Daftar Forbes 400: Empat Miliarder Colorado Bertahan

The Denver Post

The Denver Post

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Daftar Forbes 400 tahun ini menampilkan empat miliarder Colorado, di tengah “harga masuk” yang makin mahal karena ledakan kekayaan teknologi. Total harta 400 orang terkaya Amerika naik dari US$6,6 triliun menjadi US$8 triliun, sementara 590 miliarder AS justru gagal masuk daftar.

Forbes mencatat lonjakan kekayaan terutama didorong semikonduktor dan kecerdasan buatan, yang membuat standar minimal untuk masuk Forbes 400 kian tinggi. Dampaknya terasa sampai Colorado, karena Patricia Stryker dari Fort Collins yang tahun lalu tercatat US$4,1 miliar kini tersingkir dari daftar.

Stryker dikenal sebagai pendiri Bohemian Foundation, dengan akar kekayaan keluarga dari bisnis alat kesehatan yang dibangun kakeknya. Tersingkirnya nama ini menjadi sinyal bahwa “kaya” saja tidak lagi cukup, karena klub elit itu bergerak lebih cepat daripada pertumbuhan aset tradisional.

Philip Anschutz tetap menjadi warga Colorado terkaya dengan estimasi kekayaan US$19,3 miliar, peringkat 60 di AS dan 143 dunia. Forbes menulis kenaikan kekayaannya mencapai 78% sejak 2023, ditopang menguatnya nilai aset hiburan dan waralaba olahraga.

Anschutz membangun pijakan dari minyak dan gas, lalu membeli rel kereta seperti Denver & Rio Grande Western dan Southern Pacific. Dari sana ia memanfaatkan aset infrastruktur untuk membangun jaringan serat optik nasional melalui Qwest Communications.

Kepemilikan rel juga membuka akses pada lahan-lahan pusat kota yang kini sangat bernilai. Anschutz Entertainment disebut memiliki lebih dari 70 arena dan venue konser global, termasuk Crypto.com Arena di Los Angeles.

Ia juga ikut mendirikan Major League Soccer, serta punya kepentingan besar di LA Galaxy dan LA Kings. Di Colorado, ia memiliki Broadmoor Hotel dan surat kabar Gazette di Denver serta Colorado Springs.

Di sisi lain, kisah Charlie Ergen menunjukkan volatilitas ekstrem ketika ambisi teknologi bertemu regulator dan kebutuhan modal. Pendiri dan ketua EchoStar ini sempat diperkirakan bernilai US$18,3 miliar pada 2017, lalu turun menjadi US$1,4 miliar pada 2024, penurunan 92% menurut Forbes.

Penurunan itu dikaitkan dengan perlombaan mahal EchoStar membangun jaringan seluler nasional dari nol, yang terlambat memenuhi ekspektasi regulator federal. Perusahaan dituduh “menimbun” spektrum bernilai tinggi tanpa segera mengoperasikannya secara memadai.

Perubahan arah terjadi ketika AT&T dan SpaceX membeli sebagian besar spektrum, membantu pemulihan saham EchoStar. Forbes juga menyebut SpaceX menawarkan sebagian saham sebagai bagian pembayaran, membuat Ergen “menumpang roket” SpaceX untuk pulih.

Hasilnya, Ergen kini berada di posisi 101 dengan kekayaan US$12,8 miliar, sebuah pembalikan yang tajam. Namun narasi ini juga menegaskan bahwa nilai miliarder modern sering bergantung pada kesepakatan aset tak berwujud, seperti spektrum dan ekuitas perusahaan privat.

Mark Stevens menjadi orang terkaya ketiga di Colorado dengan US$11,8 miliar dan peringkat 120. Ia mengumpulkan kekayaan besar sebagai partner Sequoia Capital, investor awal bagi Google, PayPal, dan LinkedIn.

Stevens pindah basis ke Steamboat Springs pada 2020 dan mengelola S-Cube Capital yang disebut sebagai investor awal Nvidia. Forbes mencatat kekayaannya naik 228% sejak 2023, terutama karena kepemilikan saham Nvidia yang melonjak dalam boom AI.

Menariknya, ia memakai sebagian kekayaan untuk intervensi sosial lokal yang jarang dilakukan miliarder. Pada 2024 ia membeli Riverview Apartment Complex senilai US$95,3 juta dan memangkas sewa di kompleks 104 unit agar pekerja Yampah Valley bisa tinggal dekat tempat kerja.

John Malone menutup daftar Colorado pada posisi 134 dengan US$11,4 miliar. Dijuluki “cable cowboy”, ia lama memimpin Liberty Media dan membangun kekayaan dari kabel serta kepemilikan hiburan.

Malone adalah insinyur telekomunikasi yang kemudian terkenal sebagai “insinyur finansial”, merakit dan membongkar portofolio aset secara agresif. Liberty Broadband yang memegang 25% Charter Communications dibeli Charter pada 20 Agustus, menandai babak penting restrukturisasi.

Forbes mencatat kekayaannya hampir dua kali lipat sejak 2020, sekaligus memperlihatkan pergeseran minatnya ke lahan dan konservasi. Ia disebut sebagai pemilik lahan privat terbesar ketiga di Amerika, sebuah bentuk kekuasaan yang tidak selalu tampak di neraca perusahaan.

Daftar Forbes 400 tahun ini memperlihatkan dua Amerika sekaligus, yakni Amerika teknologi yang melesat dan Amerika aset lama yang harus berlari lebih kencang agar tidak tertinggal. Ketika semikonduktor dan AI menaikkan total kekayaan menjadi US$8 triliun, daftar itu berubah menjadi cermin ketimpangan yang makin “mahal” untuk diakses.

Colorado menjadi miniatur dari pertarungan itu: Anschutz dan Malone menang lewat aset hiburan, telekomunikasi, dan lahan, sementara Stevens menang lewat Nvidia dan mesin pertumbuhan AI. Ergen menunjukkan sisi gelapnya, karena spektrum dan jaringan bukan sekadar inovasi, melainkan juga permainan regulasi, waktu, dan pembakaran modal.

Yang paling mengusik adalah pertanyaan tentang fungsi sosial dari kekayaan superbesar. Stevens memberi contoh bahwa intervensi sewa rumah bisa menjadi kebijakan mikro yang langsung terasa, tetapi itu tetap bergantung pada kehendak individu, bukan sistem.

Keluarnya Patricia Stryker dari daftar juga penting dibaca sebagai peringatan: filantropi dan warisan industri lama tidak menjamin posisi ketika ekonomi baru mengubah definisi “terkaya”. Dalam lanskap ini, kekayaan bukan hanya soal kerja keras atau warisan, tetapi juga soal akses ke aset yang nilainya digenjot oleh gelombang teknologi dan pasar modal.

Empat nama dari Colorado di Forbes 400 menegaskan bahwa peta kekayaan Amerika sedang digambar ulang oleh AI, semikonduktor, dan aset hiburan, bukan semata industri klasik. Namun di balik angka-angka, yang lebih penting adalah dampaknya pada kehidupan nyata, dari harga rumah pekerja hingga kontrol atas lahan dan infrastruktur.

Jika “harga masuk” klub orang terkaya terus naik, masyarakat perlu bertanya siapa yang diuntungkan dan siapa yang tertinggal. Pada akhirnya, pertanyaan paling mendasar bukan berapa besar kekayaan mereka, melainkan untuk apa kekayaan itu digunakan ketika ketimpangan menjadi biaya tersembunyi dari pertumbuhan. (Orbit dari berbagai sumber, 17 September 2026)