UU Perumahan Trump Jadi Hukum Otomatis, Biaya Rumah Disorot

CBS News

CBS News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – UU perumahan terbesar dalam beberapa dekade di AS, 21st Century ROAD to Housing Act, resmi berlaku otomatis pada Sabtu pukul 00.00 setelah Presiden Donald Trump menolak menandatanganinya. Penolakan itu disebut sebagai protes karena Senat tidak meloloskan RUU pemilu SAVE America Act, sehingga isu keterjangkauan rumah dan politik pemilu bertabrakan di satu momen yang sama.

Di Washington, sebuah rancangan undang-undang perumahan bersejarah otomatis menjadi undang-undang pada Sabtu pukul 00.00 setelah Presiden Trump menolak menandatanganinya. Ia memprotes mandeknya RUU pemilu bernama SAVE America Act yang ingin menambah pembatasan dalam pemungutan dan pendaftaran pemilih.

RUU perumahan bipartisan itu bernama 21st Century ROAD to Housing Act dan disebut paling komprehensif dalam beberapa dekade. Tujuannya menaikkan pasokan rumah dan menurunkan biaya, termasuk dengan membatasi investor institusional membeli rumah keluarga tunggal tertentu.

Trump semula dijadwalkan menandatangani RUU itu dalam seremoni di Capitol Hill bulan lalu, setelah DPR dan Senat meloloskannya dengan dukungan lintas partai yang lebar. Namun ia membatalkan seremoni beberapa jam sebelum acara dan mengancam tidak akan menandatangani sampai Kongres menyetujui SAVE America Act.

Pada Jumat pagi, Trump menegaskan lagi penolakannya lewat Truth Social. Ia menulis tidak akan menandatangani “Housing Bill” sebagai bentuk protes karena Senat “tidak mampu” meloloskan SAVE America Act, yang ia klaim “polling” 97% di Partai Republik.

Konstitusi AS menyatakan sebuah RUU yang sudah lolos di dua kamar Kongres otomatis menjadi hukum jika presiden tidak menandatangani atau memvetonya dalam 10 hari, tidak termasuk hari Minggu. Karena Trump tidak memveto, ROAD to Housing Act pun berlaku tanpa tanda tangannya.

Senator Demokrat Massachusetts Elizabeth Warren, pengusung utama di Senat, mengecam keras sikap Trump. Ia menyindir Trump menahan RUU lebih dari dua minggu karena “tidak ada keuntungan pribadi,” lalu menegaskan isi RUU hanya berisi cara membuat perumahan lebih terjangkau.

Keputusan Trump membuat sekutu Republik di Kongres berada dalam posisi serba salah. Mereka kehilangan panggung untuk memamerkan kerja bipartisan soal keterjangkauan, sementara pimpinan GOP di Senat berulang kali mengakui SAVE America Act tidak punya dukungan cukup untuk lolos.

RUU perumahan ini lahir dari kerja berbulan-bulan dan menjadi momen langka konsensus bipartisan menjelang pemilu paruh waktu. Tetapi Trump menyebut RUU itu “membosankan,” sambil menegaskan fokusnya pada agenda melarang voting lewat pos, mewajibkan bukti kewarganegaraan untuk registrasi, dan mewajibkan ID foto saat memilih.

Ketua DPR Mike Johnson mengirimkan RUU ke presiden pada 29 Juni dan memulai hitung mundur 10 hari. Hari itu Trump mengatakan kepada wartawan ia tidak tahu akan berbuat apa, dan menyebut RUU perumahan “sangat tidak penting” dibanding SAVE America Act.

Sehari kemudian, Johnson membela Trump dengan mengatakan presiden “punya banyak urusan” dan kemungkinan belum membaca setiap baris RUU. Johnson menyebut RUU itu berisi “banyak hal hebat” dan mengaku sudah cukup sering membahasnya dengan Trump.

Johnson juga mengatakan, dibanding “integritas pemilu” yang diwakili SAVE America Act, tidak ada yang lebih penting. Namun ia menambahkan biaya hidup dan keterjangkauan tetap isu puncak di benak publik.

