Jalan Cinta Menurut Jalaluddin Rumi, Buku untuk Para Peziarah Jiwa di Dunia yang Makin Kehilangan Makna
Budhy Munawar-Rachman. Jalan Cinta Menurut Jalaluddin Rumi. Purbalingga: Penerbit Diva Pustaka, 2026. Tebal: xiv + 203 halaman.
ORBITINDONESIA.COM - Baru-baru ini sudah terbit buku karya cendekiawan Muslim, Dr. Budhy Munawar-Rachman yang mengulas tentang tokoh sufi besar, Jalaluddin Rumi. Dalam pengantar bukunya, Budhy menyatakan, menulis tentang Rumi sesungguhnya bukan hanya menulis tentang seorang penyair sufi besar dari Persia abad ke-13.
Menulis tentang Rumi berarti memasuki wilayah terdalam dari pengalaman manusia: cinta, kehilangan, kerinduan, kehancuran ego, dan pencarian terhadap Tuhan yang tak pernah selesai.
Di tengah dunia modern yang semakin bising, cepat, dan sering kali kehilangan makna, suara Rumi hadir seperti desir angin malam yang lembut, tetapi mampu mengguncang jiwa hingga ke dasar yang paling sunyi.
Buku ini lahir dari kesadaran Budhy, bahwa manusia modern, meskipun hidup di tengah kemajuan teknologi dan limpahan informasi, tetap menyimpan kehampaan spiritual yang mendalam.
“Kita hidup di zaman ketika manusia dapat menjelajahi ruang angkasa, tetapi sering gagal menjelajahi kedalaman dirinya sendiri. Kita memiliki kemampuan berkomunikasi tanpa batas, tetapi kehilangan kemampuan mendengar suara hati. Kita memiliki begitu banyak pengetahuan, tetapi tidak selalu memiliki kebijaksanaan,” tuturnya.
Dalam situasi seperti itu, pemikiran Jalaluddin Rumi menjadi sangat relevan. Ia mengingatkan bahwa inti kehidupan bukanlah sekadar keberhasilan material, melainkan kemampuan manusia untuk mencintai dan dicintai oleh Yang Maha Abadi.
Rumi bukan hanya penyair. Ia adalah peziarah jiwa. Ia adalah saksi dari pergulatan batin manusia yang haus akan makna. Puisi-puisinya tidak lahir dari kemewahan intelektual semata, tetapi dari luka, kehilangan, ekstase, dan cinta yang membakar seluruh keberadaannya.
“Ketika membaca Rumi, kita tidak sedang membaca teori. Kita sedang mendengarkan hati manusia yang terbakar oleh kerinduan kepada Tuhan. Karena itu, puisinya mampu melampaui batas agama, budaya, bahasa, bahkan zaman, tulis Budhy.
Sebagaimana ditulis oleh Annemarie Schimmel, “Rumi berbicara kepada hati manusia universal karena ia menulis dari pusat pengalaman eksistensial manusia itu sendiri” (Schimmel, 1975).
Pernyataan ini menjelaskan mengapa delapan abad setelah wafatnya, puisi-puisi Rumi tetap dibaca, dikutip, dan direnungkan di berbagai belahan dunia. Ia hadir bukan hanya di ruang-ruang spiritual Islam, tetapi juga di universitas, forum lintas agama, komunitas meditasi, bahkan budaya populer modern.
Namun justru di sinilah muncul tantangan besar. Popularitas Rumi sering kali membuat pemikirannya dipisahkan dari akar spiritual dan intelektualnya. Di banyak tempat, Rumi hanya dipahami sebagai penyair cinta universal tanpa konteks Islam dan tasawuf yang melahirkannya.
Puisi-puisinya dipotong menjadi kutipan-kutipan motivasional yang indah, tetapi kehilangan kedalaman metafisisnya. Padahal, cinta dalam pemikiran Rumi bukan sekadar romantisme spiritual yang sentimental.
Cinta bagi Rumi adalah jalan eksistensial menuju Tuhan. Ia adalah api yang menghancurkan ego manusia agar lahir kembali sebagai jiwa yang tercerahkan.
