Denny JA: "Ia Jenius dan Bermasalah Secara Moral, Tetapi Aku Masih Mencintainya"
“IA JENIUS DAN BERMASALAH SECARA MORAL, TETAPI AKU MASIH MENCINTAINYA”
- Kisah Cinta Dua Pemikir Besar: Hannah Arendt dan Martin Heidegger
Oleh Denny JA
ORBITINDONESIA.COM - Pada Februari 1950, Hannah Arendt kembali berjumpa Martin Heidegger. Hampir dua puluh tahun telah berlalu. Tetapi beberapa cinta rupanya mempunyai kalender sendiri.
Di antara mereka terbentang sejarah yang mengerikan. Hitler berkuasa. Eropa terbakar. Jutaan orang Yahudi dibunuh. Arendt sendiri pernah hidup sebagai pengungsi.
Heidegger pernah mendukung Nazisme. Arendt seorang Yahudi. Namun ketika mereka berjumpa kembali, sesuatu yang lama terkubur ternyata belum sepenuhnya mati.
Bayangkan keguncangan itu. Bagaimana mungkin hati masih bergetar kepada seseorang yang pernah berpihak kepada kekuasaan yang mengancam keberadaan bangsamu sendiri?
Barangkali di situlah cinta menjadi misteri sekaligus ujian moral. Hati dapat memeluk kenangan, sementara nurani berdiri beberapa langkah di belakangnya.
Judul tulisan ini bukan kutipan Hannah Arendt. Ia cara saya merumuskan paradoks yang terbaca dari perjalanan panjang hubungan dua manusia luar biasa itu.
-000-
Dua Pikiran Besar, Satu Cinta yang Rumit
Mereka bertemu di Universitas Marburg pada 1924. Hannah Arendt baru berusia delapan belas tahun. Heidegger tiga puluh lima tahun, telah menikah dan memiliki anak.
Arendt datang untuk belajar filsafat. Ia menemukan pengajar yang membuat pertanyaan mengenai keberadaan terasa bukan sebagai teori, melainkan pengalaman yang mengguncangkan hidup.
Heidegger sedang bergerak menuju karya besarnya, Being and Time. Baginya, manusia bukan benda yang sekadar hadir. Manusia adalah keberadaan yang mempertanyakan keberadaannya.
Ia berbicara tentang kecemasan, kematian, keaslian, keterlemparan, dan waktu. Filsafat di tangannya seperti cermin yang tiba-tiba memaksa manusia melihat kedalamannya sendiri.
Arendt kelak tumbuh menjadi pemikir politik besar abad kedua puluh. Ia menulis tentang totalitarianisme, kebebasan, tindakan politik, tanggung jawab, dan “banalitas kejahatan.”
Jika Heidegger bertanya apa artinya ada, Arendt bertanya apa artinya hidup bersama. Di antara dua pertanyaan besar itulah hubungan mereka memperoleh kedalamannya.
Mereka bukan hanya dua orang yang jatuh cinta. Mereka adalah dua pikiran yang kemudian menempuh jalan sejarah berbeda, tetapi tak sepenuhnya kehilangan satu sama lain.
-000-
Ketika Sang Murid Mencintai Gurunya
Hubungan romantis berkembang pada 1925. Surat-surat mereka menunjukkan kedekatan yang intens, tetapi harus disembunyikan karena Heidegger telah berkeluarga dan Arendt adalah mahasiswinya.
Namun, romantisme ini juga menyimpan manipulasi terselubung: Heidegger memanfaatkan pesona intelektual dan posisi dominannya untuk mengikat batin mahasiswinya, membentuk ketimpangan relasi kuasa yang melampaui sekadar cinta biasa.
Pertemuan diatur secara rahasia. Isyarat sederhana menjadi bahasa. Cinta mereka tumbuh seperti bunga malam, indah karena hampir tidak boleh terlihat matahari.
Heidegger memiliki keluarga, kedudukan, dan otoritas akademik. Arendt memasuki hubungan itu sebagai perempuan muda yang sekaligus sedang terpesona oleh kecemerlangan intelektual gurunya.
