Perang Iran, Selat Hormuz, dan Taruhan Pengaruh China di Teluk
ORBITINDONESIA.COM – Perang Iran kembali memanas, dan negara-negara Arab Teluk kini menoleh ke China untuk membuka Selat Hormuz dan jalur Laut Merah. Mereka tidak lagi menjadikan Washington sebagai tumpuan utama, melainkan berharap Beijing memakai “tuas ekonomi” terhadap Teheran.
Langkah ini menguji batas kemampuan dan kemauan China menekan Iran, ketika ekspor energi Teluk tersendat dan risiko serangan ikut merambat ke tetangga Iran. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Menurut Reuters, perang yang dipicu serangan AS-Israel ke Iran pada 28 Februari membuat musuh regional Teluk terpukul, namun sekaligus mengganggu nadi ekonomi kawasan: arus minyak dan gas. Iran dan sekutunya mengancam dua titik sempit vital, yakni Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb di Laut Merah.
Tiga sumber regional menyebut ancaman ini membuka mata para pemimpin Teluk tentang keterbatasan daya paksa Amerika, terutama ketika perang berlarut dan biaya geopolitik membengkak. Di titik itu, China dipandang sebagai pembeli minyak besar dan mitra dagang utama Iran yang mungkin bisa “membujuk” Teheran. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Diplomasi Beijing bergerak lewat banyak kanal, dari panggilan Menlu Wang Yi hingga misi utusan khusus Zhai Jun ke ibu kota-ibu kota Teluk dan Iran. Kementerian Luar Negeri China menyatakan mereka “menjaga komunikasi erat” dan “secara konsisten bekerja menghentikan pertempuran serta mempromosikan perdamaian.” (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Keunggulan China sederhana namun besar: uang dan pasar. China adalah pembeli utama minyak kawasan, sementara bagi Iran ia disebut Reuters sebagai mitra dagang terbesar, sehingga jalur pengaruh ekonomi tampak logis dibanding tekanan militer.
Namun pengaruh ekonomi tidak otomatis menjadi pengaruh politik, apalagi dalam perang. Reuters mencatat Beijing menahan diri untuk tidak menantang ancaman Iran terhadap pelayaran secara terbuka, sehingga memunculkan keraguan: sejauh mana China benar-benar siap “mengamankan” Teluk. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Sumber Teluk menggambarkan hubungan dagang yang besar membuat isu sensitif dibahas “dengan sangat sunyi.” Ini menguntungkan stabilitas hubungan, tetapi juga bisa melemahkan daya tekan karena tidak ada “biaya reputasi” publik yang ditimpakan kepada Iran.
Henry Tugendhat dari Washington Institute menilai prioritas utama Beijing adalah menjaga relasi dengan semua pihak, bukan memihak secara terang. Ketika Washington ikut langsung, perhitungan China meluas dari Teluk menjadi bagian dari rivalitas kekuatan besar dengan Amerika.
Salah satu sumber yang mengetahui diskusi China mengatakan negara Teluk bisa membeli teknologi, investasi, dan drone dari China, tetapi tidak bisa membeli “leverage China” yang bekerja independen dari hubungan Beijing-Washington. Kalimat ini menohok karena mengakui batas paling keras dari “alternatif non-Barat”: tetap ada bayang-bayang Amerika dalam kalkulasi China. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
China memang punya rekam jejak diplomasi, termasuk memediasi rekonsiliasi Saudi-Iran pada 2023 yang kini diuji perang. Reuters juga melaporkan Beijing mendorong Pakistan memediasi Washington-Teheran agar perundingan damai dimulai lagi.
Di sisi lain, hasil paling nyata justru bersifat sempit dan transaksional. Anna Borshchevskaya dari Washington Institute menilai kesepakatan bilateral yang melindungi pelayaran terkait China menjadi satu-satunya keluaran yang terlihat sejauh ini. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Reuters menyebut China bahkan melakukan pembicaraan langsung dengan Houthi agar tanker-tankernya bisa melintas di selatan Laut Merah tanpa diserang, setelah kelompok itu mengancam akses ke pelabuhan Saudi. Jika benar, ini menunjukkan prioritas Beijing adalah “imunitas dagang”, bukan penertiban total atas serangan.