Buku karya Budhy ini bukan hanya ingin memperkenalkan Rumi sebagai penyair besar, tetapi juga ingin menampilkan Rumi sebagai pemikir mistik yang sangat dalam, kritis, dan relevan bagi manusia kontemporer.
Buku Budhy, yang juga dosen di STF Driyarkara ini, berusaha membaca puisi-puisi Rumi bukan sekadar sebagai karya sastra, tetapi sebagai ekspresi pengalaman spiritual yang memiliki daya transformasi bagi kehidupan manusia modern.
Sebagai penulis, Budhy sendiri menyadari bahwa membahas Rumi berarti memasuki wilayah yang sangat luas dan nyaris tak bertepi. Rumi adalah samudera. Setiap pembaca hanya mampu mengambil setetes air sesuai kapasitas batinnya.
Karena itu, buku ini tidak dimaksudkan sebagai penjelasan final tentang Rumi. Sebaliknya, ia adalah undangan untuk memulai perjalanan. Sebuah pintu kecil agar pembaca berani masuk ke dalam dunia cinta yang diajarkan oleh para sufi.
Dalam perjalanan menulis buku ini, Budhy mengaku, ia semakin merasakan bahwa pemikiran Rumi tidak hanya berbicara tentang Tuhan, tetapi juga tentang manusia. Tentang bagaimana manusia menghadapi luka. Tentang bagaimana kehilangan dapat menjadi jalan menuju pencerahan. Tentang bagaimana cinta dapat mengubah penderitaan menjadi cahaya.
Rumi mengajarkan bahwa manusia tidak harus sempurna untuk mendekati Tuhan. Justru dalam kehancuran, kegagalan, dan air mata, manusia sering kali paling dekat dengan-Nya.
Salah satu kalimat Rumi yang paling menyentuh Budhy adalah: “Luka adalah tempat cahaya masuk ke dalam dirimu” (Rumi, dalam Barks, 1995). Kalimat ini sederhana, tetapi memiliki kedalaman spiritual yang luar biasa.
Dunia modern sering mengajarkan manusia untuk menutupi luka, menyangkal penderitaan, dan terus tampak kuat. Tetapi Rumi mengajarkan hal sebaliknya. Ia mengajak manusia untuk berdamai dengan luka, karena di sanalah Tuhan sering kali hadir secara paling nyata.
Pemikiran Rumi juga menghadirkan kritik yang sangat penting terhadap cara beragama yang kering dan formalistik. Ia tidak menolak agama, tetapi menolak agama yang kehilangan cinta. Dalam banyak puisinya, Rumi mengkritik para ahli hukum dan teolog yang sibuk membicarakan Tuhan tetapi lupa mencintai-Nya.
Ia berkata, “Apa gunanya membaca ribuan kitab jika hatimu tidak terbakar oleh cinta?” Kritik ini sangat relevan hari ini, ketika agama sering dipenuhi pertengkaran identitas, kebencian, dan klaim kebenaran yang sempit.
Rumi mengingatkan bahwa inti agama bukanlah ketakutan, tetapi cinta. Tuhan bukan hanya hakim yang mengawasi manusia dari kejauhan, tetapi Sang Kekasih yang terus memanggil manusia untuk pulang.
Dalam salah satu bait puisinya yang terkenal, Rumi menulis: “Datanglah, siapa pun engkau. Meski seribu kali kau jatuh, Datanglah kembali. Ini bukan rumah keputusasaan.”
Puisi ini menggambarkan spiritualitas yang sangat inklusif dan penuh welas asih. Rumi tidak menutup pintu bagi siapa pun. Ia memahami bahwa manusia adalah makhluk yang rapuh. Tetapi justru dalam kerapuhan itulah, cinta Tuhan bekerja.
Dalam menulis buku ini, Budhy juga semakin menyadari bahwa tasawuf bukan pelarian dari dunia. Banyak orang salah memahami sufisme sebagai sikap menjauh dari kehidupan sosial. Padahal, cinta Ilahi yang diajarkan Rumi justru melahirkan empati, kelembutan, dan keterlibatan yang lebih mendalam terhadap sesama manusia.
