Blackout Kuba Berulang: Jaringan Listrik Kolaps di Tengah Blokade Energi AS

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Blackout Kuba kembali melumpuhkan jaringan listrik nasional pada Jumat, membuat jutaan warga tanpa daya untuk setidaknya kali keenam sejak AS memutus pasokan bahan bakar pada Januari. “Tak ada yang sanggup dengan pemadaman terus-menerus,” kata Mercedes Rodriguez (60) di Havana, menggambarkan hidup tanpa makanan cukup, air, dan listrik. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Kementerian Energi dan Pertambangan Kuba mengumumkan pemadaman skala pulau lewat akun resmi X dan menyatakan protokol pemulihan layanan mulai diaktifkan. Otoritas menyebut gangguan terjadi pada jalur transmisi di barat, memicu kolaps sistem hingga Matanzas dan membuat wilayah timur terputus. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Harian resmi Granma menambahkan cuaca “tidak stabil” memperparah kondisi jaringan. Menjelang senja, listrik baru pulih bagi sekitar 5% pengguna di Havana dari total kira-kira 862.000 pelanggan menurut data resmi. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Pemerintah membentuk “mikro-pulau” distribusi listrik di Camagüey, Pinar del Río, dan Granma untuk menyalakan kantong-kantong daya terbatas. Sistem bagi rumah sakit dan fasilitas darurat mulai diaktifkan kembali, sementara warga menunggu tanpa kepastian. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Di pusat Havana, Abilén Marrero duduk pasrah di pintu masuk gedungnya. “Mungkin kembali sore ini atau besok—tidak ada cara untuk tahu,” ujarnya, merangkum psikologi publik yang lelah dan terbiasa pada ketidakpastian. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Kolaps jaringan listrik Kuba makin sering dalam dua tahun terakhir, seiring krisis ekonomi yang menekan kemampuan negara merawat infrastruktur. Namun ritmenya memburuk sejak Januari, ketika Amerika Serikat menerapkan blokade energi untuk mendorong perubahan sistem politik Kuba. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Donald Trump menandatangani perintah eksekutif yang mengancam tarif bagi negara yang menjual atau memasok minyak ke Kuba. Dampaknya bukan hanya pada pasokan bahan bakar untuk PLTU termal, tetapi juga pada suku cadang pengganti yang dibutuhkan untuk jaringan yang banyak sudah usang. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Data dalam laporan menyebut hanya satu kapal tanker yang mengirim bahan bakar sejak kebijakan itu berlaku, yakni tanker Rusia pada Maret. Ini menandakan pasokan menjadi titik cekik, sehingga satu gangguan transmisi bisa berubah menjadi kegagalan sistemik skala nasional. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Dalam beberapa bulan terakhir, pemadaman nasional terjadi lagi pada awal Agustus, setelah kejadian serupa pada Juli dan Maret, ditambah sejumlah pemadaman regional. Bahkan saat jaringan nasional berfungsi, warga Kuba disebut rutin mengalami pemadaman lebih dari 30 jam berturut-turut. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Duta Besar Kuba untuk PBB, Ernesto Soberón Guzman, menyebut situasi ini sebagai “hukuman kolektif” dalam wawancara dengan CBS News bulan lalu. Pernyataan itu menempatkan krisis listrik bukan semata soal teknis, melainkan soal konsekuensi kebijakan dan daya tahan sosial. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Efek berantai pemadaman dan embargo energi terlihat pada pembatasan transportasi, pemangkasan jam kerja, dan pembatalan penerbangan. Dampak kesehatan publik juga disebut serius, sementara aktivitas paling dasar seperti memasak, pasokan air, internet, dan layanan telepon ikut terganggu. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Blackout Kuba berulang menunjukkan rapuhnya negara ketika infrastruktur tua bertemu isolasi pasokan energi. Namun rapuhnya jaringan tidak berdiri sendiri, karena kebijakan eksternal yang menutup akses bahan bakar membuat ruang perbaikan menyempit dan biaya kegagalan membengkak. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Jika tujuan blokade adalah “memaksa perubahan politik,” maka listrik menjadi alat tekan yang paling terasa di dapur warga, bukan di ruang rapat elite. Kutipan Mercedes Rodriguez menegaskan bahwa yang runtuh lebih dulu adalah kualitas hidup, lalu kepercayaan publik pada kemampuan negara menyediakan kebutuhan dasar. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Di sisi lain, pemerintah Kuba tetap memikul tanggung jawab atas ketergantungan pada sistem termal dan jaringan transmisi yang menua tanpa cadangan memadai. Ketika “mikro-pulau” listrik menjadi solusi darurat, itu sekaligus pengakuan bahwa sistem besar tidak lagi cukup stabil untuk menanggung beban pulau secara utuh. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Laporan juga menyebut pemerintahan Trump diam-diam meninjau opsi aksi militer, termasuk skenario serangan udara yang dipimpin Angkatan Darat, meski ditegaskan belum ada keputusan operasi. Sementara Menlu Marco Rubio menyatakan AS lebih memilih jalur diplomatik menuju pemerintahan teknokrat yang mau reformasi ekonomi, proses itu disebut macet meski tekanan meningkat. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Trump bahkan pernah menyinggung penggulingan dan penangkapan mantan presiden Venezuela Nicolas Maduro serta pemasangan penerus yang bersahabat sebagai “cetak biru” untuk Kuba. Jika wacana seperti itu terus dipelihara, maka krisis listrik mudah berubah dari bencana layanan publik menjadi bahan bakar eskalasi geopolitik. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)

Jaringan listrik yang kolaps bukan sekadar angka pemulihan 5% di Havana, melainkan potret bagaimana kebijakan, infrastruktur, dan ketahanan warga saling mengunci dalam satu krisis. Pada akhirnya, pertanyaannya bukan hanya kapan listrik menyala, tetapi siapa yang menanggung biaya gelapnya: pemerintah, kekuatan asing, atau warga biasa yang tak punya tombol untuk memutus siklus ini. (Orbit dari berbagai sumber, 21 September 2026)