Secara ekonomi, China juga diuntungkan diskon tajam minyak Iran akibat sanksi internasional. Reuters menulis China meningkatkan dukungan keamanan Iran lewat komponen dual-use, peralatan chip, dan sistem navigasi satelit, meski tidak memberikan bantuan militer terbuka sejak perang dimulai.
Beijing membantah laporan media tentang bantuan peralatan chip, dukungan intelijen, atau sistem pertahanan, dan menyebut posisinya “jelas dan lurus” serta “tidak menyiram bensin ke api.” Penyangkalan ini penting karena China ingin tetap terlihat sebagai penengah, bukan pemasok eskalasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Masalahnya, strategi China memang menghindari komitmen keamanan yang mengikat jauh dari Asia Timur. Reuters menegaskan China tidak punya komitmen pertahanan di Teluk, tidak memiliki mandat militer menjaga jalur laut, dan tidak bernafsu mengambil peran itu.
Beijing bahkan menyatakan tidak siap menggunakan kekuatan militer untuk membuka kembali Selat Hormuz dan tidak percaya pihak lain bisa melakukannya. Jadi, “tawaran” China pada dasarnya adalah diplomasi, bukan jaminan keamanan. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Negara-negara Teluk sedang mengejar sesuatu yang tampak masuk akal tetapi sulit diwujudkan: meminta China menekan Iran, tanpa membuat China harus berhadap-hadapan dengan Iran. Ini seperti meminta pemadam kebakaran datang tanpa membawa air, karena airnya adalah risiko putusnya hubungan dagang dan geopolitik.
Di atas kertas, China punya tombol ekonomi, tetapi Iran punya tombol geografi. Selat Hormuz dan Bab el-Mandeb adalah “titik cekik” global, dan Teheran tahu ancaman terhadapnya memberi daya tawar yang tidak bisa dibeli dengan kontrak dagang. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Lebih jauh, perang berkepanjangan bisa memberi keuntungan strategis bagi China karena menambah tekanan politik terhadap AS dan Eropa lewat kenaikan harga energi, seperti disiratkan analisis Borshchevskaya. Jika demikian, Beijing punya insentif ganda: menenangkan situasi secukupnya agar perdagangan China aman, tetapi tidak harus mematikan seluruh sumber tekanan terhadap Barat.
Inilah paradoks “pengaruh tanpa aliansi.” China ingin dipandang sebagai kekuatan penentu, tetapi menolak membayar harga berupa komitmen keamanan, sementara negara Teluk membutuhkan kepastian keamanan lebih dari sekadar mediasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Ketika Presiden Xi Jinping dijadwalkan bertemu Presiden Donald Trump pada 24 September, setiap langkah China di Teluk juga akan dibaca sebagai sinyal dalam kompetisi dengan Washington. Pada titik ini, keamanan Selat Hormuz bukan lagi isu regional, melainkan papan catur rivalitas global.
Karena itu, harapan Teluk pada China sebetulnya adalah kritik diam-diam terhadap Amerika, sekaligus pengakuan bahwa tidak ada pengganti penuh untuk payung keamanan AS. Mereka ingin “lebih banyak China”, tetapi belum tentu siap dengan konsekuensi jika China hanya menawarkan perdagangan dan diplomasi. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Perang Iran membuat negara Teluk mencari jalan keluar yang tidak lagi tunggal, dan China menjadi alamat baru karena kedekatan ekonominya dengan semua pihak. Namun laporan Reuters memperlihatkan batas kerasnya: Beijing bisa melindungi kapal-kapalnya, tetapi belum tentu menghentikan badai. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)
Pertanyaan yang tersisa bukan hanya apakah China mampu menekan Iran, melainkan apakah China mau mengambil risiko strategis untuk kepentingan orang lain. Jika keamanan jalur energi dunia kini bergantung pada diplomasi yang “sunyi” dan kesepakatan transaksional, seberapa rapuh sebenarnya fondasi stabilitas global kita. (Orbit dari berbagai sumber, 11 Agustus 2026)