Mengakui ketimpangan tersebut tidak membuktikan bahwa perasaan mereka palsu. Pengakuan itu hanya membuat kita membaca cinta mereka dengan mata yang lebih dewasa.
Arendt kemudian meninggalkan Marburg. Pada 1926, ia belajar kepada Karl Jaspers di Heidelberg, menemukan mentor sekaligus persahabatan intelektual yang jauh lebih sehat.
Kepergian itu penting. Arendt tidak selamanya menjadi bulan yang memantulkan cahaya gurunya. Perlahan, ia menemukan bahwa dirinya memiliki matahari intelektual sendiri.
Ia menikahi Günther Stern pada 1929. Perkawinan itu kemudian berakhir. Tahun 1940, Arendt menikah dengan Heinrich Blücher, pasangan hidupnya selama puluhan tahun.
Heidegger tetap bersama Elfride, istrinya. Maka hubungan Arendt dan Heidegger bukanlah kisah dua kekasih yang akhirnya hidup di bawah satu atap.
Sebaliknya, mereka menjalani kehidupan masing-masing. Namun sebuah ruang rahasia di dalam ingatan tampaknya tidak pernah benar-benar ditutup.
-000-
Ketika Sejarah Masuk ke Kamar
Kemudian datang tahun 1933. Sejarah yang sebelumnya berada di luar jendela mendadak masuk ke kamar, duduk di antara mereka, dan mengubah segalanya.
Heidegger menjadi rektor Universitas Freiburg dan bergabung dengan Partai Nazi. Dukungan publiknya terhadap gerakan itu kini terdokumentasi kuat dalam kajian mengenai dirinya.
Ia mengundurkan diri dari jabatan rektor pada 1934. Namun keanggotaannya dalam Partai Nazi berlanjut sampai rezim tersebut runtuh pada 1945.
Arendt bergerak ke arah berlawanan. Sebagai perempuan Yahudi, ia sempat ditahan Gestapo, lalu meninggalkan Jerman pada 1933, hidup di Paris, dan pada 1941 melarikan diri ke Amerika Serikat.
Di sinilah kisah cinta mereka berubah menjadi tragedi intelektual. Lelaki yang memikirkan hakikat keberadaan gagal membaca kebiadaban politik yang tumbuh di hadapannya.
Kecerdasan ternyata tidak memberikan kekebalan terhadap kesalahan moral. Seseorang dapat melihat sangat jauh ke kedalaman metafisika, tetapi gagal melihat jurang di depan kakinya.
Namun ketepatan tetap penting. Mendukung Nazisme tidak identik dengan menjadi pelaksana langsung Holocaust. Kritik moral tidak memerlukan pembesaran fakta agar terasa mengerikan.
Yang memberatkan adalah fakta sebenarnya. Heidegger memberikan dukungan dan prestise intelektual kepada Nazisme, lalu tidak pernah meninggalkan kepada dunia suatu penyesalan publik yang tegas.
Bahkan setelah wafatnya, beban itu bertambah. Sejak 2014, terbitnya Schwarze Hefte, buku catatan pribadinya, memperlihatkan jejak antisemitisme dalam pemikirannya sendiri.
Di sinilah filsafat menghadapi pertanyaan yang menakutkan. Apa gunanya pikiran mencapai kedalaman keberadaan jika ia tersesat ketika manusia konkret sedang kehilangan kemanusiaannya?
-000-
Reuni di Freiburg
Yang membuat reuni 1950 begitu mengejutkan adalah apa yang terjadi sebelumnya. Arendt tidak datang ke Freiburg dengan mata tertutup.
Pada 1946, ia menulis esai “What Is Existential Philosophy?” dan mengkritik Heidegger dengan keras.
Arendt mengkritik Heidegger karena mengubah keterasingan manusia menjadi filsafat yang menjauh dari dunia bersama.
Kecemerlangan berpikir, baginya, dapat berubah berbahaya ketika kehilangan tanggung jawab terhadap manusia konkret dan kehidupan politik.