Orang yang benar-benar mencintai Tuhan, menurut Rumi, akan semakin mencintai ciptaan-Nya. Ia tidak akan mudah membenci, merendahkan, atau melukai orang lain. Karena itu, pemikiran Rumi memiliki relevansi besar dalam dunia yang penuh konflik, polarisasi, dan kekerasan atas nama identitas.
Rumi menawarkan spiritualitas yang melampaui sekat-sekat sempit. Ia mengajak manusia melihat Tuhan bukan sebagai alasan untuk memusuhi orang lain, tetapi sebagai sumber cinta universal yang menyatukan seluruh kehidupan.
Dalam konteks Indonesia yang plural dan multikultural, pesan Rumi menjadi sangat penting. Bangsa ini membutuhkan spiritualitas yang lembut tetapi kuat. Spiritualitas yang mampu menjaga kedalaman agama tanpa jatuh pada fanatisme. Spiritualitas yang mampu menghubungkan iman dengan kemanusiaan.
Di tengah meningkatnya kecenderungan keberagamaan yang eksklusif dan keras, Rumi menghadirkan alternatif: jalan cinta. Namun demikian, Budhy juga ingin menyampaikan catatan kritis. Spiritualitas cinta ala Rumi tidak boleh direduksi menjadi romantisme kosong yang melupakan realitas sosial.
Ada kecenderungan di sebagian kalangan modern untuk menjadikan Rumi sekadar simbol “spiritualitas damai” tanpa keberanian menghadapi ketidakadilan sosial. Padahal, cinta sejati selalu memiliki dimensi etis. Cinta kepada Tuhan harus melahirkan keberpihakan kepada kemanusiaan.
Spiritualitas yang hanya sibuk mencari ketenangan pribadi tanpa kepedulian sosial pada akhirnya bisa berubah menjadi narsisme spiritual. Rumi sendiri tidak pernah memisahkan cinta kepada Tuhan dari cinta kepada manusia. Dalam puisinya, ia berkali-kali menegaskan bahwa hati manusia adalah tempat Tuhan bersemayam. Karena itu, melukai manusia berarti melukai Tuhan yang hadir dalam dirinya.
Di sinilah tasawuf menemukan dimensi sosialnya yang mendalam. Selaku penulis, Budhy berharap buku ini dapat dibaca bukan hanya sebagai kajian tentang seorang tokoh sufi, tetapi juga sebagai cermin untuk melihat diri sendiri. Sebab pada akhirnya, membaca Rumi adalah membaca kegelisahan manusia sendiri.
Ketika Rumi berbicara tentang kehilangan, kita teringat pada kehilangan kita sendiri. Ketika ia berbicara tentang cinta, kita menemukan kerinduan kita sendiri. Dan ketika ia berbicara tentang Tuhan, kita diam-diam sedang mencari jalan pulang menuju sumber kehidupan yang paling dalam.
Buku ini juga merupakan bentuk penghormatan Budhy kepada tradisi intelektual Islam yang kaya akan dimensi spiritual dan humanistik. Sering kali Islam hanya dipahami dari sisi hukum dan politiknya, padahal di dalam sejarahnya, Islam juga melahirkan tradisi mistik yang sangat dalam dan indah.
Tradisi yang mengajarkan kelembutan hati, cinta universal, dan pencarian makna hidup. Rumi adalah salah satu puncak dari tradisi itu.
Akhirnya, Budhy berharap buku ini dapat menjadi teman perjalanan spiritual bagi siapa saja yang sedang mencari makna hidup. Budhy tidak berharap pembaca hanya memahami Rumi secara intelektual. Lebih dari itu, Budhy berharap pembaca bisa merasakan getaran cinta yang mengalir dalam setiap bait puisinya.
Karena sesungguhnya, sebagaimana diyakini Rumi sendiri, cinta tidak bisa sepenuhnya dijelaskan. Ia hanya bisa dialami. Dan mungkin, di tengah kesibukan dunia modern yang melelahkan ini, kita semua diam-diam sedang mencari hal yang sama: sebuah rumah spiritual tempat jiwa dapat pulang dengan tenang. ***