Spray Serai Cegah DBD: KKN Unhas Gerakkan PSN 3M Plus
ORBITINDONESIA.COM – Spray serai untuk cegah DBD diperagakan mahasiswa KKN Unhas di Kelurahan Lautang Benteng, Sidrap, pada 24 Juli 2026. Di depan 53 warga, bumbu dapur itu diubah menjadi pesan kesehatan: pencegahan Demam Berdarah Dengue dimulai dari rumah dan lingkungan.
DBD bukan sekadar penyakit musiman, melainkan indikator rapuhnya kebiasaan sanitasi dan pengendalian vektor di tingkat keluarga. Nyamuk Aedes aegypti berkembang di wadah air bersih, sehingga halaman rapi pun bisa menyimpan risiko.
Di Lautang Benteng, mahasiswa KKN Profesi Kesehatan Unhas Gelombang 69 memilih pendekatan SIGAP DBD yang praktis dan dekat dengan keseharian. Mereka tidak hanya berbicara tentang PSN 3M Plus, tetapi mengaitkannya dengan tindakan yang bisa langsung dicoba warga.
Demonstrasi pembuatan spray antinyamuk dari serai dipandu Patrysia Sa’pangan dari Prodi Kesehatan Masyarakat. Warga diajak memahami penularan DBD, titik rawan jentik, dan kebiasaan kebersihan yang sering luput karena dianggap sepele.
Strategi ini bekerja karena memindahkan edukasi dari ruang ceramah ke ruang praktik. Saat perebusan dan pendinginan, percakapan diarahkan pada audit lingkungan rumah, mulai dari bak mandi, talang, pot, hingga barang bekas.
Dalam literatur kesehatan, perubahan perilaku lebih mudah terjadi ketika pesan terasa relevan, sederhana, dan bisa diulang tanpa biaya besar. WHO juga menekankan pengendalian vektor berbasis komunitas sebagai kunci menekan penularan dengue, terutama lewat pengurangan tempat perindukan.
Namun spray serai tetap harus ditempatkan sebagai pelengkap, bukan solusi utama. Repelan hanya mengurangi kontak manusia-nyamuk, sedangkan sumber masalah ada pada siklus jentik yang terus muncul jika wadah air tidak dikelola.
Pembagian produk spray kepada peserta memberi efek “hadiah” yang memperkuat ingatan atas materi. Tetapi dampak jangka panjangnya baru teruji jika kebiasaan PSN 3M Plus menjadi rutinitas mingguan, bukan reaksi sesaat ketika ada kasus.
Program seperti SIGAP DBD menunjukkan satu hal penting: kampanye kesehatan paling efektif sering kali tidak membutuhkan alat canggih, melainkan narasi yang membumi. Serai menjadi simbol bahwa pencegahan bisa dimulai dari yang ada di dapur, lalu naik kelas menjadi disiplin kolektif.
Meski begitu, ada risiko romantisasi solusi herbal jika tidak disertai penekanan pada bukti dan batas manfaatnya. Warga perlu mendengar dengan tegas bahwa 3M Plus, pengelolaan sampah, dan perbaikan drainase adalah fondasi, sementara spray adalah lapisan tambahan.
Di titik ini, peran pemerintah kelurahan dan puskesmas menjadi krusial untuk menjaga kesinambungan. Tanpa monitoring jentik, jadwal kerja bakti, dan pelaporan cepat demam, kegiatan KKN bisa berakhir sebagai dokumentasi, bukan perubahan.
Nilai tambahnya jelas: kegiatan ini sejalan dengan SDGs Tujuan 3, karena menekankan promotif-preventif. Tetapi SDGs menuntut keberlanjutan, sehingga perlu jembatan pasca-KKN berupa kader, SOP PSN, dan evaluasi berkala.
Di Lautang Benteng, spray serai mungkin habis dalam beberapa minggu, tetapi pelajaran yang ditinggalkan seharusnya bertahan lebih lama. DBD tidak menunggu musim, dan nyamuk tidak peduli seberapa sering kita menyebut “3M Plus” tanpa melakukannya.
Pertanyaannya kini sederhana dan tajam: setelah mahasiswa pulang, siapa yang memastikan ember, talang, dan barang bekas tetap diawasi setiap pekan. Jika jawabannya adalah “kita semua”, maka serai di dapur telah berubah menjadi gerakan kesehatan yang nyata.
(Orbit dari berbagai sumber, 3 September 2026)