Dalam surat kepada Jaspers pada tahun yang sama, ia bahkan menyebut Heidegger “pembunuh potensial.”
Arendt saat itu mempercayai kabar bahwa Heidegger telah melaporkan Husserl, mantan gurunya yang Yahudi, kepada Nazi sebagai orang yang dianggap berbahaya.
Tuduhan yang kemudian terbukti keliru itu membuatnya menyebut Heidegger “pembunuh potensial.”
Kata sekeras itu keluar dari perempuan yang pernah mencintainya. Kekaguman telah retak. Penilaian moral telah dijatuhkan.
Lalu datang Februari 1950. Arendt berada di Eropa untuk urusan penyelamatan warisan budaya Yahudi yang dijarah Nazi. Pada malam 7 Februari, di Freiburg, ia bertemu Heidegger untuk percakapan panjang pertama setelah hampir dua dasawarsa.
Keesokan harinya, percakapan berlanjut di hadapan Elfride, istri Heidegger, yang dikenal sebagai pendukung Nazisme yang teguh. Seorang pengungsi Yahudi duduk di ruangan yang sama dengan suami dan istri yang pernah berpihak kepada rezim yang memburunya.
Pertemuan tersebut tidak menghapus sejarah. Tidak pula menjadikan mereka kembali sebagai pasangan dalam pengertian biasa. Kehidupan keduanya telah berkembang terlalu jauh.
Namun surat-surat sesudahnya memperlihatkan kedekatan yang bertahan. Korespondensi mereka berlangsung, dengan berbagai jeda dan perubahan intensitas, sampai menjelang akhir kehidupan.
Heidegger pada Maret 1950. Setelah rekonsiliasi mereka, ia menulis kepada Arendt: “I need your love,” dan menyebut cinta Arendt sebagai sesuatu yang secara misterius tetap terpelihara sejak benih awalnya.
Arendt bahkan menjalin hubungan dengan Elfride. Kenyataan ini membuat kisah mereka sukar dimasukkan ke kotak sederhana bernama perselingkuhan, rekonsiliasi, ataupun persahabatan.
Mungkin memang ada hubungan manusia yang terlalu kompleks untuk satu kata. Cinta dapat berubah bentuk tanpa sepenuhnya kehilangan jejak dari bentuk pertamanya.
Tetapi Arendt sendiri yang membuat misteri itu semakin besar. Ia bukan perempuan tanpa perangkat intelektual untuk memahami kejahatan politik ataupun tanggung jawab moral.
Ia telah mengalami pengungsian. Ia mempelajari totalitarianisme. Kelak ia memikirkan Eichmann dan mempertanyakan bagaimana manusia biasa dapat terlibat dalam mesin kejahatan luar biasa.
Lalu mengapa perempuan setajam itu tetap menyediakan ruang emosional bagi Heidegger? Surat-surat memberi petunjuk, tetapi tidak memberikan kunci terakhir menuju batinnya.
Di situlah kita harus berhati-hati. Memahami Arendt tidak berarti mengarang isi hatinya. Sebagian wilayah cinta memang tetap menjadi kamar yang kuncinya dibawa mati pemiliknya.
Seusai bertemu Heidegger kembali, Arendt menulis bahwa perjumpaan mereka merupakan “peneguhan seluruh kehidupan.” Ia mengaku hampir melakukan “ketidaksetiaan yang tak terampuni” jika membiarkan hubungan mereka benar-benar terputus.
-000-
Cinta Paradoks Bernurani
Saya ingin menyebut pola hubungan semacam ini Cinta Paradoks Bernurani. Bukan diagnosis terhadap batin Arendt, melainkan cara memahami kontradiksi yang ditinggalkan kisah mereka.
Ia adalah cinta yang bertahan ketika kekaguman telah retak. Mata telah terbuka. Penilaian moral berubah. Namun keterikatan emosional ternyata menolak sepenuhnya menghilang.
Ada tiga variabel yang membentuk Cinta Paradoks Bernurani. Pertama, kasih yang bertahan, bahkan setelah kehidupan membawa dua manusia menuju dunia yang sangat berbeda.
