CEO United Scott Kirby Bidik JFK dan Strategi AI

ORBITINDONESIA.COM – CEO United Airlines Scott Kirby, yang dipecat American Airlines 10 tahun lalu, kini memimpin maskapai AS paling menguntungkan kedua dan terang-terangan membidik ekspansi di JFK. Ia juga bersiap menghadapi perubahan besar industri penerbangan lewat AI, sembari tetap mengisyaratkan wacana merger raksasa yang berkali-kali ditolak.

Kirby menegaskan ia tidak percaya pada balas dendam, tetapi ia mengaku “bersaing secara agresif.” Ia dipecat American saat menjabat presiden karena tidak memiliki jalur menuju kursi CEO.

United merekrutnya sebagai presiden pada 29 Agustus 2016, nyaris seketika setelah American mengumumkan kepergiannya. Kirby menyindir jeda antarpekerjaan itu hanya “60 detik.”

Pada Mei 2020, di tengah krisis Covid-19, United mengangkat Kirby dari presiden menjadi CEO. Dalam satu dekade, ia membawa United menjadi maskapai AS paling menguntungkan kedua setelah Delta, sementara American tertinggal di posisi ketiga.

Industri kini menghadapi biaya yang terus naik, infrastruktur bandara yang terbatas, dan penumpang yang makin rela membayar kursi mahal menuju destinasi “yang sedang hits.” Dalam lanskap ini, ruang manuver bukan lagi soal menambah penerbangan, tetapi merebut akses bandara dan membentuk persepsi nilai.

Kirby ingin memperluas jejak United di New York, terutama di Bandara John F. Kennedy (JFK), setelah United berencana kembali ke bandara padat itu melalui kemitraan dengan JetBlue paling cepat tahun depan. Ia menyebut ada “banyak rencana yang sedang berjalan” untuk membuka jalan ekspansi.

Ia bahkan membuka kemungkinan membeli slot dari maskapai yang tidak menjalankan rute menguntungkan dari JFK. Dalam dunia penerbangan, slot adalah mata uang yang lebih langka daripada pesawat baru.

Di saat yang sama, United juga mendorong ekspansi internasional yang selama ini menjadi mahkota mereka. Pekan ini United dijadwalkan mengumumkan rute internasional baru, tradisi tahunan yang sebelumnya menambahkan tujuan seperti Ulaanbaatar, Mongolia, dan Bilbao, Spanyol.

United memasarkan jaringan internasionalnya sebagai mesin loyalitas pelanggan dan pendorong pendaftaran kartu kredit travel rewards yang sangat menguntungkan. Artinya, rute bukan sekadar mengisi kursi, tetapi mengunci ekosistem pendapatan.

Kirby dikenal sebagai CEO maskapai paling vokal di AS, sampai-sampai timnya sengaja tidak memberi tahu detail rute baru terlalu awal. Alasannya sederhana, mereka takut ia “membocorkan” informasi.

Kompetisi juga memanas karena Delta tidak mau melepas keunggulan laba. CEO Delta Ed Bastian menegaskan, “Ini selalu giliran kami,” saat berbicara di Columbia Business School pada April 2024.

Di internal United, keputusan besar Kirby sejak awal bukan kosmetik layanan, melainkan bedah rute yang merugi. Ia mengaku menandai rute-rute yang “membakar uang” untuk memilah mana yang bekerja dan mana yang tidak.

United sempat mempertimbangkan menutup basis di Los Angeles (LAX) dan Washington Dulles (IAD), namun Kirby menghentikan ide itu. Kedua bandara tetap menjadi simpul penting, walau LAX dikenal sulit “dikuasai” satu maskapai seperti hub lainnya.

Kirby bahkan melakukan perjalanan singkat dari kamp sepak bola anaknya di Brasil untuk bertemu Presiden Donald Trump dan mengumumkan perombakan Dulles senilai US$22,5 miliar di Oval Office. Di sini terlihat, bandara bukan sekadar fasilitas publik, tetapi arena politik dan investasi.

Wacana “mega-merger” Kirby dengan Delta atau American memicu skeptisisme analis saham dan pakar antimonopoli. Penggabungan dua raksasa berpotensi menciptakan konsentrasi pasar yang sulit diterima regulator.

Sumber yang mengetahui pembicaraan menyebut Kirby mendekati Delta namun ditolak, seperti dilaporkan The Wall Street Journal bulan lalu. Presiden Delta, Peter Carter, juga mengatakan pada konferensi industri Juni lalu bahwa ia tidak melihat merger atau akuisisi dalam masa depan Delta.

American menolak tawaran merger United secara terbuka pada musim semi ini. CEO American Robert Isom menegaskan kepada CNBC pada akhir Juni, mereka fokus pada hal yang “punya peluang terjadi,” bukan mengejar “kemustahilan.”

Kirby tetap menyatakan tidak tertarik mengakuisisi maskapai kecil seperti JetBlue. Ia menekankan semua skenario merger membutuhkan “mitra yang bersedia,” dan itu belum ada.

