Truth API Trump dan Isu Insider Trading di Truth Social

AP News

AP News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Truth API Trump membuat postingan Presiden Donald Trump di Truth Social dijual sebagai “akses cepat” untuk para pedagang Wall Street. Layanan ini memantik tuduhan insider trading, karena kata-kata Trump kerap mengguncang pasar saham, mata uang, hingga minyak dalam hitungan detik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Presiden Donald Trump memahami bahwa dunia menunggu setiap kalimat yang ia tulis. Kini, perusahaan Truth Social miliknya ingin publik “membayar” untuk akses lebih cepat atas kalimat-kalimat itu. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Mulai Sabtu, bisnis Truth Social menawarkan pratinjau postingan kepada trader Wall Street yang bersedia membayar. Ini membuka peluang laba besar bagi perusahaan Trump, sekaligus pertanyaan besar soal etika dan konflik kepentingan. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Layanan feed supercepat sebenarnya lazim dijual oleh perusahaan media sosial dan penyedia data. Namun Truth Social bukan sekadar menyalurkan berita, karena akun Trump sering menjadi sumber berita kebijakan yang menggerakkan pasar. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Irene Aldridge dari Able Alpha Trading menyebut praktik ini berbahaya bila dilakukan CEO perusahaan publik. Ia menilai ada masalah ketika Presiden AS, yang berada “di kursi depan” pengambilan keputusan, memberi akses awal kepada kelompok terbatas. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Ketika ditanya soal kepatutan layanan baru dan apakah pengacara Gedung Putih meninjaunya, kantor pers Trump menolak berkomentar. Pertanyaan dialihkan ke induk usaha Truth Social yang tercatat di bursa, Trump Media & Technology. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Trump Media menyatakan kritik Demokrat salah kaprah dan didorong “oposisi ideologis terhadap pasar bebas.” Mereka juga menekankan perbedaan antara informasi publik dan nonpublik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Produk itu disebut Truth API dan menyasar high frequency traders yang bertransaksi dalam milidetik. Mereka memanfaatkan selisih harga kecil yang sangat singkat, sehingga kecepatan menerima sinyal menjadi senjata utama. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Bulan ini saja, Trump mengancam menaikkan tarif untuk Kanada, membatalkan kesepakatan nuklir dengan Arab Saudi, dan memperluas perang Iran. Jika diketahui lebih cepat, trader bisa bertaruh pada pelemahan dolar Kanada, penurunan saham energi nuklir, atau lonjakan kontrak berjangka minyak. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Joe Saluzzi dari Themis Trading memperkirakan sekitar 100 firma high frequency mungkin mau membayar layanan tersebut. Ia menyebutnya sebagai “informasi penggerak pasar” yang sulit diabaikan oleh pemain besar. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Di industri ini, firma terus menggelontorkan uang untuk feed data dan server yang memotong jalur internet lambat. Keuntungan makin besar karena AI mampu membaca postingan dan artikel untuk mendeteksi perubahan yang berdampak pada market-making. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Gaya Trump yang penuh ancaman, cliffhanger, dan pembalikan kebijakan menciptakan volatilitas yang menguntungkan trader cepat. Pembalikan bahkan memungkinkan profit “dua arah,” karena posisi bisa dibalik dalam sepersekian detik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Truth API juga akan memuat postingan kontributor Truth Social “berperingkat tinggi.” Nama yang disebut berpotensi termasuk Donald Trump Jr. dan Eric Trump, yang juga punya basis pengikut besar. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Truth Social mengklaim informasi dirilis ke trader dan publik pada waktu yang sama. Saluzzi menilai itu pengalihan isu, karena yang menentukan adalah waktu penerimaan dan kemampuan memproses, bukan waktu rilis formal. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Menurut Saluzzi, pihak yang punya sistem otomatis akan bertindak lebih cepat daripada investor biasa. Dalam ekosistem ini, kata dia, yang paling sering menjadi korban adalah investor ritel. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Dimensi lain muncul ketika Trump makin sering memuji perusahaan publik secara spesifik. Dylan Hedler-Gaudette dari Project on Government Oversight menyebut “mempromosikan perusahaan tertentu” membuat Wall Street ingin tahu lebih dulu. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Pada April, beberapa saat setelah Trump memuji Palantir Technologies dan mencantumkan simbol sahamnya, harga sempat melonjak paling besar dalam setahun. Di akhir bulan, ia menulis “Selamat untuk Intel,” dan sahamnya langsung naik di perdagangan after-hours. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Belum jelas firma mana saja yang mendaftar, karena pemain besar seperti Citadel Securities dan XTX Markets tidak merespons permintaan komentar. Namun jika hanya tiga pelanggan membayar biaya 100.000 dolar AS per bulan, pendapatan Trump Media bisa berlipat dari pemasukan 3,7 juta dolar AS tahun lalu. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Tekanan finansial menjadi konteks penting karena saham induk Truth Social dilaporkan anjlok 75% sejak Trump menjabat tahun lalu. Perusahaan juga terus melaporkan kerugian ratusan juta dolar meski trafik terbantu oleh postingan kebijakan besar Trump. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Trump bahkan begitu sering “membocorkan” kebijakan di Truth Social hingga kantor pers Gedung Putih menyalin postingannya ke email saat menjawab pertanyaan media. Jika posting belum muncul, jurnalis kadang diminta, “Tunggu Truth.” (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Risiko politik juga membayang jika Demokrat menguasai Kongres dan membuka investigasi. Senator Elizabeth Warren menyebut layanan baru ini sebagai “korupsi terang-terangan” dan berjanji menyeret pihak terkait untuk bertanggung jawab di hadapan publik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Masalah inti Truth API bukan semata soal teknologi, melainkan soal asimetri kekuasaan. Ketika sumber volatilitas pasar adalah kepala negara, menjual akses tercepat terasa seperti mengubah jabatan publik menjadi mesin monetisasi privat. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Argumen “pasar bebas” terdengar rapi, tetapi pasar bebas mensyaratkan lapangan yang tidak dimiringkan oleh kewenangan negara. Jika kebijakan bisa “dipaketkan” menjadi produk data premium, maka demokrasi berisiko berubah menjadi layanan berlangganan. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Truth Social mengatakan publik menerima informasi pada waktu yang sama, namun realitas pasar bekerja dalam mikrodetik. Di titik itu, “adil” bukan soal jam dinding, melainkan soal siapa yang punya pipa tercepat dan algoritma paling agresif. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Yang paling rentan adalah investor ritel dan publik luas yang tidak punya akses ke feed mahal. Mereka datang belakangan, membeli saat harga sudah terdorong, lalu menanggung risiko ketika volatilitas berbalik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Promosi Trump terhadap perusahaan tertentu memperkeruh batas antara opini, kebijakan, dan sinyal pasar. Jika pujian presiden bisa memicu lonjakan harga, maka setiap kata berpotensi menjadi “instrumen” yang diperdagangkan. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Craig Holman dari Public Citizen memperingatkan bahwa jika kerugian perusahaan terus menumpuk, Trump bisa terdorong memakai platform itu lebih sering untuk pengumuman kebijakan. Ia menilai Trump paham cara menjual produk, dan kali ini produknya adalah atensi publik. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Truth API Trump menempatkan pasar pada posisi yang makin tergantung pada notifikasi presiden, bukan pada indikator ekonomi yang stabil. Ketika kebijakan dan keuntungan mikrodetik bertemu dalam satu platform, kepercayaan publik menjadi taruhan yang paling mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)

Pertanyaannya bukan hanya apakah layanan ini legal, melainkan apakah ia pantas dalam etika demokrasi modern. Jika “tunggu Truth” menjadi prosedur negara, apakah kita sedang menyaksikan lahirnya model baru: pemerintahan yang berbicara lewat paywall? (Orbit dari berbagai sumber, 14 Agustus 2026)