Arendt telah membangun kehidupan sendiri. Ia memiliki Blücher, sahabat, pekerjaan, pemikiran, dan dunia intelektualnya. Heidegger bukan pusat tunggal kehidupannya.
Namun cinta masa muda dapat menyerupai tinta yang meresap ke kertas. Tulisan lain boleh ditambahkan, tetapi bekas huruf pertama tidak sepenuhnya hilang.
Kedua, kekaguman yang retak oleh penilaian moral. Orang yang pernah dikagumi ternyata mampu mengambil keputusan yang meruntuhkan gambaran kita mengenai dirinya.
Arendt tidak berhenti menilai setelah reuni itu. Dalam buku catatan pemikirannya, Denktagebuch, sekitar 1953 ia menulis fabel “Heidegger si Rubah.”
Rubah itu, tulisnya, begitu kurang cerdik sehingga terus terjebak perangkap. Ia lalu membangun perangkap sebagai liangnya sendiri, mengira itu rumah, dan mengundang orang lain masuk.
Fabel itu getir sekaligus jernih. Ia ditulis oleh perempuan yang masih menyimpan kasih, tetapi tidak lagi bersedia menutup mata.
Di sinilah kedewasaan diuji. Kita tidak harus mengubah orang yang dicintai menjadi malaikat agar kenangan terhadapnya tetap mempunyai tempat.
Manusia dapat sekaligus cemerlang dan gagal. Ia dapat memberikan pencerahan kepada dunia, tetapi tersesat ketika sejarah meminta keberanian moral yang paling sederhana.
Ketiga, cinta tidak menjadi amnesti. Inilah unsur terpenting. Memaafkan luka pribadi berbeda dengan menghapus tanggung jawab seseorang terhadap penderitaan manusia lainnya.
Kita berhak berdamai dengan orang yang melukai diri kita. Tetapi kita tidak mempunyai kuasa mengampuni, atas nama korban, kesalahan sejarah yang menimpa mereka.
Cinta Paradoks Bernurani mencapai kedewasaannya ketika kasih tetap diperbolehkan hidup, tetapi fakta tidak dipalsukan dan kesalahan tidak diputihkan demi menyelamatkan orang tercinta.
-000-
Ujian Terberat: Esai 1969
Namun variabel ketiga itu sendiri pernah diuji, dan Arendt tidak sepenuhnya lulus.
Pada 1969, untuk ulang tahun kedelapan puluh Heidegger, Arendt menulis esai “Martin Heidegger at Eighty.” Ia memuji Heidegger sebagai “raja tersembunyi” di kerajaan pemikiran.
Tentang keterlibatan Heidegger dengan Nazisme, Arendt menyebutnya sebagai kekeliruan. Ia mengingatkan pada Thales, filsuf Yunani yang jatuh ke sumur karena terlalu asyik menatap bintang.
Ia juga menyinggung Plato yang pergi ke Syracuse untuk menasihati seorang tiran. Seolah-olah para filsuf besar memang rentan tergoda kekuasaan tirani, dan Heidegger hanyalah satu lagi di antara mereka.
Banyak pembaca menilai esai itu sebagai pembelaan. Metafora Thales terlalu lembut untuk seorang rektor yang dengan sadar meminjamkan wibawanya kepada rezim pembunuh.
Di titik ini, jujur kepada Arendt berarti berani berbeda dengannya. Kasih boleh hidup. Tetapi pada 1969, kasih itu tampaknya ikut memilihkan kata.
Ironinya menjadi pelajaran. Bahkan pemikir yang paling tajam tentang tanggung jawab dapat melunak ketika yang dinilai adalah orang yang pernah ia cintai.
Maka Cinta Paradoks Bernurani bukan capaian yang sekali diraih lalu selesai. Ia disiplin yang harus diulang, justru ketika hati paling ingin memaafkan.
-000-
Dua Buku untuk Memahami Mereka
Buku pertama adalah Letters, 1925-1975, karya Hannah Arendt dan Martin Heidegger, disunting Ursula Ludz, diterjemahkan Andrew Shields, dan diterbitkan Harcourt pada 2004.