Pada akhirnya Johnson yakin RUU akan menjadi hukum, dan ia mengaku mendorong Trump menandatanganinya dengan “spidol hitam paling tebal.” Ia menutup dengan kalimat, jika tidak ditandatangani pun tetap hukum dan tetap akan dirayakan.

Isi UU baru ini mencakup lebih dari 45 ketentuan untuk memperbanyak pembangunan rumah terjangkau. Banyak pasal menarget hambatan regulasi dan mempercepat tinjauan lingkungan agar proyek perumahan lebih cepat berjalan.

UU ini juga membuat program percontohan untuk membantu pemerintah lokal mengubah gedung komersial kosong menjadi hunian terjangkau. Selain itu, UU membuka lebih banyak pendanaan federal untuk rumah pabrikan dan menghapus aturan yang mewajibkan rumah dibangun di atas sasis baja.

Di sisi lain, UU menciptakan dana inovasi bagi komunitas yang meningkatkan pasokan perumahan. UU juga memperluas dukungan kesempatan perumahan untuk veteran dan membatasi pembelian rumah keluarga tunggal oleh investor institusional.

Pembatasan investor institusional ditujukan untuk mengurangi persaingan dan menguntungkan pembeli rumah, menurut para pendukungnya. Ketentuan itu diterapkan pada rumah keluarga tunggal yang sudah ada, bukan konstruksi baru, agar insentif perusahaan finansial membiayai pembangunan rumah baru tetap terjaga.

Terjemahan akuratnya sederhana namun penting: ROAD to Housing Act berlaku karena Trump memilih “diam” alih-alih menandatangani atau memveto. Dalam sistem AS, diam presiden setelah 10 hari kerja efektif menjadi persetujuan pasif, dan itu membuat UU lahir tanpa foto seremoni politik.

Di sinilah kata kunci “UU perumahan” dan sub-kunci “keterjangkauan rumah” bertemu dengan “SAVE America Act” sebagai alat tawar. Trump menukar panggung kebijakan biaya hidup dengan panggung politik pemilu, seolah keduanya bisa dipertukarkan.

Secara kebijakan publik, UU ini menonjol karena menarget sisi pasokan, bukan sekadar subsidi permintaan. Penghapusan hambatan regulasi, percepatan environmental review, dan konversi gedung kosong adalah resep klasik untuk menambah unit, walau dampaknya biasanya tidak instan.

Ketentuan factory-built homes juga penting karena menyasar biaya konstruksi. Menghapus aturan sasis baja memberi fleksibilitas desain dan logistik, yang dapat menurunkan harga bila ekosistem manufaktur dan pembiayaan ikut menyesuaikan.

Pembatasan investor institusional pada rumah keluarga tunggal yang sudah ada adalah respons pada keluhan publik tentang “corporate landlords.” Namun UU sengaja tidak menghambat investasi pada rumah baru, sehingga logikanya adalah mengurangi perebutan stok lama tanpa mematikan modal untuk pembangunan.

Secara politik, Trump kehilangan kesempatan mengklaim kemenangan bipartisan atas isu yang “top of mind” bagi warga. Partai Republik di Kongres juga kehilangan momen kampanye tentang biaya hidup, sementara mereka sendiri mengakui RUU pemilu yang diminta Trump tidak punya suara cukup.

Kutipan Warren memperlihatkan strategi framing: ia mengaitkan penundaan dengan motif keuntungan pribadi, seperti “gold-encrusted ballroom” hingga “crypto deal.” Serangan itu bukan sekadar retorika, tetapi upaya menempelkan narasi bahwa presiden abai pada keluarga karena tidak ada manfaat langsung baginya.

Di sisi Johnson, pembelaan bahwa presiden belum membaca setiap baris adalah pedang bermata dua. Pernyataan itu meredakan konflik internal, tetapi sekaligus menguatkan persepsi bahwa kebijakan perumahan dianggap nomor dua dibanding agenda pemilu.

