukup dijawab dengan nostalgia. Ia membutuhkan tata kelola yang baik, pemerataan kesempatan, akuntabilitas, serta dialog berkelanjutan antara pusat dan daerah.
Karya ini mengingatkan bahwa persatuan tidak bertahan hanya melalui ingatan bersama. Ia memerlukan pengalaman keadilan yang terus diperbarui dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Indonesia menjadi lebih kuat bukan ketika suara daerah dibungkam, melainkan ketika perbedaan pengalaman mendapat tempat terhormat di dalam rumah kebangsaan yang sama.
-000-
Ketiga kisah tersebut menunjukkan luasnya pengalaman yang tersimpan dalam satu republik. Kemiskinan, pendidikan, dan keadilan daerah ternyata terhubung oleh persoalan martabat manusia.
Antologi ini juga menghadirkan kekerasan terhadap anak, kesulitan kesehatan, ketimpangan pekerjaan, dan kerusakan lingkungan. Ada pula persoalan yang lebih sunyi: keberagaman budaya yang belum selalu memperoleh pengakuan setara.
-000-
Rumah dengan Banyak Dapur
Dalam Sagu, Tamu di Negeri Nasi, Saskia Ubaidi memperlihatkan bahwa persoalan kebangsaan dapat tersembunyi dalam sesuatu yang sederhana: pilihan makanan sehari-hari.
Sagu, yang berakar dalam kehidupan masyarakat Maluku, justru diperlakukan sebagai tamu di negerinya sendiri. Karya ini mempertanyakan kebiasaan mengukur kekayaan budaya Indonesia melalui satu pola yang dianggap dominan.
Persatuan bukanlah keseragaman. Rumah bersama menjadi kuat justru ketika penghuninya boleh mempertahankan ingatan, bahasa, tradisi, dan cara hidup yang berbeda.
-000-
Dua Buku yang Memperluas Cakrawala
Untuk memahami mengapa kisah-kisah tersebut penting bagi kehidupan kebangsaan, dua karya pemikiran memberikan landasan intelektual yang relevan dan saling melengkapi.
Pertama, Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism, karya Benedict Anderson, yang pertama kali diterbitkan Verso pada 1983.
Anderson menjelaskan bangsa sebagai komunitas politik yang dibayangkan. Sebagian besar warganya tidak pernah saling mengenal, tetapi tetap merasakan ikatan kebangsaan bersama.
Ikatan tersebut tumbuh melalui bahasa, media cetak, pengalaman sejarah, dan proses sosial yang membentuk kesadaran mengenai kehidupan dalam satu komunitas politik.
Gagasan Anderson membantu memahami kekuatan antologi ini. Pembaca di Jakarta mungkin tidak mengenal nelayan Temajuk, tetapi dapat merasakan penderitaannya sebagai sesama warga.
Namun, teori Anderson terutama menjelaskan terbentuknya kesadaran kebangsaan. Puisi esai membawa pertanyaan lanjutannya: apakah perasaan sebangsa telah melahirkan tanggung jawab moral?
Kita tidak cukup membayangkan diri hidup bersama. Kita juga perlu membangun keadaan agar setiap anggota komunitas memperoleh kesempatan dan perlindungan yang layak.
-000-
Kedua, Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life, karya Martha C. Nussbaum, diterbitkan Beacon Press pada 1995, membahas kekuatan imajinasi sastra.
Nussbaum menunjukkan bagaimana sastra dapat memperkaya penilaian moral dalam kehidupan publik, terutama ketika manusia terlalu mudah direduksi menjadi angka atau kategori abstrak.
Melalui cerita, pembaca diajak memasuki dunia batin orang lain. Mereka mengenali harapan, ketakutan, kerentanan, serta kerumitan hidup yang tidak selalu terlihat.
Imajinasi sastra tidak menggantikan penalaran rasional. Ia justru membantu memperluas pertimbangan moral dengan menghadirkan keadaan konkret manusia yang terkena dampak keputusan publik.
Gagasan ini menjelaskan mengapa puisi esai mempunyai nilai sosial. Nelayan bukan sekadar penerima subsidi. Anak putus sekolah bukan hanya satuan statistik pendidikan.
Mereka memiliki nama, keluarga, kenangan, dan masa depan. Kebijakan yang melupakan dimensi tersebut mungkin tertib secara administratif, tetapi belum tentu memadai secara manusiawi.
Anderson membantu memahami mengapa kita merasa sebangsa. Nussbaum menerangkan mengapa kita perlu memahami kehidupan sesama. Puisi esai menghidupkan pertemuan keduanya.
-000-
Ketika Empati Memerlukan Ketelitian
Tentu, ada pertanyaan kritis yang harus dijawab. Apakah kisah yang menggugah emosi cukup menjadi dasar untuk memahami persoalan sosial dan kebijakan yang kompleks?
