Performative Self-Care: Tren Self Care di Media Sosial yang Menguras
ORBITINDONESIA.COM – Performative self-care dan tren self care di media sosial membuat banyak orang sibuk terlihat “sehat”, tetapi justru kehilangan manfaat pemulihan yang dicari. Seusai olahraga, sebagian orang lebih cepat membuka kamera dan menyusun caption daripada menurunkan napas dan merasakan tubuhnya pulih.
Dalam beberapa tahun terakhir, self-care berubah dari kebutuhan personal menjadi konten yang bisa dipamerkan. Rutinitas wellness dibuat estetis, dijadikan identitas, lalu diukur dengan metrik yang mudah dihitung.
Masalahnya bukan pada olahraga, meditasi, atau unggahan itu sendiri. Masalahnya muncul ketika pemulihan dilakukan sambil “memproduksi” bukti pemulihan.
Di titik itu, perhatian terbelah antara pengalaman dan representasi pengalaman. Ketika fokus pecah, tubuh hadir, tetapi pikiran tidak ikut tinggal.
Psikologi perhatian menunjukkan manfaat pemulihan sangat bergantung pada presence, yakni kemampuan hadir penuh pada satu aktivitas. Ketika aktivitas restoratif ditumpangi tugas lain, otak tidak benar-benar turun dari mode siaga.
American Psychological Association berulang kali menautkan stres dengan beban kognitif dan kebiasaan multitasking yang menguras energi mental. Dalam kerangka ini, memotret, memilih angle, dan merangkai narasi saat “me time” dapat menjadi kerja tambahan.
Riset tentang penggunaan media sosial juga konsisten menemukan kaitan antara social comparison dan penurunan kesejahteraan subjektif pada sebagian pengguna. Ketika self-care menjadi ajang pembanding, ia berubah menjadi kompetisi yang halus namun melelahkan.
Di level budaya, industri wellness mendorong standar “sehat” yang mudah dijual karena tampak indah. Akhirnya, yang diutamakan bukan pemulihan, melainkan tampilan pemulihan.
Akibatnya paradoks: kita mengonsumsi konten self-care untuk merasa lebih baik, lalu merasa tertinggal karena standar yang kita lihat terlalu rapi. Lalu kita membuat konten serupa agar dianggap mampu, dan siklusnya berulang.
Bagi high achiever, performative self-care juga berfungsi sebagai manajemen reputasi. Ia menjadi sinyal “aku baik-baik saja” tanpa harus menghadapi pekerjaan batin yang lebih sunyi dan berat.
Self-care yang paling efektif sering kali tidak fotogenik dan tidak menarik untuk dipamerkan. Ia berupa batas yang tegas, tidur yang diprioritaskan, dan keputusan sederhana untuk berhenti sebelum tubuh memaksa berhenti.
Standar baru yang lebih sehat adalah menilai self-care dari dampaknya, bukan dokumentasinya. Pertanyaannya bukan “apakah ini layak diunggah”, melainkan “apakah ini benar-benar memulihkan”.
Mengunggah pencapaian wellness tidak selalu salah, karena komunitas bisa menguatkan. Namun ketika kebutuhan validasi mengambil alih, self-care berubah menjadi panggung yang menuntut performa.
Di sinilah garis batasnya: apakah kita sedang reset, atau sedang memproduksi reset. Jika pikiran sibuk menyusun narasi, mungkin tubuh tidak pernah benar-benar diberi ruang untuk tenang.
Self-care yang nyata juga menuntut keberanian untuk melakukan lebih sedikit. Ia menolak mitos bahwa setiap jeda harus produktif dan setiap pemulihan harus terlihat.
Tujuan self-care bukan tampak sehat, melainkan menjadi sehat secara bertahap dan konsisten. Ia hadir dalam pilihan kecil yang tidak disorot, seperti berjalan tanpa ponsel dan menahan diri untuk tidak menjelaskan batasan.
Barangkali pertanyaan paling jujur yang bisa kita ajukan setiap kali “merawat diri” adalah ini: apakah aku hadir, atau hanya ingin terlihat hadir. Jika tidak ada yang tahu pun kita melakukannya, apakah kita tetap memilihnya.
(Orbit dari berbagai sumber, 5 Juni 2026)