Secara komunikatif, Trump menyebut RUU perumahan “a yawn” dan “so unimportant,” lalu menonjolkan larangan mail voting dan syarat bukti kewarganegaraan. Itu menandakan prioritas yang diletakkan pada kontrol prosedur demokrasi, bukan pada penurunan biaya hidup yang dirasakan harian.

Namun fakta bahwa Trump tidak memveto juga menunjukkan kalkulasi. Veto akan memaksa konfrontasi langsung dengan koalisi bipartisan, sementara membiarkan UU berlaku otomatis tetap memberi ruang baginya untuk mengklaim ia “membuat poin” tanpa memikul risiko politik penuh.

Yang patut dicatat, artikel menyebut klaim Trump soal “polling 97%” di Partai Republik, tetapi tidak menyertakan sumber surveinya. Dalam jurnalisme kebijakan, angka tanpa rujukan adalah sinyal bahwa argumen lebih bersifat mobilisasi politik ketimbang pembuktian empiris.

Dengan lebih dari 45 ketentuan, UU ini juga rawan menjadi “keranjang besar” yang implementasinya bergantung pada aturan turunan dan kapasitas pemerintah lokal. Tanpa eksekusi yang disiplin, janji menambah pasokan bisa tersendat oleh birokrasi yang justru ingin dipangkas.

Meski begitu, lahirnya UU ini tetap menandai sesuatu yang langka: kesepakatan lintas partai di tengah polarisasi. Ironisnya, justru karena presiden menahan tanda tangan, publik lebih mengingat drama pemilu daripada detail perumahan yang bisa memengaruhi harga sewa dan cicilan.

Kasus ini memperlihatkan bagaimana kebijakan publik bisa dijadikan sandera agenda lain yang lebih menguntungkan secara elektoral. Ketika perumahan dijadikan alat tekan untuk RUU pemilu, yang dipertaruhkan bukan hanya prosedur legislasi, tetapi rasa percaya warga bahwa negara memprioritaskan kebutuhan dasar.

Trump tampak ingin mengirim pesan bahwa “integritas pemilu” adalah isu tertinggi, bahkan di atas keterjangkauan rumah. Tetapi pesan itu juga mengandung risiko: publik yang sedang tercekik harga sewa dan harga rumah bisa menilai pemerintah sedang memindahkan fokus dari dapur ke bilik suara.

Di sisi lain, Kongres juga tidak sepenuhnya bebas dari tanggung jawab. Mereka membiarkan seremoni dan simbol politik menjadi penentu narasi, padahal substansi UU perumahan baru saja menang besar karena dukungan bipartisan yang jarang terjadi.

Pembatasan investor institusional mungkin populer, tetapi bukan peluru perak. Jika pasokan baru tidak benar-benar melonjak, pasar akan mencari cara lain menaikkan harga, dan pembeli pertama tetap akan bersaing dengan keterbatasan unit.

Namun ada pelajaran strategis yang lebih besar: kebijakan perumahan yang berfokus pada pasokan, konversi gedung kosong, dan industrialisasi konstruksi adalah arah yang masuk akal. Persoalannya tinggal apakah elite politik mau memberi ruang pada kerja teknokratis yang sunyi, bukan sekadar drama yang ramai.

ROAD to Housing Act akhirnya berlaku, tetapi lahirnya UU ini dibayangi pertarungan simbol antara “UU perumahan” dan “SAVE America Act.” Publik mendapat hukum baru yang berpotensi menambah pasokan rumah, tetapi juga mendapat sinyal bahwa kebutuhan dasar bisa ditunda demi pesan politik.

Pertanyaannya kini bukan hanya apakah UU ini akan menurunkan biaya rumah, melainkan apakah para pemimpin mau mengukur keberhasilan lewat unit yang terbangun, bukan lewat unggahan yang viral. Jika rumah adalah fondasi martabat, maka politik seharusnya berhenti memperlakukannya sebagai alat tawar. (Orbit dari berbagai sumber, 19 Juli 2026)