Literasi Keuangan UK Rendah: Risiko Pensiun, Inflasi, dan Warisan
ORBITINDONESIA.COM – Literasi keuangan masih menjadi masalah besar di Inggris, bahkan ketika kekayaan lintas generasi bernilai triliunan dolar terus berpindah tangan. Data Financial Conduct Authority 2025 menunjukkan hanya 8,6% warga UK menerima nasihat soal investasi, pensiun, atau rencana pensiun dalam setahun terakhir. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Di saat program pensiun berbasis pajak kian tertekan oleh penuaan populasi, beban perencanaan masa tua bergeser ke individu. Geopolitik dan volatilitas ekonomi membuat keputusan uang makin kompleks, tetapi kemampuan publik tidak ikut naik. Universitas Oxford Saïd Business School bahkan meluncurkan program riset lima tahun untuk menjawab dampak rendahnya literasi keuangan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Masalahnya bukan sekadar kurang informasi, melainkan banjir informasi yang membingungkan. K Patel dari Handelsbanken Wealth & Asset Management menulis bahwa kebingungan atas produk keuangan dan istilahnya “rife” di seluruh populasi UK. Banyak orang tidak memahami cara kerja produk dasar, cara menilainya, dan bahasa yang dipakai untuk menjualnya. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Angka literasi juga memperlihatkan UK tertinggal dibanding sejumlah negara lain. Studi 2025 dari London Foundation of Banking & Finance mencatat hanya 32,6% warga UK tergolong melek finansial, dibanding 49,8% di Kanada dan 55,8% di Hong Kong. Bahkan di negara yang lebih “maju” pun, minoritas besar tetap gagal memenuhi standar. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Andrew Day, direktur perencanaan keuangan Depledge Strategic Wealth Management, menyebut rendahnya pengambilan nasihat keuangan sebagai gejala utama. Ia melihat banyak orang memblokir isu uang secara mental, lalu “switch off” ketika kata seperti “pension” atau “markets” muncul. Ketakutan membuat keputusan salah berubah menjadi alasan untuk tidak membuat keputusan sama sekali. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Hambatan lain adalah ritme hidup yang padat dan membuat perencanaan keuangan selalu kalah prioritas. Day menggambarkan keuangan naik ke “inbox” ketika ada waktu, lalu jatuh lagi saat urusan mendesak datang. Pola ini menghasilkan keputusan reaktif, bukan strategi jangka panjang. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Dampaknya bukan hanya salah pilih produk, tetapi juga meremehkan nilai nasihat profesional. Day mengatakan banyak orang yang tidak mengambil nasihat padahal akan sangat diuntungkan, dan baru sadar setelah rencana diterapkan memberi ketenangan. Kalimat yang sering ia dengar dari klien adalah penyesalan karena tidak meluangkan waktu lebih awal. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Data generasional memperlihatkan masalahnya berbeda-beda namun sama seriusnya. Day menilai anak muda percaya diri secara digital tetapi dangkal secara finansial, dengan hanya sekitar seperempat mampu menghitung bunga majemuk dengan benar. Usia paruh baya belajar ketika terpaksa, misalnya saat KPR, sementara lansia rentan penipuan dan kesulitan memahami produk pensiun modern. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Perubahan kebijakan pendidikan memberi harapan, tetapi terlambat bagi banyak pekerja hari ini. Di Inggris, pendidikan finansial yang bermakna akan menjadi kewajiban sekolah mulai September 2028. Itu langkah maju, namun tidak otomatis memperbaiki generasi yang sudah terlanjur bekerja tanpa fondasi ekonomi dasar. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Upaya global menunjukkan industri juga mengakui ada “lubang” pengetahuan di keluarga kaya. Northern Trust bermitra dengan Greenlight Financial Technology pada 2024 untuk membantu keluarga membangun kebiasaan uang sehat sejak dini. Riset Northern Trust Institute menemukan 79% keluarga high net worth memberi akses edukasi finansial pada anak, tetapi 48% tetap khawatir soal kesiapan generasi penerus mengelola kekayaan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Contoh lain datang dari Singapura yang sering dianggap pusat finansial Asia. Survei terhadap 2.000 orang dewasa menunjukkan hanya 34% menilai literasi mereka “baik” dan 15% “sangat baik”. Angka ini menegaskan bahwa status negara maju finansial tidak otomatis membuat warganya paham uang. