Kejurprov ORADO Jatim 2026 Ubah Domino Jadi Olahraga Prestasi

VIVA Jatim

VIVA Jatim

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Kejurprov ORADO Jatim 2026 di Surabaya menandai ambisi besar: menjadikan domino olahraga prestasi, bukan lagi sekadar permainan rakyat. Sebanyak 64 tim terbaik hasil seleksi 38 kabupaten/kota bertarung untuk tiket menuju Kejurnas Jakarta pada 24–26 April 2026.

Selama puluhan tahun, domino lekat dengan ruang sosial informal seperti warung dan pos ronda. Label itu membuat domino kerap dipandang sebelah mata, meski unsur strategi dan konsentrasi sudah lama melekat di dalamnya.

ORADO Jawa Timur mencoba memutus stigma tersebut lewat jalur organisasi, kompetisi berjenjang, dan pembinaan atlet. Kejurprov 2026 diposisikan sebagai etalase perubahan, sekaligus uji kualitas sistem seleksi yang mereka bangun.

Ketua Umum ORADO Jatim Mahenda Abdillah Kamil menyebut kompetisi sudah memasuki delapan besar, dengan target tegas: prestasi di Kejurnas, bukan sekadar hadir. Ia menyiapkan pemusatan latihan intensif tiga hari di Surabaya bagi para juara sebagai bentuk standardisasi pembinaan.

Struktur ini meniru pola cabang olahraga mapan: seleksi daerah, kompetisi provinsi, lalu penguatan melalui training camp sebelum nasional. Dalam olahraga modern, pola seperti ini penting karena prestasi lahir dari repetisi, evaluasi, dan disiplin, bukan dari bakat yang dibiarkan liar.

Namun, tantangan domino sebagai olahraga prestasi bukan hanya teknis pertandingan, melainkan legitimasi sosial dan institusional. Ketika Wakil Ketua KONI Jatim Zainal Arifin menyatakan harapan ORADO segera menjadi anggota resmi dan domino bisa dipertandingkan di Porprov Jatim 2027, itu adalah sinyal bahwa pintu formal mulai terbuka.

Di titik ini, domino memasuki arena yang lebih keras: tata kelola, transparansi, dan standar kompetisi. Cabang yang ingin diakui harus mampu menunjukkan regulasi pertandingan yang jelas, sistem perwasitan yang kredibel, serta pembinaan atlet yang terukur.

PB ORADO melalui Humas Jhon LBF bahkan mendorong dukungan negara demi kesejahteraan atlet. Pernyataan ini relevan karena banyak cabang olahraga baru tumbang bukan karena kurang peminat, melainkan karena ekosistem karier atletnya rapuh.

Jika domino benar ingin naik kelas, pembinaan tidak cukup berhenti pada tiga hari TC. Yang dibutuhkan adalah kalender kompetisi rutin, pembinaan usia dini, dan jalur pendanaan yang akuntabel agar atlet tidak bergantung pada momen turnamen semata.

Transformasi domino menjadi olahraga prestasi patut diapresiasi, tetapi juga harus diuji dengan standar yang sama seperti cabang lain. Klaim bahwa domino menuntut fisik, strategi, dan disiplin akan terdengar kuat bila diikuti indikator kebugaran, evaluasi performa, dan metodologi latihan yang terbuka.

Di sisi lain, narasi “naik kelas” berisiko menjadi slogan jika tidak disertai perlindungan atlet dari praktik eksklusif dan seleksi yang tidak transparan. Ketika sebuah komunitas berubah menjadi institusi olahraga, ia harus siap diawasi, bukan hanya dipromosikan.

Justru di situlah peluang besarnya: domino bisa menjadi contoh bagaimana olahraga berbasis budaya populer tumbuh menjadi prestasi tanpa memutus akar sosialnya. Domino tetap bisa menjadi ruang pertemuan warga, tetapi kompetisinya harus profesional, adil, dan berpihak pada atlet.

Kejurprov ORADO Jatim 2026 menunjukkan domino sedang bergerak dari meja santai menuju panggung kompetisi, dari kebiasaan menuju karier. Jika keanggotaan KONI dan target Porprov 2027 tercapai, domino akan memasuki babak baru yang menuntut tata kelola jauh lebih rapi.

Pertanyaannya sederhana, tetapi menentukan: apakah domino akan benar-benar menjadi olahraga prestasi yang melindungi atlet, atau hanya berganti kemasan tanpa mengubah sistem? Jawabannya akan terlihat dari konsistensi pembinaan, keadilan kompetisi, dan keberanian semua pihak menempatkan prestasi di atas slogan. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)