Makan 8 Jam Sehari Turunkan Risiko Demensia, Ini Buktinya

Medical Xpress

Medical Xpress

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Risiko demensia dan Alzheimer mungkin bisa ditekan lewat cara yang terdengar sederhana: mempersempit jam makan harian. Uji klinis kecil pada perempuan usia 50–79 tahun menunjukkan, pembatasan waktu makan 8–9 jam per hari memberi perbaikan kognitif meski penurunan berat badan sama.

Demensia makin sering muncul seiring populasi menua, dan perempuan serta orang dengan overweight atau obesitas cenderung memiliki risiko lebih tinggi. Banyak riset mengaitkan diet dan gaya hidup dengan risiko demensia, tetapi sedikit yang benar-benar menguji apakah mengubah kebiasaan itu dapat menurunkannya.

Temuan baru datang dari studi percontohan yang dipimpin Sue Shapses, profesor di Rutgers University dan Rutgers-RWJ Medical Center. Ia menyebut, selain penurunan berat badan, ada manfaat tambahan bila orang berhenti makan empat jam sebelum tidur dan membatasi jam makan menjadi 8–9 jam dibanding kebiasaan 12 jam.

Uji klinis ini melibatkan 47 perempuan berusia 50–79 tahun yang overweight atau obesitas. Semua peserta diminta memangkas asupan 500 kalori per hari, lalu dibagi dua: 26 orang membatasi jam makan kurang dari 9 jam, sisanya mempertahankan pola umum sekitar 12 jam.

Kelompok time-restricted eating umumnya makan hanya antara pukul 10.00 hingga 18.00, dengan rata-rata jendela makan 8,2 jam per hari. Kelompok pembanding berada di rata-rata 12,3 jam per hari, sehingga perbedaan utamanya bukan jenis diet, melainkan durasi paparan makanan sepanjang hari.

Setelah enam bulan, rata-rata peserta turun sekitar 15 pon atau 6,8 kilogram, dan penurunannya serupa di kedua kelompok. Ini penting, karena memperkecil kemungkinan bahwa perbedaan kognitif semata-mata disebabkan angka timbangan.

Hasilnya, kelompok yang makan 8–9 jam menunjukkan peningkatan signifikan pada kemampuan perencanaan spasial dan pemecahan masalah. Ada kecenderungan lebih sedikit kesalahan pada tes memori dan pembelajaran, tetapi tidak ada perbedaan bermakna pada multitasking maupun kecepatan reaksi.

Shapses menyimpulkan ada “efek moderat” pembatasan waktu makan terhadap perbaikan perencanaan spasial dan pemecahan masalah, sekaligus penurunan kesalahan terkait memori dan pembelajaran. Ia menambahkan, semakin pendek jendela makan, semakin besar peningkatan yang diprediksi.

Temuan ini akan dipresentasikan di NUTRITION 2026, pertemuan tahunan utama American Society for Nutrition, pada 25–28 Juli di National Harbor, Maryland. Namun statusnya sebagai studi percontohan membuatnya lebih tepat dibaca sebagai sinyal awal, bukan vonis final.

Di tengah banjir saran kesehatan, pembatasan jam makan tampak menarik karena sederhana, murah, dan tidak bergantung pada suplemen. Tetapi justru karena terdengar mudah, publik rentan menyimpulkan berlebihan: seolah cukup “puasa harian” maka demensia otomatis menjauh.

Padahal, studi ini kecil, hanya melibatkan perempuan, dan berlangsung enam bulan, sehingga generalisasi ke populasi luas masih rapuh. Selain itu, peningkatan yang dilaporkan spesifik pada domain tertentu, sementara multitasking dan reaksi tidak berubah, menandakan efeknya tidak menyapu semua fungsi otak.

Yang paling bernilai dari riset ini adalah petunjuk mekanisme yang akan ditelusuri peneliti: ritme sirkadian, jalur sensor nutrisi, inflamasi, dan kesehatan metabolik. Jika benar jam makan memengaruhi “jam biologis” dan peradangan, maka pesan kesehatan publik bisa bergeser dari sekadar “kurangi kalori” menjadi “atur kapan Anda makan”.

Namun ada sisi sosial yang perlu dibaca kritis, karena tidak semua orang bisa makan hanya pukul 10.00–18.00. Pekerja shift, pengasuh keluarga, atau mereka yang akses pangannya tidak stabil, bisa kesulitan mematuhi jadwal, sehingga kebijakan kesehatan harus peka terhadap realitas hidup.

Uji klinis kecil ini memberi gambaran bahwa menutup dapur lebih cepat, dan memadatkan jam makan menjadi 8–9 jam, mungkin membantu menjaga fungsi kognitif pada kelompok berisiko. Tetapi bukti ini masih tahap awal dan menunggu konfirmasi dari studi yang lebih besar, lebih beragam, dan lebih lama.

Mungkin pertanyaan paling penting bukan hanya “berapa kalori yang kita makan”, melainkan “seberapa lama kita membiarkan tubuh terus mencerna tanpa jeda”. Jika otak ternyata ikut diuntungkan oleh jeda itu, maka disiplin kecil pada jam makan bisa menjadi investasi sunyi untuk masa tua yang lebih jernih. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)