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Day menilai masalah inti bukan numerasi semata, melainkan konteks dan aplikasi. Orang sulit menghubungkan konsep bunga, inflasi, dan risiko dengan keputusan nyata saat tertekan biaya hidup, perumahan, dan pensiun. Di titik ini, literasi keuangan berubah dari pelajaran sekolah menjadi keterampilan bertahan hidup. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Teknologi dapat membantu, tetapi tidak boleh menjadi pengganti nalar. Day menyebut AI dan alat visual arus kas punya daya jelaskan yang kuat untuk membuat orang paham jalur uangnya. Namun tanpa kebiasaan bertanya dan menguji asumsi, alat canggih hanya memindahkan ketergantungan dari manusia ke mesin. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Literasi keuangan di UK tampak seperti masalah pengetahuan, padahal ia masalah perilaku dan tata kelola hidup. Ketika uang diperlakukan sebagai topik yang memalukan atau menakutkan, orang memilih diam, dan diam itu mahal. Dalam situasi pensiun publik tertekan, “tidak paham” bukan lagi kondisi netral, melainkan risiko aktif. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Yang paling menyesatkan adalah asumsi bahwa makin kaya makin paham. Day menyebut keluarga kaya sering “financially experienced but not financially fluent”, karena terlalu banyak delegasi ke family office, bank privat, dan penasihat pajak. Mereka menjadi delegator hebat, tetapi “poor governors” yang tidak mengerti mesin yang menggerakkan kekayaan mereka sendiri. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Di sini muncul paradoks: kekayaan bisa membiakkan rasa aman palsu. Pasar yang naik dan sukses bisnis dapat menutupi penilaian yang lemah, lalu meledak ketika kondisi berubah. Tanpa pendidikan yang disengaja, literasi bahkan memburuk lintas generasi, dan warisan berubah dari berkah menjadi beban konflik. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Solusi yang masuk akal adalah membangun kebiasaan, bukan sekadar kampanye. Day mendorong keterlibatan anak dalam tahap perencanaan yang sesuai usia, serta menekankan gagasan James E Hughes Jr bahwa banyak keluarga kehilangan kekayaan bukan karena pasar atau pajak, melainkan gagal menyiapkan manusianya. Bahkan aplikasi simulasi seperti HARTinvesting, dengan uang virtual dan kompetisi, dapat menjadi pintu masuk untuk memecah ketakutan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Namun pendidikan publik tetap harus menjadi fondasi, bukan aksesori. Statutori 2028 di Inggris penting, tetapi perlu disertai literasi untuk orang dewasa melalui tempat kerja, komunitas, dan layanan publik. Jika tidak, jurang pengetahuan akan terus memisahkan mereka yang punya penasihat dari mereka yang hanya punya utang dan kecemasan. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Literasi keuangan bukan soal menjadi ahli saham, melainkan mampu membuat keputusan yang tidak menghancurkan masa depan. Data UK yang rendah, ditambah minimnya warga yang mengambil nasihat, menunjukkan masalah struktural yang tidak bisa diselesaikan dengan konten motivasi semata. Pertanyaannya sederhana dan mendesak: apakah kita ingin mewariskan uang, atau mewariskan kemampuan mengelola uang. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)
Di tengah inflasi, risiko pensiun, dan transfer kekayaan, ketidaktahuan berubah menjadi biaya yang menumpuk diam-diam. Barangkali langkah paling realistis adalah memulai dari hal kecil yang konsisten, lalu berani bertanya sebelum terlambat. Sebab pada akhirnya, uang bukan sekadar angka, melainkan cermin dari disiplin, nilai, dan tanggung jawab antargenerasi. (Orbit dari berbagai sumber, 23 Juli 2026)