Buku ini membuka jendela paling intim kepada hubungan mereka. Kita melihat kerinduan, jarak, kekaguman intelektual, keterputusan, dan pertemuan kembali setelah bencana sejarah.
Yang paling menggetarkan bukan romantismenya, melainkan perubahan waktu. Dua manusia berbicara melalui surat sementara dunia mereka bergerak dari universitas menuju totalitarianisme dan pengasingan.
Keduanya telah meninggal ketika surat-surat itu akhirnya berbicara. Dua tubuh telah menjadi sejarah, tetapi suara yang tersimpan dalam kertas ternyata belum selesai bercakap-cakap.
Surat-surat itu tidak ditemukan sekaligus dalam sebuah peti rahasia. Dokumennya tersimpan terpisah dalam peninggalan Arendt dan Heidegger di Deutsches Literaturarchiv Marbach.
Ursula Ludz kemudian menghimpun dan menyunting jejak yang terserak itu. Sejarah mempertemukan kembali dua manusia yang semasa hidupnya tak pernah sungguh hidup bersama.
Letters, 1925-1975 akhirnya menyerupai kotak hitam sebuah hubungan. Perjalanannya telah selesai, tetapi rekamannya membuat generasi kemudian mendengar kembali suara dari ruang tersembunyi.
Buku kedua, Hannah Arendt: For Love of the World, ditulis Elisabeth Young-Bruehl. Edisi keduanya diterbitkan Yale University Press pada 2004.
Young-Bruehl, bekas murid Arendt, menempatkan hubungan tersebut dalam bentang kehidupan yang lebih luas: pengungsian, persahabatan, perkawinan, politik, karya, dan pergulatan intelektual.
Buku ini penting karena mencegah Heidegger menelan seluruh biografi Arendt. Perempuan itu jauh lebih besar daripada kisah cintanya dengan seorang filsuf terkenal.
Arendt tumbuh menjadi pemikir yang menunjukkan bagaimana kejahatan dapat melibatkan manusia biasa, birokrasi, kegagalan penilaian, serta ketidakmampuan melihat dari sudut manusia lain.
Ironinya mengguncangkan. Perempuan yang memikirkan tanggung jawab manusia ketika berhadapan dengan kekuasaan tetap memelihara hubungan pribadi dengan lelaki yang kegagalan politiknya begitu serius.
-000-
Tetapi Bukankah Ini Hanya Romantisasi?
Ada kontra-argumen serius. Mengapa hubungan antara profesor menikah dan mahasiswi muda, ditambah sejarah Nazisme Heidegger, masih perlu diceritakan menggunakan bahasa cinta?
Bukankah romantisasi dapat memperhalus ketimpangan kuasa, mengaburkan penderitaan korban Nazisme, bahkan mengubah kegagalan moral menjadi dekorasi bagi kisah cinta kaum intelektual?
Keberatan itu penting. Bahkan diperlukan. Tanpa kewaspadaan tersebut, kisah Arendt dan Heidegger mudah berubah menjadi melodrama mengenai cinta yang konon mengalahkan segala sesuatu.
Tetapi itulah yang tidak boleh kita simpulkan. Kisah mereka menarik bukan karena cinta mengalahkan moralitas, melainkan karena kasih dan penilaian moral dapat bertahan bersamaan.
Kita dapat mengakui keterikatan tanpa membenarkan pilihan politik Heidegger. Kita juga dapat memahami Arendt tanpa menganggap setiap sikapnya terhadap Heidegger pasti benar, termasuk esai 1969 itu.
Memahami manusia bukan berarti membebaskannya. Pemahaman justru memperbesar tanggung jawab, sebab setelah seluruh alasan diketahui, kita tetap harus menilai tindakannya dengan jernih.
-000-
Membacanya Kembali Empat Puluh Tahun Kemudian
Saya pertama mengenal kisah Arendt dan Heidegger ketika mulai serius membaca filsafat pada 1980-an. Ketika muda, perhatian terutama tertuju kepada kecemerlangan pikiran mereka.
