Analis Ynet: Teroris Yahudi Telah Menjadi Pihak yang ‘Berkuasa’ di Tepi Barat
Para pemukim Yahudi Israel menyerbu Kota Tua Hebron di bawah perlindungan pasukan Israel di wilayah selatan Tepi Barat, Palestina, pada 9 Mei 2026.
InternasionalORBITINDONESIA.COM - Seorang analis militer senior Israel memperingatkan bahwa kaum ekstremis dan teroris Yahudi pada praktiknya telah menjadi pihak yang "berkuasa" di Tepi Barat yang diduduki, sementara tentara Israel melindungi tindakan ilegal mereka dan melayani kepentingan politik pemerintah sayap kanan.
Dalam tulisannya untuk situs berita Israel, Ynet, Ron Ben-Yishai menyatakan bahwa Pasukan Pertahanan Israel (IDF), kepolisian, dan badan keamanan internal Shin Bet tidak lagi mampu menegakkan hukum terhadap para pemukim Yahudi yang melakukan kekerasan.
"IDF telah kehilangan kendali atas kelompok ekstremis di kalangan pemukim dan berubah menjadi perusahaan keamanan yang melayani keinginan serta tindakan ilegal mereka," simpul Ben-Yishai. Ia menggambarkan situasi di mana tentara melindungi "kaum ekstremis dan teroris Yahudi" sebagai sesuatu yang tidak dapat ditoleransi.
Penilaian luar biasa ini muncul menyusul penyelidikan terhadap bentrokan mematikan di desa Tell, Palestina—dekat Nablus—pada bulan lalu.
Laporan awal Israel menyebut insiden tersebut sebagai "serangan teror" oleh pihak Palestina. Namun, Ben-Yishai menepis klaim tersebut; ia menyatakan bahwa kekerasan bermula setelah puluhan pemukim Israel bersenjata memasuki desa Palestina itu.
Warga Palestina berupaya mengusir kelompok teror Israel tersebut. Dalam pergulatan yang terjadi kemudian, seorang pria Palestina berhasil merebut senapan dari anggota tim keamanan permukiman Havat Gilad dan melepaskan tembakan.
Ben-Yishai menyebutkan bahwa pria Palestina itu berhasil merebut senjata tersebut "hanya setelah IDF melepaskan tali senjata dari punggung dan lehernya serta mengayunkannya".
Seorang tentara cadangan Israel, Benayahu Mellet, dan seorang perwira militer Israel, Mayor Yuval Ezra, tewas dalam kejadian tersebut. Empat warga Palestina juga tewas dalam baku tembak itu.
Ben-Yishai menegaskan bahwa warga Palestina tidak datang dengan membawa senjata dan tidak ada bukti adanya rencana serangan. Ia berpendapat bahwa kekerasan baru memuncak setelah kelompok teror Israel memasuki desa tersebut, meskipun mereka tahu bahwa pihak militer kemungkinan besar tidak akan menyetujui aksi mereka.
The Times of Israel juga melaporkan bahwa baku tembak tersebut dipicu oleh aksi "penyusupan" seorang pemukim Israel ke dalam desa itu.
Temuan ini meruntuhkan narasi resmi yang disampaikan segera setelah insiden tersebut, ketika para pejabat Israel melabeli penduduk desa Palestina sebagai "teroris" dan mengumumkan tindakan militer hukuman terhadap populasi Palestina di sekitarnya.
Ben-Yishai berpendapat bahwa insiden Tell menyingkapkan runtuhnya otoritas Israel secara jauh lebih luas di wilayah pendudukan tersebut.
Menurutnya, sebuah kelompok ekstremis Yahudi yang relatif kecil namun kian berpengaruh kini memasuki komunitas-komunitas Palestina, mendirikan pos-pos permukiman tanpa izin, dan melakukan provokasi yang kemudian harus dilindungi oleh tentara Israel.
"Mereka yang main hakim sendiri ini adalah kelompok besar dan ekstremis yang tumbuh di dalam gerakan permukiman," tulis Ben-Yishai. "Kelompok inilah yang kini berkuasa di wilayah tersebut. Mereka bertindak sesuka hati. IDF (militer Israel) hanya melindungi mereka dan segala keinginan mereka."
Secara terpisah, seorang pejabat senior militer Israel menyebut maraknya pos-pos permukiman ilegal sebagai salah satu "tantangan terbesar" bagi militer. The Times of Israel melaporkan bahwa lebih dari 80 pos ilegal telah melemahkan kemampuan militer untuk mempertahankan kendali, sementara 126 pertanian permukiman telah didirikan dengan dukungan pemerintah.
Menyusul insiden Tell, Menteri Keuangan Israel Bezalel Smotrich menuntut agar desa Palestina tersebut dan komunitas-komunitas di sekitarnya mengalami kehancuran besar-besaran yang serupa dengan yang dilakukan Israel terhadap kamp-kamp pengungsi di Jenin dan Tulkarm. Ia juga menyerukan pendirian permukiman baru di dekat lokasi kejadian. ***