Keberatan itu mempunyai dasar. Sastra yang berlebihan mengandalkan penderitaan dapat tergelincir menjadi sentimentalisme, bahkan menyederhanakan persoalan yang penyebabnya jauh lebih rumit.
Satu kisah nelayan tidak mewakili seluruh kehidupan nelayan Indonesia. Demikian pula satu anak putus sekolah tidak dapat menjelaskan seluruh persoalan pendidikan nasional.
Karena itu, puisi esai harus menjaga disiplin ganda: kebebasan artistik dalam pengolahan cerita dan tanggung jawab intelektual dalam memperlakukan fakta serta konteks.
Empati membuka pintu kesadaran. Tetapi ketelitian riset menjaga agar kesadaran tersebut tidak berubah menjadi propaganda emosional, tuduhan keliru, atau kesimpulan yang melampaui dukungan bukti.
Demikian pula, kritik terhadap negara tidak boleh menghapus kenyataan adanya keberhasilan pembangunan. Nasionalisme matang mampu mengakui kemajuan sekaligus memperjuangkan perbaikan.
Namun, pesan moral yang kuat juga tidak otomatis menghasilkan karya sastra yang baik. Karakter, konflik, bahasa, dan kedalaman pengalaman tetap menentukan kualitas artistiknya.
Antologi ini memperlihatkan tingkat kematangan yang beragam. Ada karya yang kuat secara dramatik, sementara karya lain masih perlu memperdalam karakter dan pengolahan konflik.
Tetapi sebagai hasil kerja kolektif, buku ini menghadirkan pencapaian penting: semakin banyak penulis bersedia meneliti kenyataan dan menyuarakan pengalaman manusia yang terabaikan.
Saya berharap Arisan Puisi Esai menjadi ruang pembelajaran yang terus bertumbuh, tempat keberanian menulis berjalan bersama ketelitian, kerendahan hati, dan keterbukaan menerima kritik.
Lebih jauh, bayangkan jika komunitas semacam ini berkembang di berbagai daerah. Indonesia akan mempunyai semakin banyak kesaksian tentang kehidupan yang jarang dicatat.
Bukan hanya sejarah para pemimpin, tetapi juga sejarah batin nelayan, petani, buruh, guru, anak-anak, penyintas kekerasan, dan mereka yang hidup jauh dari pusat kekuasaan.
Di sanalah gagasan Arsip Batin Bangsa memperoleh makna. Kita menjaga ingatan bukan hanya agar peristiwa tidak dilupakan, tetapi agar penderitaan tidak kehilangan pelajaran.
Sebuah bangsa dapat mempunyai monumen megah dan museum yang lengkap. Namun, ingatan kolektifnya tetap timpang jika kehidupan orang kecil tidak mendapatkan tempat.
-000-
Rumah yang Masih Harus Kita Bangun
Pada akhirnya, ingatan saya kembali kepada bendera yang dijahit istri nelayan Temajuk. Kainnya tidak baru, tetapi tetap dirawat dengan ketekunan dan cinta.
Sang ayah kembali melaut. Tagihan solarnya belum lunas. Harga ikan belum berubah. Namun, ia masih mempunyai keluarga dan alasan untuk melanjutkan kehidupan.
Begitulah Indonesia dalam antologi ini. Sebuah rumah yang belum sempurna, dengan banyak luka, tetapi juga menyimpan keberanian manusia untuk terus berharap.
Mencintai Indonesia berarti menjaga harapan tersebut. Bukan dengan meniadakan kritik, melainkan dengan memastikan bahwa cinta tanah air berbuah keadilan dan martabat.
Dan itulah pekerjaan besar yang tidak pernah selesai: membangun republik tempat setiap warga dapat hidup layak, merasa diterima, serta mempunyai masa depan yang diperjuangkan.
Sebab, bendera Merah Putih tidak benar-benar utuh hanya karena kainnya telah dijahit kembali. Ia baru utuh ketika kehidupan rakyat di bawahnya tidak dibiarkan terkoyak.*
Jakarta, 20 Oktober 2026
REFERENSI
1. Anderson, Benedict. Imagined Communities: Reflections on the Origin and Spread of Nationalism. Verso, 1983.
2. Denny JA. Atas Nama Cinta. Rene Book, 2012.
3. Kristianti, Dhenok (ed.). Rumah Itu Bernama Indonesia. Cerah Budaya International, 2026.
4. Nussbaum, Martha C. Poetic Justice: The Literary Imagination and Public Life. Beacon Press, 1995.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.
https://www.facebook.com/share/1C921JWTMj/?mibextid=wwXIfr ***