Enzim Hati Rendah dan Kanker Kolorektal Usia Muda
ORBITINDONESIA.COM – Enzim hati rendah seperti AST dan ALT kini dikaitkan dengan risiko kanker kolorektal usia muda dalam analisis Epic Research. Temuan ini mengejutkan karena selama ini dokter justru lebih sering mengkhawatirkan enzim hati yang tinggi.
Penelitian baru menyebut orang dewasa di bawah 45 tahun dengan kadar AST dan ALT lebih rendah lebih sering terdiagnosis kanker kolorektal onset dini. Para peneliti menegaskan ini hanya asosiasi, bukan bukti sebab-akibat.
Secara klinis, AST dan ALT lazim dipakai sebagai penanda gangguan hati ketika nilainya meningkat. Karena itu, arah temuan yang “berlawanan intuisi” membuatnya menonjol, kata peneliti Epic Research, Kersten Bartelt.
Dokter juga mengingatkan publik agar tidak panik dan tidak mengubah keputusan skrining hanya karena angka AST/ALT rendah. Rekomendasi umum di AS tetap: skrining kanker kolorektal dimulai usia 45 tahun untuk risiko rata-rata.
Konteksnya serius karena kanker kolorektal meningkat pada usia lebih muda. Di AS, kanker kolorektal telah menjadi penyebab kematian kanker nomor satu pada orang di bawah 50 tahun.
Epic Research menganalisis data kesehatan lebih dari 11.000 orang usia 18–44 tahun di AS. Semua peserta menjalani tes skrining pertama antara 2017–2025 dan punya setidaknya satu tes AST atau ALT dalam tiga tahun sebelum skrining.
Namun ada pertanyaan metodologis penting: mengapa mereka skrining sebelum 45 tahun. Bartelt menduga banyak yang datang dengan gejala sehingga kolonoskopinya bersifat diagnostik, bukan skrining rutin.
Hasilnya, AST di bawah 14 unit per liter darah terkait peluang diagnosis kanker kolorektal onset dini 65% lebih tinggi dibanding kelompok AST 14–29. ALT di bawah 14 terkait peluang 68% lebih tinggi dibanding kelompok ALT 14–29.
Yang juga mencolok, AST 30 atau lebih terkait peluang 22% lebih rendah, dan ALT 30 atau lebih terkait peluang 29% lebih rendah. Para peneliti menggunakan rentang 14–29 sebagai pembanding karena berada di tengah sebaran data mereka.
Peneliti juga menilai perubahan nilai dalam tiga tahun sebelum skrining. AST yang meningkat terkait peluang 27% lebih rendah, dan ALT yang meningkat terkait peluang 26% lebih rendah, dibanding nilai yang stabil.
Sebaliknya, penurunan AST atau ALT tidak menunjukkan asosiasi bermakna ke arah mana pun. Trigliserida, kolesterol, dan kalium juga tidak terkait dalam analisis ini.
Catatan kritis lain datang dari Dr. Daniel Sussman dari University of Miami, yang menilai “rendah” dalam studi ini umumnya masih dianggap normal secara klinis. Karena itu, ia sangat berhati-hati menyebutnya sebagai abnormalitas atau penanda risiko yang bermakna.
Studi lain di International Journal of Cancer pada lebih dari 375.000 orang di Inggris juga menemukan hubungan terbalik serupa. Penulisnya, Mingyang Song dari Harvard T.H. Chan, menilai kadar AST/ALT yang lebih rendah dalam rentang normal bisa mencerminkan kapasitas metabolik hati yang menurun.
Song mengajukan hipotesis bahwa kapasitas yang menurun dapat meningkatkan kerentanan terhadap toksin dan karsinogen, sehingga risiko kanker kolorektal naik. Tetapi ia juga menegaskan rekomendasi klinis tidak boleh dibuat hanya dari AST/ALT.
Di sisi skrining, kolonoskopi tetap standar emas karena dapat menemukan dan mengangkat polip prakanker. Tes darah untuk skrining memang mulai diakui, tetapi bukan bagian dari pemeriksaan darah rutin dan hasil positif tetap harus diikuti kolonoskopi.
Temuan enzim hati rendah dan kanker kolorektal usia muda menarik karena membuka pintu pada “petunjuk tak terduga” dari data laboratorium harian. Namun justru karena ia tampak sederhana, risikonya adalah disalahpahami sebagai vonis individual.
Bahaya terbesar dari berita kesehatan semacam ini adalah lompatan logika dari asosiasi menjadi kepastian. Bartelt sendiri mengingatkan bahwa AST/ALT “bukan nilai yang disarankan untuk dinaikkan,” dan tidak ada bukti mengubahnya akan mengubah risiko kanker.
Secara naratif, publik menyukai angka tunggal yang terasa memberi kontrol. Padahal, AST/ALT bisa dipengaruhi massa otot, aktivitas, obat, penyakit, hingga status nutrisi, sehingga ia lebih mirip cermin kondisi umum daripada tombol penyebab.
Di sinilah pertanyaan yang lebih tajam muncul: apakah “enzim rendah” menandai kelompok yang lebih rapuh secara metabolik dan gizi. Jika ya, lonjakan kanker kolorektal usia muda mungkin berkaitan dengan pola hidup modern yang menggerus kesehatan dasar, bukan sekadar satu biomarker.
Namun studi Epic juga menyisakan blind spot karena populasi yang diuji kemungkinan sudah “terseleksi” oleh gejala atau risiko tertentu. Jika banyak peserta menjalani kolonoskopi karena keluhan, maka asosiasi AST/ALT bisa mencerminkan konteks penyakit lain yang menyertai.
Karena itu, nilai paling berguna dari riset ini adalah sebagai pemantik riset lanjutan, bukan alarm massal. Caleb Cox dari Epic menyebut mereka tidak menganggap kadar rendah sebagai penyebab, tetapi sebagai penunjuk bahwa ada faktor lain yang menurunkan AST/ALT sekaligus mendorong kenaikan kanker.
Untuk pembaca, pesan praktisnya tetap klasik: kenali gejala, pahami riwayat keluarga, dan patuhi jadwal skrining sesuai rekomendasi. Jika ada perdarahan rektal, penurunan berat badan, atau perubahan pola BAB yang menetap, konsultasi segera lebih penting daripada terpaku pada satu angka lab.
Riset enzim hati rendah dan kanker kolorektal onset dini memberi kita satu pelajaran: data rutin bisa menyimpan sinyal, tetapi sinyal tidak sama dengan kepastian. Pada akhirnya, pertanyaan yang layak kita renungkan adalah ini: apakah kita sedang menyaksikan kanker usia muda sebagai cermin kesehatan metabolik generasi modern yang perlahan terkikis, sebelum gejala besar muncul. (Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)