Tragedi Pesawat Kargo Amazon di Miami: 5 Pekerja Tewas

NBC News

NBC News

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Tragedi pesawat kargo Amazon di Miami mengguncang bandara tersibuk Florida ketika sebuah Boeing 767-300 keluar landasan dan menghantam van perusahaan kebersihan. Lima pekerja tewas seketika, sementara investigasi NTSB mulai mengurai mengapa pesawat tidak melambat sebagaimana mestinya.

Peristiwa terjadi Minggu di Miami International Airport, saat pesawat kargo bermerek Amazon melampaui ujung landasan ketika mendarat. Pesawat kemudian menabrak alat bantu navigasi, menghantam van Ford milik Professional Ocean Service Corp., lalu menembus pagar perimeter dan menabrak SUV Toyota di Northwest 67th Avenue.

Kantor Sheriff Miami-Dade mengidentifikasi korban tewas sebagai Rolando Aleman Leon (55), Yoel Rodriguez Naranjo (53), Julio C. Pineda (75), Carlos Acosta Fajardo (53), dan Javierkys Reyes Quevedo (47). Kelimanya berada di dalam van kontraktor kebersihan maskapai yang sedang mengangkut kru di area bandara.

Lima orang lain terluka dan dilarikan ke rumah sakit, dengan Eugenio Corredor (79) dan Ridoel Averhoff Diaz (32) dalam kondisi kritis, serta Roosevelt Sebastian Perdomo Torres (36) stabil. Dua pilot, Jaime Felipe Silva Molina (37) dan Joseph Carol (55), telah dirawat dan dipulangkan.

Ketua NTSB Jennifer Homendy menyebut pesawat membawa lebih dari 32.000 pon kargo, mayoritas lensa kontak. Penerbangan dioperasikan 21 Air, dan CEO-nya menyatakan kerja sama penuh dengan penyelidik federal serta menyampaikan belasungkawa.

Menurut NTSB, ini adalah perjalanan ketiga pesawat pada hari itu, setelah rute Cincinnati–Miami dan Miami–San Juan, Puerto Rico. Pesawat jatuh saat kembali dari San Juan, dan justru kegagalan fase pendaratan yang membuat dampaknya merembet ke luar area bandara.

Penyelidik utama NTSB Chihoon Shin menyatakan perekam data penerbangan menunjukkan dorongan mesin meningkat saat pendaratan, konsisten dengan upaya “go-around” atau membatalkan pendaratan. Empat detik kemudian, tuas tenaga diturunkan ke idle dan rem roda kembali diterapkan hingga akhir rekaman.

Namun Shin menegaskan “speed brakes dan thrust reversers tidak dikerahkan.” Dalam praktik penerbangan, keduanya lazim dipakai untuk membantu memperlambat pesawat, sehingga ketiadaan dua sistem ini menjadi simpul teknis yang krusial.

Shin menolak berspekulasi soal penyebabnya, karena investigasi masih terlalu dini. Di titik ini, publik hanya melihat pola yang mengkhawatirkan: ada indikasi manuver perubahan keputusan, tetapi tidak diikuti konfigurasi perlambatan yang biasanya menyertai pendaratan aman.

Homendy menggambarkan lokasi sebagai “menghancurkan,” dan van disebut “tercabik.” Video ponsel yang diperoleh NBC South Florida memperlihatkan seseorang melompat keluar dari pesawat setelah tabrakan, sementara foto lain menunjukkan anggota kru dievakuasi dengan tandu.

Tragedi pesawat kargo Amazon di Miami memperlihatkan sisi yang jarang dibicarakan dari logistik modern: pekerja pendukung bandara berada di garis depan risiko, tetapi sering tak terlihat. Lima korban di dalam van bukan penumpang, bukan kru penerbangan, melainkan pekerja kebersihan kontrak yang memastikan operasi maskapai tetap berjalan.

Pernyataan perusahaan kebersihan yang “patah hati” menegaskan mereka memandang pekerja sebagai keluarga, tetapi fakta lapangan tetap keras. Ketika pesawat keluar landasan, yang pertama tersapu bukan hanya pagar dan alat navigasi, melainkan manusia yang sedang menutup giliran kerja.

Data pengalaman pilot juga memberi konteks tanpa harus menjadi vonis. Kapten Joseph Carol tercatat memiliki 7.145 jam terbang, sementara first officer Silva Molina 2.655 jam, dan keduanya memiliki rating untuk tipe pesawat tersebut.

Artinya, pertanyaan publik semestinya bergeser dari sekadar “siapa yang salah” menuju “apa yang gagal dalam rantai keselamatan.” Apakah ini persoalan prosedur pendaratan, konfigurasi pesawat, kondisi landasan, atau kombinasi faktor manusia dan sistem.

Tabrakan yang mencapai jalan umum juga menjadi alarm bagi desain perimeter bandara dan mitigasi risiko di area sekitar. Ketika sebuah pesawat bisa menembus pagar dan menghantam kendaraan di luar bandara, maka batas aman antara operasi penerbangan dan ruang sipil ternyata lebih rapuh dari yang diasumsikan.

Kisah para korban membuat tragedi ini tidak berhenti sebagai statistik. Tetangga mengenang Leon sebagai orang baik yang sering membantu mengantar ke janji temu, sementara Pineda dikenal periang dan dijuluki “El mago” karena trik sulapnya.

Tragedi pesawat kargo Amazon di Miami menyisakan duka, luka, dan pertanyaan teknis yang menuntut jawaban disiplin dari investigasi NTSB. Di balik istilah “go-around,” “idle power,” dan “thrust reverser,” ada lima nyawa pekerja yang pulang dalam peti, bukan dalam pelukan keluarga.

Ketika bandara dan industri logistik mengejar ketepatan waktu, keselamatan pekerja darat harus menjadi ukuran yang sama kerasnya. Jika sebuah van bisa “tercabik” di area kerja yang seharusnya terkendali, maka kita perlu bertanya: berapa banyak lapis perlindungan yang sebenarnya belum benar-benar melindungi. (Orbit dari berbagai sumber, 12 September 2026)