Chant Suporter Inggris di MLB: Budaya Nyanyian Stadion AS Disorot

The New York Times

The New York Times

Money & Career

ORBITINDONESIA.COM – Chant suporter Inggris mendadak menggema di stadion MLB saat ratusan fans England menyanyikan lagu untuk Michael Harris II di Truist Park, Atlanta. Momen ini viral karena menghadirkan atmosfer ala Wembley ke pertandingan bisbol, lengkap dengan permintaan “Harris, give us a wave!” yang akhirnya dituruti sang pemain.

Peristiwa di Atlanta itu bukan kejadian tunggal, karena fans Skotlandia juga sempat “mengambil alih” Boston dan meramaikan laga Red Sox di Fenway Park. Fenomena ini memunculkan pertanyaan sederhana namun tajam: mengapa chant stadion yang spontan begitu jarang terdengar di olahraga Amerika Serikat?

Di banyak negara, chant adalah nadi pertandingan, bukan aksesori hiburan. Di AS, suara massa sering digantikan tata suara, jeda iklan, dan arahan hiburan yang membuat keramaian terasa lebih “diproduksi” ketimbang “diciptakan”.

Billy Grant, fans Brentford yang sudah menghadiri sembilan Piala Dunia, menggambarkan proses chant seperti rantai pasok. Lagu lahir di pub atau kereta menuju laga tandang, lalu “matang” di perjalanan, dan akhirnya menjadi tradisi di stadion rumah.

Sosiolog Tom Clark menegaskan chant jarang dimulai oleh orang acak. Biasanya ada satu sampai tiga “pemimpin” yang berdiri, memantik lagu, lalu massa memutuskan untuk ikut atau membiarkannya mati dan menertawakannya.

Keputusan massa sangat bergantung pada momentum pertandingan. Saat ada peluang gol atau tensi naik, emosi kolektif memudahkan sinkronisasi suara, sedangkan laga membosankan justru melahirkan banter dan ejekan kreatif.

Di titik ini, jarak dan pola mobilitas menjadi faktor struktural yang sering diabaikan. Di Inggris, ribuan suporter tandang bisa bergerak bersama dengan kereta atau bus, sementara di AS banyak penonton datang berkelompok kecil dengan mobil, sehingga “ruang fermentasi” chant jauh berkurang.

Michael “Grubes” Gruber, mantan pengarah musik arena untuk Dallas Stars dan Texas Rangers, menyebut hambatan utama ada pada kebiasaan dipandu. Ketika DJ terus mengisi celah, nyanyian spontan sulit menemukan ruang waktu, dan fans terbiasa menunggu prompt ketimbang memulai.

Clark menambahkan chant adalah bentuk perlawanan terhadap produk olahraga yang makin terglobalisasi dan seragam. Ia menautkannya pada akar folk ballad, yakni kisah lokal yang terus berubah, dan itu menuntut “masa lalu bersama” yang stabil.

Di AS, stabilitas itu kerap rapuh karena model franchise bisa pindah kota. Contoh yang disebut adalah ancaman kepindahan Columbus Crew pada 2017, ketika suporter bukan hanya mempertahankan klub, tetapi juga menjaga lelucon internal, drumline, dan ingatan kolektif yang dibangun puluhan tahun.

Dari sisi praktik, Katie Jordan dari kelompok suporter Atlanta United mengakui banyak chant Amerika bersifat siap pakai. Lirik dipasang di situs lewat QR code, sehingga pendatang baru bisa ikut, namun konsekuensinya adalah budaya nyanyi lebih “diajarkan” daripada “tumbuh liar”.

Namun Atlanta juga menunjukkan bentuk hibrida yang khas. Separuh chant mereka berbahasa Spanyol, ritmenya dipengaruhi drum Latin, dan ada lagu yang meminjam tradisi drumline Tuskegee University, menandakan akulturasi yang bukan sekadar meniru Eropa.

Les Back, sosiolog University of Glasgow, menolak anggapan bahwa Amerika hanya karaoke budaya stadion Inggris. Ia mengingatkan bahwa Inggris sendiri sedang diubah oleh pengaruh ultras Italia-Spanyol dan teatrikal Eropa kontinental, sehingga “keaslian” selalu bergerak dan selalu dipinjam.

Back menyebut chant sebagai himne sekuler yang dipilih lewat partisipasi. Kerumunan “memilih” dengan bernyanyi atau diam, dan mekanisme itu juga bisa mematikan chant rasis, meski sejarah menunjukkan pelecehan di stadion belum sepenuhnya hilang, termasuk kasus Vinicius Junior dan chant homofobik yang masih menghantui sepak bola.

Di AS, contoh paling kuat tentang chant yang benar-benar menyebar organik adalah “I believe that we will win”. Chant itu lahir pada 1998 dari seorang siswa Naval Academy Prep School, menyebar lewat Army-Navy game dan olahraga kampus, lalu baru menancap di sepak bola AS sekitar 2011 hingga populer di Piala Dunia 2014.

Insiden Michael Harris II memperlihatkan kontras yang selama ini disamarkan oleh layar hiburan stadion. Ketika sekelompok kecil suporter membawa tradisi bernyanyi, stadion bisbol mendadak terasa lebih manusiawi, lebih cair, dan lebih “milik penonton”.

Masalahnya, ekosistem olahraga AS sering memosisikan fans sebagai konsumen pengalaman, bukan produsen atmosfer. DJ, iklan, dan koordinasi ketat dengan front office memang membuat acara rapi, tetapi kerap memangkas spontanitas yang menjadi bahan bakar chant.

Di sisi lain, tuntutan inklusi dan batasan ujaran di stadion juga nyata. Jika chant Eropa sering bertumpu pada ejekan keras, bahkan kata-kata kasar, model itu sulit ditransplantasi ke AS tanpa benturan dengan aturan keamanan dan norma publik.

Karena itu, pertanyaannya bukan apakah AS “kurang autentik”, melainkan budaya apa yang sedang dibangun. MLS dan olahraga kampus menunjukkan jalur alternatif: tradisi bisa lahir dari drumline, komunitas multibahasa, dan ritual pra-pertandingan yang konsisten, meski tidak lahir dari pub atau kereta tandang.

Malam ketika Truist Park berubah seperti Wembley memberi pelajaran sederhana: chant bukan sekadar nyanyian, melainkan teknologi sosial untuk menciptakan kebersamaan. Ia membutuhkan ruang hening, waktu bersama, dan rasa memiliki yang tidak bisa sepenuhnya diproduksi oleh tata suara.

Jika tradisi butuh dua atau tiga generasi, seperti kata Les Back, maka Amerika mungkin belum terlambat, hanya sedang bertumbuh dengan bahan baku berbeda. Pertanyaannya kini, apakah liga-liga AS berani mengurangi kontrol dan memberi tempat bagi kebisingan yang lahir dari bawah, bukan dari tombol DJ?

(Orbit dari berbagai sumber, 2 September 2026)