Perang Yemen-Houthi Memanas Lagi, Ancaman Laut Merah Membesar

Al Jazeera

Al Jazeera

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Perang Yemen dan Houthi kembali mendekati titik didih, setelah kelompok itu mengklaim serangan rudal dan drone ke dua kapal Saudi di Laut Merah. Bentrokan darat di Dhale juga pecah, menandai eskalasi dari mobilisasi menjadi aksi militer terbuka. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Dalam beberapa hari terakhir, pasukan Houthi memobilisasi kekuatan di wilayah yang mereka kuasai, dan skenario perang total kembali menguat setelah empat tahun “quasi-damai”. Pada Rabu, Houthi menyatakan mereka menyerang dua kapal Saudi yang disebut melanggar blokade mereka atas pelabuhan-pelabuhan kerajaan itu. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Bersamaan dengan itu, garis depan di Provinsi Dhale, barat daya Yemen, meledak dalam bentrokan antara Houthi dan pasukan yang berafiliasi dengan pemerintah. Lebih dari 30 korban jatuh di kedua pihak, memberi sinyal bahwa ketegangan tidak lagi sebatas ancaman. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Houthi memasuki fase baru karena mereka merasa punya modal kemenangan medan tempur selama bertahun-tahun. Mereka masih menguasai barat laut Yemen yang padat penduduk, termasuk ibu kota Sanaa, meski diserang koalisi Saudi, AS, Inggris, dan Israel dalam satu dekade terakhir. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Namun, peta strategis tidak lagi sama seperti 2014–2019 ketika lawan-lawan Houthi terpecah dan lemah. Selama empat tahun terakhir, konsolidasi pasukan anti-Houthi di bawah kepemimpinan pemerintah meningkat, dan isu keamanan Laut Merah memperluas taruhan regional. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Pada September 2014, Houthi merebut Sanaa dan melaju ke wilayah lain saat resistensi militer lemah dan elite politik terbelah. Banyak pemimpin, termasuk Presiden saat itu Abd-Rabu Mansour Hadi, melarikan diri ke luar negeri, terutama ke Arab Saudi. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Koalisi Arab pimpinan Saudi masuk perang pada Maret 2015 untuk mendukung pemerintah Yemen, lalu terlibat langsung hingga gencatan senjata April 2022. Akan tetapi, perang panjang tidak membalikkan capaian teritorial Houthi, karena agenda koalisi yang saling bertabrakan dan konflik internal kubu pemerintah. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Perpecahan itu terutama terkait rivalitas Saudi dan Uni Emirat Arab, serta pertarungan pengaruh di selatan. Bahkan, pemerintah Yemen belakangan memerintahkan pengusiran UEA, sementara Saudi memberi dukungan untuk menundukkan sekutu Abu Dhabi di selatan, Dewan Transisi Selatan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Ahmed Nagi dari International Crisis Group menilai kohesi yang lebih besar di kubu pemerintah bisa membalik momentum dari Houthi. Ia menyebut Dewan Kepemimpinan Presidensial lebih sedikit terbelah dan pengambilan keputusan tampak lebih terkoordinasi dibanding awal tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Nagi juga menekankan Saudi kini menjadi aktor regional utama di lapangan dan bekerja lebih dekat dengan beragam faksi anti-Houthi. Menurutnya, jika pemerintah mengelola kampanye militer dengan strategi terpadu dan koordinasi yang lebih baik, tekanan terhadap Houthi bisa nyata dan menggeser keseimbangan kekuatan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Marwan Ali Noman dari Washington Center for Yemeni Studies menyorot kemunculan aliansi suku anti-Houthi di al-Jawf, utara Yemen, timur Sanaa. Ia menilai persatuan kekuatan pro-pemerintah dan kekhawatiran internasional soal keamanan Laut Merah, terutama setelah ancaman Houthi di Selat Bab al-Mandeb, memperkuat posisi lawan Houthi. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Houthi memang masih unggul dalam kapabilitas rudal dan drone, tetapi lawan mereka memanfaatkan masa tenang sejak 2022 untuk membangun ulang, mempersenjatai diri, dan memperkuat posisi. Noman menilai perkembangan ini dapat meningkatkan peluang perolehan wilayah bila eskalasi berubah menjadi konfrontasi terbuka. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Di Laut Merah, Houthi pernah menyerang kapal terkait AS dan Israel pada 2023–2025, yang mereka klaim sebagai solidaritas untuk Palestina saat perang Gaza. Israel, AS, dan Inggris membalas dengan ratusan serangan udara, lalu pada Mei 2025 Houthi menghentikan serangan setelah kesepakatan dengan AS. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Yazeed al-Jeddawy dari Sanaa Center for Strategic Studies memperingatkan respons kali ini bisa berbeda jika ancaman terbaru berubah menjadi kampanye berkelanjutan terhadap kapal komersial terkait Saudi. Ia menyebut diskusi tingkat lanjut di antara negara-negara kawasan untuk membentuk aliansi baru perlindungan jalur maritim, dengan dukungan mitra internasional. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Al-Jeddawy juga menilai skenario itu dapat mendorong dukungan lebih besar bagi pasukan darat lokal yang sudah memulihkan kekuatan sejak 2022. Artinya, serangan laut Houthi bisa memicu efek balik berupa penguatan musuh di darat, bukan sekadar tekanan diplomatik. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Presiden AS Donald Trump bahkan mengancam “hukuman militer besar” bagi Iran dan Houthi setelah serangan ke dua tanker minyak Saudi. Trump menyatakan AS akan menganggap Iran bertanggung jawab jika serangan terulang, dengan argumen Houthi adalah proksi Teheran. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Di dalam negeri Yemen, ribuan anggota suku dari berbagai provinsi berkumpul di al-Jawf bulan ini dan mengecam otoritas Houthi. Fuad Mussed menilai oposisi suku yang tampil dalam bentuk persatuan seperti ini adalah perkembangan besar, mengingat suku-suku mengalami fragmentasi dan kelelahan perang selama bertahun-tahun. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Mussed menambahkan aliansi suku anti-Houthi di al-Jawf dapat menjadi penopang kritis bagi operasi militer pemerintah jika perang kembali meletus. Namun al-Jeddawy mengingatkan efektivitasnya bergantung pada seberapa luas aliansi itu, seberapa solid kohesinya, dan apakah koordinasinya dengan pasukan pemerintah benar-benar berjalan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Menurut catatan resmi di Sanaa, unit militer yang berafiliasi dengan Houthi berjumlah lebih dari 200.000 kombatan, dan mereka bisa memanggil puluhan ribu loyalis tambahan. Al-Jeddawy menilai belum ada pergeseran menentukan dalam keseimbangan kekuatan, karena itu menuntut penyatuan keputusan, koordinasi lintas-front, dan dukungan regional yang berkelanjutan bagi kubu pemerintah. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Houthi juga masih memiliki keunggulan penting: komando yang terpadu, rudal, posisi pertahanan yang diperkokoh, dan pengalaman tempur luas. Karena itu, posisi anti-Houthi memang lebih kuat dibanding awal gencatan 2022, tetapi mengubahnya menjadi pergeseran strategis tetap jauh dari jaminan. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Eskalasi ini memperlihatkan kalkulasi Houthi yang bertumpu pada dua asumsi lama: lawan mereka akan kembali terpecah, dan kawasan akan memilih kesepakatan cepat daripada menanggung serangan berkepanjangan. Masalahnya, kedua asumsi itu mulai rapuh karena konsolidasi kubu pemerintah dan meningkatnya sensitivitas global terhadap keamanan Laut Merah. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Serangan ke kapal Saudi bukan hanya pesan militer, tetapi juga upaya mengubah meja perundingan lewat tekanan ekonomi dan reputasi. Namun, di era ketika jalur pelayaran menjadi urat nadi perdagangan dan energi, aksi seperti itu cenderung mengundang koalisi penjagaan maritim yang lebih luas, bukan sekadar kecaman. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Di darat, kemunculan aliansi suku di al-Jawf adalah variabel yang dapat mengganggu dominasi Houthi dari dalam ekosistem sosial Yemen sendiri. Jika suku-suku yang selama ini pragmatis mulai menyatu dan berkoordinasi dengan negara, Houthi menghadapi tantangan yang lebih “organik” ketimbang serangan udara asing. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Namun, kubu pemerintah juga tidak boleh mabuk oleh narasi “momentum berbalik”. Tanpa komando terpadu, logistik yang konsisten, dan tujuan politik yang jelas pascakonflik, kemenangan taktis hanya akan mengulang siklus perang yang sama, sementara warga sipil kembali menjadi tagihan paling mahal. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Perang Yemen, Houthi, dan krisis Laut Merah kini menyatu dalam satu rangkaian sebab-akibat yang saling menguatkan. Setiap rudal di laut dapat memanggil aliansi baru, dan setiap bentrokan di darat dapat mengubah peta loyalitas suku yang selama ini menjadi penentu. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)

Pertanyaan yang tersisa bukan hanya siapa yang lebih kuat, melainkan siapa yang paling siap membayar biaya politik dan kemanusiaan dari perang yang kembali dibuka. Jika semua pihak terus bertaruh pada eskalasi untuk memaksa kesepakatan, Yemen bisa kembali menjadi panggung “kemenangan” yang tidak pernah benar-benar menang bagi rakyatnya. (Orbit dari berbagai sumber, 8 Agustus 2026)