Namun, argumen Kirby soal antitrust patut dicermati karena ia menilai keberatan regulator bertumpu pada asumsi bahwa penerbangan adalah komoditas. Ia mengklaim industri telah berevolusi karena Delta dan United “terdiferensiasi” lewat rute, kabin, dan produk.

Di atas kertas, diferensiasi memang nyata pada segmen premium, program loyalitas, dan jaringan internasional. Tetapi di banyak rute domestik, penumpang masih memilih berdasarkan jadwal dan harga, yang membuat klaim “bukan komoditas” menjadi perdebatan tajam.

Ekspansi United ke Amerika Selatan dan wilayah Tenggara AS juga terbentur geografi hub. Kirby menyebut dua wilayah itu sebagai “lubang” bagi United yang sulit ditutup tanpa langkah struktural.

Ia mengakui tempat terbaik melayani Amerika Selatan adalah Bandara Miami, tetapi American sangat dominan di sana. Data bandara menunjukkan American menguasai lebih dari 60% passenger enplanements pada tahun fiskal 2025.

Kondisi ini menjelaskan mengapa ide merger selalu muncul, karena membuka hub baru tidak semudah menambah gate. Infrastruktur bandara besar sudah padat, sementara izin, lahan, dan politik lokal membuat ekspansi organik jadi mahal dan lambat.

Di sisi teknologi, Kirby menaruh taruhan besar pada AI untuk karyawan dan pelanggan agar perjalanan lebih mudah dan reliabilitas meningkat. Tantangannya, maskapai selalu rentan cuaca, bandara yang terkunci kapasitasnya, dan gangguan mekanis yang tak terduga.

Ia ingin keterlambatan dijelaskan dalam bahasa Inggris yang jelas, bukan jargon operasional. Ia juga menegaskan budaya “tanpa alasan,” karena menurutnya United tidak boleh berlindung di balik dalih.

Namun data kinerja menuntut pembuktian, karena pada paruh pertama tahun ini United masih berada di belakang Delta dan Alaska Airlines untuk ketepatan waktu kedatangan, menurut Departemen Transportasi AS. AI bisa memperbaiki prediksi dan komunikasi, tetapi tidak otomatis menambah slot atau mengusir badai.

Kirby juga mengangkat isu ketenagakerjaan dengan janji ambisius: ia ingin United tidak pernah lagi melakukan furlough. Ia mengatakan kepada karyawan, tidak ada yang membuatnya sulit tidur karena tugasnya adalah menyiapkan perusahaan agar mereka tidak perlu cemas.

Kisah Kirby menunjukkan paradoks kepemimpinan di industri mapan, yakni dipecat sebagai “nomor dua,” lalu menang sebagai “nomor satu” di tempat lain. Pelajarannya bukan soal dendam, melainkan soal struktur kekuasaan dan ruang perubahan.

Saat ia berkata, “Anda bisa mendorong terlalu keras dan Anda dipecat,” itu terdengar seperti pengakuan tentang batas inovasi di organisasi besar. Di United, ia menemukan panggung yang lebih luas untuk mengeksekusi ide, terutama disiplin rute dan ekspansi internasional.

Target JFK memperlihatkan strategi yang lebih realistis daripada mega-merger, karena slot adalah sumber daya yang bisa diperebutkan tanpa mengguncang regulator. Tetapi langkah itu tetap berisiko, sebab JFK sangat padat dan sensitif terhadap gangguan operasional.

Wacana merger raksasa bisa dibaca sebagai sinyal tekanan biaya dan keterbatasan infrastruktur, bukan sekadar ambisi. Ketika pertumbuhan organik tersumbat, pemimpin cenderung mencari jalan pintas struktural.

Taruhan pada AI terdengar menjanjikan, tetapi publik akan menilai dari hal sederhana, yakni apakah keterlambatan berkurang dan informasi lebih jujur. Jika AI hanya menjadi kosmetik komunikasi, kepercayaan justru bisa runtuh lebih cepat.

Di titik ini, United seperti sedang menguji satu pertanyaan besar: apakah diferensiasi premium dan jaringan global cukup untuk mengalahkan realitas “komoditas” di rute padat. Jawabannya akan ditentukan oleh konsistensi operasi, bukan retorika CEO.

Scott Kirby mungkin menolak label pendendam, tetapi ia jelas tidak lupa cara menang dalam kompetisi yang kejam. Dari Newark ke JFK, dari rute internasional ke AI, ia sedang menata United untuk menang di medan yang semakin sempit.

Namun industri penerbangan selalu mengajarkan kerendahan hati, karena satu badai, satu krisis, atau satu keputusan regulator bisa mengubah peta. Pertanyaan bagi publik bukan hanya siapa paling untung, tetapi siapa paling tahan guncangan dan paling jujur saat keadaan buruk.

Jika tujuan Kirby adalah “tidak pernah ada furlough lagi” dan transisi pensiun yang anggun, maka ukuran keberhasilannya bukan sekadar laba tahunan. Ukurannya adalah apakah strategi besar ini benar-benar membuat perjalanan lebih dapat diprediksi dan pekerjaan lebih aman bagi orang-orang yang menjalankan mesin raksasa bernama maskapai. (Orbit dari berbagai sumber, 25 Agustus 2026)