Paus Bungkuk Berduka: Stillborn Calf dan Emosi Mamalia Laut
ORBITINDONESIA.COM – Video paus bungkuk berduka kembali mengguncang cara kita memandang emosi mamalia laut, setelah seekor induk paus bungkuk terekam bertahan di dekat anaknya yang lahir mati di perairan Gold Coast, Australia. Peneliti menyebut perilaku ini sebagai petunjuk langka tentang duka cita pada paus bungkuk, sesuatu yang sulit sekali didokumentasikan di laut lepas.
Penelitian yang dirilis Rabu itu memuat rekaman induk paus bungkuk yang tetap menempel pada anaknya yang tak bergerak di dasar laut. Induk itu ditemani seekor paus lain, dan keduanya tampak menjaga jarak dekat sambil terus memantau tubuh anak paus.
Andrew Mulville dari Sea World Foundation, yang menyaksikan langsung momen itu, mengira awalnya dua paus hanya beristirahat di permukaan. Namun ia melihat perilaku yang “tidak biasa” dan mengaku itu “pasti bukan” pemandangan yang ia duga akan ditemui di laut pada hari itu.
Para peneliti memperkirakan induk tersebut bertahan bersama anaknya selama “beberapa jam dan mungkin bahkan berhari-hari.” Di saat yang sama, mereka juga melaporkan adanya beberapa bangkai anak paus lain yang terlihat di area tersebut.
Rekaman menunjukkan induk paus melakukan kontak berulang, termasuk menyentuh tubuh anaknya dengan kepala dan sirip, serta mempertahankan kontak visual. Olaf Meynecke dari Griffith University mengatakan kepada AFP bahwa adegan itu “sangat menyedihkan” dan “menghancurkan hati” karena induk terus berusaha terhubung dengan anak yang sudah mati.
Yang menarik, induk tidak berupaya mengangkat anaknya ke permukaan untuk bernapas, sehingga peneliti menduga ia “mungkin menyadari anaknya sudah mati tak lama setelah melahirkan.” Dalam laporan mereka, tim riset menulis bahwa ini adalah “kejadian pertama yang terdokumentasi secara rinci” untuk spesies paus bungkuk terkait perilaku semacam itu.
Studi tersebut dipublikasikan di Discover Animals, dan memperkuat gagasan bahwa mamalia laut memiliki respons emosional yang kompleks. Meynecke menilai temuan ini berbicara tentang “ikatan kuat” induk-anak, serta tahapan emosi yang mungkin dialami mamalia “kompleks secara sosial” setelah kehilangan keturunan atau pasangan.
Dalam konteks yang lebih luas, perilaku serupa pernah terlihat pada orca yang menjadi berita pada 2018 setelah membawa anaknya yang mati lebih dari dua pekan. Orca yang sama bahkan kembali terlihat tahun lalu membawa tubuh bayi barunya, hanya beberapa hari setelah kelahiran dikonfirmasi peneliti.
Meynecke mengingatkan bahwa ritual duka bukan monopoli manusia, karena gajah dan kera juga sering diamati melakukan respons kehilangan yang memilukan. Bedanya, di darat peristiwa semacam itu lebih mudah disaksikan, sementara di laut dokumentasinya jarang dan sering hanya terjadi kebetulan.
Rangkaian temuan tentang paus bungkuk belakangan ini juga memperlihatkan betapa banyak sisi kehidupan mereka yang baru mulai terbuka. Rekaman duka ini muncul sekitar dua bulan setelah seorang fotografer di Australia merekam kelahiran paus bungkuk lewat drone, yang diduga pertama kali terjadi.
Pada Mei, peneliti juga mengumumkan dokumentasi perjalanan jarak jauh paus bungkuk yang memecahkan rekor antarlokasi berkembang biak. Salah satu paus tercatat pernah terlihat di lepas Bahia, Brasil, lalu muncul lagi 22 tahun kemudian di Hervey Bay, Australia, berjarak sekitar 9.383 mil.
Video paus bungkuk berduka memaksa publik meninjau ulang batas antara “insting” dan “emosi” pada hewan liar. Jika kontak berulang, penjagaan tubuh, dan ketekunan berjam-jam hingga berhari-hari bukan bentuk keterikatan, maka apa lagi bahasa yang tersisa untuk menjelaskannya.
Namun, label “duka” juga menuntut kehati-hatian, karena manusia mudah memproyeksikan perasaan sendiri ke perilaku satwa. Di sinilah pentingnya dokumentasi rinci, konteks ekologis, dan perbandingan lintas spesies agar interpretasi tidak berubah menjadi romantisasi.
Temuan ini juga menyentil pertanyaan etis tentang cara manusia mengelola laut, dari kebisingan kapal hingga perubahan iklim yang mengganggu rute migrasi dan ketersediaan pakan. Ketika kita mengakui paus sebagai makhluk sosial dengan ikatan kuat, standar perlindungan seharusnya tidak berhenti pada angka populasi, tetapi juga pada kualitas habitat dan ketenangan ruang hidup.
Rekaman di Gold Coast bukan sekadar kisah sedih tentang anak paus yang lahir mati, melainkan jendela kecil ke dunia batin mamalia laut yang lama tersembunyi. Ia menunjukkan bahwa kehilangan di samudra bisa meninggalkan jejak perilaku yang nyata, sekalipun jarang tertangkap kamera.
Pertanyaannya kini bukan hanya apakah paus bisa berduka, tetapi apakah manusia cukup dewasa untuk menanggapi temuan itu dengan kebijakan yang lebih berbelas dan berbasis sains. Jika laut adalah rumah bagi makhluk yang mampu terikat sedemikian kuat, bagaimana seharusnya kita memperlakukan rumah itu agar tetap layak dihuni. (Orbit dari berbagai sumber, 19 September 2026)