Karhutla Ketapang Tewaskan Orangutan Sempurna, Evakuasi Satwa Mendesak

detikNews

detikNews

Nasional

ORBITINDONESIA.COM – Karhutla Ketapang dan asap kebakaran hutan kembali memakan korban, kali ini orangutan Kalimantan bernama Sempurna yang mati setelah ditemukan kritis. Anggota DPR Hetifah Sjaifudian menegaskan penanganan karhutla tidak boleh berhenti pada pemadaman api, tetapi harus memprioritaskan evakuasi satwa dan perlindungan kesehatan warga.

Kematian Sempurna terjadi setelah ia ditemukan pingsan dengan gangguan pernapasan di Dusun Sempurna, Desa Kuala Satong, Kecamatan Matan Hilir Utara, Ketapang, Kalimantan Barat. BKSDA Kalimantan Barat bersama YIARI mengevakuasi dan memberi penanganan medis, namun nyawanya tidak tertolong.

Peristiwa ini menyingkap sisi karhutla yang kerap luput dari sorotan, yaitu penderitaan satwa liar yang tidak punya masker, ruang aman, atau akses cepat ke layanan medis. Ketika publik menghitung titik api, ekosistem menghitung kehilangan yang tidak mudah dipulihkan.

Hetifah mendorong BNPB, BKSDA, KLH, pemerintah daerah, dan pihak terkait agar menjadikan keselamatan penduduk serta satwa sebagai indikator utama keberhasilan penanganan karhutla. Ia menilai koordinasi antarlembaga harus diperkuat agar respons di lapangan tidak berjalan sendiri-sendiri.

Dalam logika darurat, keterlambatan beberapa jam bisa menjadi pembeda antara penyelamatan dan kematian, terutama pada satwa yang sudah stres, dehidrasi, dan terpapar partikel asap. Karena itu, permintaan percepatan evakuasi satwa terdampak di berbagai titik Indonesia menjadi relevan, bukan sekadar imbauan moral.

Data teknis tentang karhutla biasanya menonjolkan luasan terbakar dan jumlah hotspot, tetapi jarang menyertakan “korban non-manusia” sebagai metrik bencana. Padahal, untuk spesies seperti orangutan Kalimantan (Pongo pygmaeus) yang habitatnya terfragmentasi, setiap kematian menambah tekanan pada populasi yang sudah rentan.

Pernyataan BKSDA Kalbar bahwa pemeriksaan lebih lanjut dilakukan untuk menilai faktor yang berkontribusi pada kematian Sempurna menunjukkan ada rantai sebab yang kompleks. Asap diduga pemicu awal, namun kondisi lapangan seperti akses evakuasi, jarak fasilitas, dan intensitas paparan ikut menentukan hasil akhir.

Kasus Sempurna menguji cara negara memaknai bencana, apakah sekadar peristiwa fisik yang dipadamkan atau krisis kehidupan yang harus diselamatkan. Jika ukuran sukses hanya “api padam”, maka korban yang jatuh sebelum api padam akan selalu dianggap biaya sampingan.

Karhutla adalah bencana berulang, sehingga respons yang reaktif terasa seperti mengulang kesalahan yang sama dengan biaya lebih mahal. Ketika evakuasi satwa baru dipercepat setelah ada kematian yang viral, itu pertanda sistem masih bergantung pada perhatian publik, bukan protokol.

Koordinasi antarlembaga yang diminta Hetifah seharusnya diterjemahkan menjadi komando terpadu yang jelas, termasuk jalur evakuasi satwa, pos kesehatan, dan pemetaan risiko asap. Tanpa itu, penyelamatan akan selalu bergantung pada inisiatif lokal yang heroik tetapi tidak merata.

Di titik ini, karhutla bukan hanya isu lingkungan, melainkan ujian etika pembangunan dan tata kelola. Ekosistem tidak punya suara di rapat anggaran, sehingga satu-satunya cara melindunginya adalah menjadikannya bagian dari standar kinerja pemerintah.

Sempurna mati, dan publik diberi cermin tentang apa yang biasanya tersembunyi di balik kabut asap: penderitaan yang sunyi dan kehilangan yang permanen. Jika penanganan karhutla ingin disebut komprehensif, maka ia harus menghitung nyawa yang diselamatkan, bukan hanya titik api yang dipadamkan.

Pertanyaannya sederhana tetapi menohok, berapa banyak “Sempurna” lain yang tidak pernah ditemukan karena tidak sempat viral. Jawaban atas pertanyaan itu akan menentukan apakah karhutla diperlakukan sebagai rutinitas musiman, atau sebagai krisis yang menuntut perubahan cara kerja negara. (Orbit dari berbagai sumber, 8 September 2026)