Serangan Kilang Minyak Iran Lepas SO2 Setara Letusan Vulkanik

detikInet

detikInet

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Serangan kilang minyak Iran pada 7 Maret memicu polusi udara ekstrem, ketika sekitar 33.000 ton sulfur dioksida (SO2) dilepaskan hanya dalam satu hari. Data satelit menunjukkan kepulan SO2 itu bergerak sekitar 2.000 kilometer dan sempat menjangkau Asia Timur, menegaskan bahwa perang Iran-Israel tak berhenti pada ledakan, tetapi merembet menjadi krisis kualitas udara lintas negara.

Perang modern sering dibaca sebagai duel roket, drone, dan intelijen, sementara dampak ekologisnya diperlakukan sebagai catatan kaki. Studi di Advances in Atmospheric Sciences mengingatkan bahwa serangan terhadap infrastruktur energi dapat menciptakan peristiwa atmosfer yang menyerupai bencana alam.

Dalam kasus Teheran, targetnya adalah depo minyak Fardis, Shahran, Aghdasieh, serta Kilang Minyak Teheran. Kebakaran pascaserangan bukan sekadar kerusakan aset, karena ia mengubah langit menjadi medium penyebaran racun.

Peneliti melacaknya memakai penginderaan jauh dari satelit FengYun-3 milik China dan Sentinel-5P milik Badan Antariksa Eropa. Hasilnya, konsentrasi SO2 di atmosfer Teheran melonjak tajam pada 8 Maret dan membentuk awan polutan berskala regional.

Angka 33.000 ton SO2 dalam rentang 7–8 Maret adalah inti cerita, karena menjelaskan besarnya beban polusi yang dilepas dalam waktu singkat. Area terdampak disebut mencapai sekitar 300.000 km², dengan angin timur laut mendorong kepulan raksasa ke arah Asia Timur.

Perbandingan yang dipakai studi itu menohok, karena letusan Eyjafjallajokull 2010 di Islandia memuntahkan sekitar 22.000 ton SO2 selama tiga hari. Letusan itu melumpuhkan penerbangan Eropa hampir sebulan, sehingga publik paham bahwa SO2 bukan sekadar angka, melainkan pemicu gangguan sistemik.

Meski awan SO2 dari Teheran sebagian besar terurai pada akhir 9 Maret, durasi singkat tidak otomatis berarti risiko kecil. Dalam atmosfer, SO2 adalah prekursor hujan asam, dan efeknya bisa memanjang melalui reaksi kimia serta deposisi ke tanah dan perairan.

Studi itu juga mencatat fenomena “hujan hitam” ketika polutan bercampur dengan curah hujan. Hujan semacam ini berpotensi korosif dan membawa partikel beracun, termasuk hidrokarbon, yang menambah beban paparan bagi warga.

Kesaksian gejala kesehatan menjadi pengikat antara sains dan kehidupan sehari-hari. “Beberapa penduduk mengalami sakit kepala, rasa pahit di mulut, iritasi mata dan kulit, serta kesulitan bernapas,” tulis penulis studi yang dikutip dari Live Science.

Di titik ini, perang berubah menjadi persoalan kesehatan masyarakat yang tak memilih kubu. SO2 dan polusi terkait juga disebut berkaitan dengan depresi, kecemasan, serta masalah kesehatan mental lain, sehingga dampaknya tidak berhenti pada paru-paru.

Selain SO2, perang di kawasan itu juga ditautkan dengan lonjakan emisi karbon dioksida (CO2) dan gas rumah kaca lain. Analisis terpisah yang disebut dalam artikel menyatakan bahwa pada 28 Februari–14 Maret, emisi CO2 dari perang tersebut lebih besar daripada total emisi Islandia sepanjang 2024.

Jika klaim itu akurat, maka paradoksnya jelas, karena operasi militer yang diklaim “taktis” justru menghasilkan jejak iklim yang strategis. Dunia bisa berdebat soal legitimasi serangan, tetapi atmosfer hanya menghitung molekul.

Kisah kepulan SO2 Teheran menyorot kelemahan cara kita menilai perang, karena kerusakan lingkungan sering tidak masuk neraca kemenangan. Infrastruktur energi diperlakukan sebagai target “bernilai tinggi,” padahal ia juga mesin polusi raksasa ketika terbakar.

Di ruang publik, polusi perang kerap kalah bersaing dengan video ledakan dan peta pergerakan pasukan. Padahal, satelit justru memperlihatkan bahwa dampak perang dapat melintasi perbatasan lebih cepat daripada diplomasi.

Ada dimensi tanggung jawab yang jarang dibicarakan, yakni siapa menanggung biaya kesehatan dan pemulihan lingkungan setelah serangan. Ketika awan SO2 bergerak ribuan kilometer, konsep “dampak lokal” menjadi ilusi yang nyaman.

Peristiwa ini juga menguji konsistensi dunia dalam membicarakan krisis iklim. Negara dan blok politik bisa menuntut transisi energi, tetapi pada saat yang sama membiarkan perang membakar depo minyak dan melepaskan emisi besar tanpa mekanisme akuntabilitas.

Yang paling problematis adalah normalisasi, karena masyarakat dipaksa menerima polusi sebagai konsekuensi tak terhindarkan dari konflik. Jika itu dibiarkan, perang akan terus menghasilkan “bencana atmosfer” dadakan yang berulang dan makin sulit diprediksi.

Serangan kilang minyak Iran yang melepaskan 33.000 ton SO2 memperlihatkan bahwa perang Iran-Israel tidak hanya memproduksi korban di darat, tetapi juga racun di langit. Ketika hujan hitam, iritasi pernapasan, dan jejak emisi menjadi bagian dari narasi, kita dipaksa menilai ulang arti “kerusakan” dalam konflik.

Barangkali pertanyaan terpenting bukan hanya siapa yang menang di medan tempur, melainkan siapa yang bertanggung jawab pada udara yang dihirup jutaan orang. Jika atmosfer adalah ruang bersama, sampai kapan ia dibiarkan menjadi medan perang yang tak terlihat.

(Orbit dari berbagai sumber, 6 Juni 2026)