KTT SCO Bishkek: Putin Xi dan Iran Uji Tatanan Dunia Multipolar
ORBITINDONESIA.COM – KTT SCO Bishkek mempertemukan Vladimir Putin, Xi Jinping, dan Presiden Iran Masoud Pezeshkian di saat sanksi AS dan perang dagang menekan banyak anggota. Di forum yang kian politis ini, kata kunci “tatanan dunia multipolar” kembali dijual sebagai jawaban atas dominasi Barat.
Sekitar 12 kepala negara berkumpul di Bishkek untuk menandai 25 tahun Shanghai Cooperation Organization (SCO). Anggotanya mencakup Rusia, China, India, Pakistan, Iran, empat negara Asia Tengah, serta Belarus.
Di atas kertas, deklarasi pendirian SCO menyebut organisasi ini “bukan aliansi yang diarahkan terhadap negara lain”. Namun, realitas geopolitik membuat setiap pertemuan puncak menjadi panggung pembacaan ulang: siapa menekan, siapa bertahan, dan siapa mencari celah.
KTT kali ini berlangsung di tengah perang Rusia-Ukraina, ketegangan Iran-AS, dan friksi tarif yang menyeret China serta India. Bishkek menjadi ruang pertemuan kepentingan yang tidak selalu sejalan, tetapi dipaksa tampak kompak oleh tekanan eksternal.
Rusia dan China selama ini memanfaatkan SCO untuk menunjukkan koordinasi politik melawan pengaruh Barat. Dalam berbagai KTT, Putin dan Xi berulang kali melontarkan kritik terhadap “intimidasi” dan narasi Barat, sambil mempromosikan multipolaritas sebagai norma baru.
Namun, multipolaritas ala SCO bukan sekadar slogan, melainkan strategi bertahan hidup. Rusia mencari legitimasi dan jejaring ekonomi saat tersandera perang, sementara China mengamankan ruang manuver ketika hubungan dagang dan teknologi dengan AS makin ketat.
Iran membawa beban paling konkret: sanksi yang panjang sejak revolusi 1979 dan tekanan sekunder yang menyasar mitra dagangnya. AS menjatuhkan sanksi sekunder terhadap mitra Iran di sektor emas, teknologi, aset digital, penerbangan, dan transportasi maritim, serta mengancam sekutu Iran dengan sanksi.
Di titik ini, SCO tampak seperti “jalur napas” alternatif, terutama karena China adalah salah satu pengimpor utama minyak Iran. Beijing bahkan menegaskan akan “mempertahankan kepentingannya dengan tegas,” sebuah sinyal bahwa energi dan rantai pasok bisa lebih kuat daripada tekanan diplomatik.
Akan tetapi, manfaat SCO bagi Iran tidak otomatis. Pakar hubungan internasional Mohammad Hassan Najmi menilai Iran melihat keanggotaan aktif sebagai cara menghindari sanksi AS dan Eropa, tetapi manfaat konkret SCO belum pasti karena aliansi semacam itu kerap tidak membantu saat krisis memuncak.
Secara statistik, SCO mengklaim mewakili sekitar 40 persen populasi dunia dan 25 persen PDB global. Angka ini memberi daya tawar simbolik, tetapi tidak selalu berbanding lurus dengan kemampuan kolektif untuk menahan sanksi atau menciptakan mekanisme finansial yang benar-benar aman.
Di Bishkek, sorotan juga mengarah pada kemungkinan pertemuan bilateral Putin dengan Xi dan Pezeshkian. Ini sensitif karena Rusia dan Iran dilaporkan memperdalam hubungan militer dan ekonomi di tengah perang Ukraina, sementara Presiden AS Donald Trump sebelumnya memperingatkan Rusia dan China agar tidak mempersenjatai Iran.
Namun, SCO bukan NATO versi Timur, dan justru di situ problemnya. Organisasi ini menampung rivalitas lama seperti India-Pakistan, serta kepentingan ekonomi yang sering saling bertabrakan, sehingga “kompak” lebih mudah diucapkan daripada dijalankan.
Perluasan jejaring SCO juga memperlihatkan ambisi, sekaligus kebingungan arah. Selain 10 anggota, ada 15 mitra dialog termasuk Turki, Arab Saudi, dan Qatar, sementara Afghanistan dan Mongolia berstatus pengamat.
KTT SCO Bishkek memperlihatkan paradoks utama: semakin kuat tekanan Barat, semakin besar kebutuhan anggota SCO untuk tampil bersatu. Tetapi semakin besar panggungnya, semakin jelas perbedaan kepentingan yang menggerogoti kemampuan bertindak bersama.
Multipolaritas yang dipromosikan Putin dan Xi terdengar menjanjikan bagi negara yang lelah dipaksa memilih kubu. Namun, multipolaritas tanpa institusi yang efektif hanya memindahkan pusat gravitasi, bukan memperbaiki ketidakadilan sistem.
Bagi Iran, SCO menawarkan harapan diplomatik dan rute dagang yang lebih lentur. Tetapi jika mekanisme pembayaran, asuransi maritim, dan perlindungan terhadap sanksi sekunder tidak benar-benar dibangun, keanggotaan akan berhenti sebagai foto keluarga para pemimpin.
Bagi Rusia, forum ini adalah bukti bahwa isolasi tidak total. Namun, legitimasi simbolik tidak serta-merta mengubah biaya perang, terutama saat ekonomi global makin sensitif terhadap risiko dan kepatuhan sanksi.
Bagi China, SCO adalah instrumen untuk memperluas ruang pengaruh tanpa harus membentuk aliansi militer formal. Namun, semakin China menjadi penopang ekonomi bagi negara yang disanksi, semakin besar pula risiko reputasi dan gesekan dengan pasar Barat.
Di sisi lain, kehadiran India mengingatkan bahwa SCO bukan klub anti-Barat yang rapi. India bisa duduk satu meja dengan China dan Rusia, sambil tetap menjaga kepentingannya sendiri, dan itulah cermin dunia yang benar-benar multipolar: cair, transaksional, dan penuh kompromi.
KTT SCO Bishkek menegaskan bahwa organisasi ini telah bergeser dari fokus ekonomi menuju arena geopolitik yang sarat pesan. Ia menawarkan panggung besar untuk menantang dominasi Barat, tetapi belum tentu menyediakan alat teknis untuk mengubah nasib negara yang tercekik sanksi.
Pertanyaannya bukan lagi apakah SCO bisa “melawan” Barat, melainkan apakah ia mampu membangun solidaritas yang operasional di tengah rivalitas internal. Jika tidak, multipolaritas akan tinggal sebagai retorika, dan dunia hanya menyaksikan pergantian panggung tanpa perubahan naskah.
Pada akhirnya, Bishkek menguji satu hal sederhana: apakah kerja sama regional dapat menjadi jaring pengaman nyata, atau hanya cermin tempat para pemimpin melihat bayangan kekuatan yang ingin mereka miliki. (Orbit dari berbagai sumber, 1 September 2026)