Heidegger terasa seperti gunung. Arendt seperti sungai yang berani mencari jalannya sendiri. Dunia filsafat ketika itu tampak sebagai petualangan gagasan besar.
Empat puluh tahun kemudian, saya membuka kembali surat-surat mereka. Kisah yang sama datang lagi. Tetapi pembacanya bukan lagi orang yang sama seperti empat dasawarsa sebelumnya.
Dulu yang memukau adalah kecerdasan. Kini yang terasa lebih penting adalah karakter. Dulu pikiran besar membuat kagum. Kini pertanyaan moral datang lebih dahulu.
Usia mengajarkan sesuatu yang buku filsafat kadang terlambat ajarkan. Tidak semua manusia cemerlang layak dijadikan kompas untuk seluruh wilayah kehidupan.
Kita dapat belajar metafisika dari seseorang tanpa menyerahkan kepadanya penilaian moral kita. Kita dapat mengagumi karya tanpa menyucikan pembuatnya.
Membaca kembali Arendt dan Heidegger karena itu seperti membuka surat lama dengan mata baru. Hurufnya sama. Tetapi pembacanya telah membawa kehidupan berbeda.
Mungkin begitulah waktu bekerja. Ia tidak selalu mengubah masa lalu. Kadang ia hanya memberikan kepada kita mata yang akhirnya cukup matang untuk melihatnya.
-000-
Cinta yang Tidak Mengusir Nurani
Arendt meninggal pada Desember 1975. Heidegger menyusul pada Mei 1976. Mereka tidak pernah hidup bersama, tetapi sejarah menyimpan percakapan mereka.
Yang tertinggal bukan kisah cinta sempurna. Ketidaksempurnaannya itulah yang membuat hubungan mereka terus mengganggu pikiran, bahkan setelah kedua pelakunya lama meninggalkan dunia.
Kisah mereka memperlihatkan bahwa manusia tidak selalu dapat dimasukkan ke kotak sederhana: baik atau jahat, mencintai atau membenci, mengagumi atau menolak.
Namun kompleksitas bukan relativisme. Ada tindakan yang tetap harus disebut salah. Ada korban yang tidak boleh dihapus hanya karena orang yang bersalah adalah jenius.
Barangkali kedewasaan bukan kemampuan berhenti mencintai manusia yang mengecewakan kita. Kedewasaan adalah kemampuan mencintai tanpa harus berbohong mengenai siapa dirinya.
Pada akhirnya, cinta bukan pengadilan terakhir. Ia hanya salah satu ruang dalam jiwa manusia. Di sebelahnya harus selalu tersedia sebuah ruang bernama nurani.
Sebab kita boleh menyimpan seseorang di dalam hati, tetapi jangan pernah, demi memberinya tempat, kita mengusir nurani dari dalam diri.*
Jakarta, 26 September 2026
REFERENSI
Hannah Arendt dan Martin Heidegger. Letters, 1925-1975. Disunting Ursula Ludz. Diterjemahkan Andrew Shields. Harcourt, 2004.
Elisabeth Young-Bruehl. Hannah Arendt: For Love of the World. Second Edition. Yale University Press, 2004.
Elżbieta Ettinger. Hannah Arendt/Martin Heidegger. Yale University Press, 1995.
Hannah Arendt. “Martin Heidegger at Eighty.” Diterjemahkan Albert Hofstadter. The New York Review of Books, 21 Oktober 1971. Terbit pertama dalam bahasa Jerman di Merkur, 1969.
Hannah Arendt dan Karl Jaspers. Correspondence, 1926-1969. Disunting Lotte Köhler dan Hans Saner. Harcourt Brace, 1992.
Martin Heidegger. Ponderings II–VI: Black Notebooks 1931–1938. Translated by Richard Rojcewicz. Indiana University Press, 2016.
-000-
Ratusan esai Denny JA mengenai filsafat hidup, political economy, sastra, agama dan spiritualitas, minyak dan energi, politik demokrasi, sejarah, positive psychology, catatan perjalanan, serta ulasan buku, film, dan lagu dapat dibaca di Facebook Denny JA's World.