Petinggi Pentagon Peringatkan Menhan AS Pete Hegseth: Operasi Militer di Iran Kian Tak Berkelanjutan
ORBITINDONESIA.COM — Keretakan serius dan kekhawatiran mendalam melanda internal Kementerian Pertahanan Amerika Serikat (Pentagon).
Para pimpinan tertinggi militer berseragam dilaporkan telah melayangkan peringatan keras kepada Menteri Pertahanan AS, Pete Hegseth, agar tidak terus memperpanjang skala operasi militer melawan Iran yang kini telah memasuki bulan keenam.
Berdasarkan dokumen internal Pentagon bertajuk Secretary of Defense Orders Book (SDOB) yang dibocorkan oleh The Washington Post, para jenderal dan laksamana bintang empat AS secara terbuka menilai bahwa pengerahan pasukan besar-besaran di Timur Tengah sudah mencapai titik "tidak berkelanjutan" (unsustainable).
Jika terus dipaksakan, operasi ini dinilai berisiko melumpuhkan kesiapan tempur militer AS di kawasan vital lain, terutama dalam menghadapi potensi konflik di Indo-Pasifik dan Eropa.
Langkah paling menonjol dari dokumen tersebut adalah munculnya nota keberatan resmi (non-concur) dari sejumlah komandan militer teratas.
Kepala Staf Angkatan Laut AS bersama para panglima komando yang mengawasi kawasan Eropa (EUCOM), Pasifik (PACOM), dan Amerika Selatan (SOUTHCOM) secara formal mencatatkan ketidaksetujuan mereka atas instruksi Menhan Hegseth.
Meski para jenderal ini tetap tunduk pada komando otoritas sipil, pendaftaran status non-concur merupakan sinyal merah yang sangat jarang terjadi, menandai betapa besarnya risiko keamanan nasional yang sedang dipertaruhkan.
Angkatan Laut AS menjadi matra yang menanggung beban paling berat. Kepala Staf Angkatan Laut, Laksamana Daryl Caudle, memperingatkan Hegseth bahwa penempatan terus-menerus gugus tugas kapal induk dan kapal perusak di Timur Tengah telah mengacaukan jadwal perawatan rutin armada serta menguras persediaan amunisi presisi.
Senada dengan hal tersebut, Panglima Komando Pasifik (PACOM) Laksamana Samuel Paparo menentang keras penarikan aset-aset tempur dari kawasan Pasifik menuju Timur Tengah, yang dinilainya dapat membuka celah kerentanan bagi AS di tengah ketegangan dengan Tiongkok.
Di sisi lain, meski pimpinan Angkatan Darat dan Angkatan Udara AS secara formal membubuhkan tanda setuju (concur), mereka tetap menyertakan catatan khusus.
Kedua matra tersebut menegaskan bahwa perpanjangan penugasan pasukan di Iran membawa "risiko yang sangat signifikan" terhadap tingkat kesiapan prajurit dan keberlanjutan logistik militer AS secara global.
Peringatan dari pimpinan berseragam ini menelanjangi jurang pemisah antara ambisi kebijakan kepemimpinan sipil di bawah Menhan Pete Hegseth dengan kalkulasi teknis yang dihadapi para komandan di lapangan.
Ketika pasokan amunisi kian menipis dan armada mulai mengalami kelelahan operasional, Pentagon kini berada di persimpangan jalan: terus memaksakan operasi militer di Timur Tengah atau menarik diri demi menjaga keseimbangan pertahanan global Amerika Serikat. ***