Puisi Agus Bachtiar K: Sinema - Antek-Antek Iseng
Camera...
Roll...
Action!
Masuklah ia... ke selokan hitam.
Mengais sampah sisa keramaian.
Pasang mimik prihatin...
Tanpa jijik, hanya luka batin?
Inilah tabiat mulia sang pemimpin.
Camera... roll... action!
Mengetuk pintu di rumah kumuh.
Seakan sedih... tersentuh... trenyuh.
Diberinya lembaran uang merah...
Disambut haru, kagum, dan cerah.
Sungguh terpuji, duka pun enyah.
Camera... roll... action!
Menunjuk-nunjuk muka bawahan!
Seolah murka tiada berkenan.
Bentakan melengking menusuk kening!
Mereka pun bungkam, diam, dan hening.
Alangkah tegas... puja mengiring.
Camera... roll... action!
Menjaga hutan yang tengah menyala.
Nampak sigap dan berwibawa.
Pemadam kagum, tersungging puji.
Seluruh negeri sanjung tak henti.
Ini dia calon pemimpin negeri!
Camera... roll... action!
Menangis terisak di bahu jalan.
Memegang lunglai besi jembatan.
Air mata tumpah, sedih meruah...
Menahan haru, pilu, dan marah.
Itulah ciri pemimpin amanah.
Camera... roll... action!
Merayu cantik penjual nasi.
Bercanda akrab penuh empati.
Sang gadis senyum nampak tersanjung...
Bangga bahagia tiada ujung.
Rakyat terpikat rasa beruntung.
Camera... roll... action!
Diserbu massa saat terlelap...
Terbangun marah, setengah kalap!
Hardik dan hentak tak terkendali...
Keluar jujur karakter asli...
Dan...
CUT! CUT! CUT!
Sang aktor lupa narasi suci!
Panggung runtuh, topeng pun pasi.
Tabiat asli tak tertutupi.
Semua bukanlah sinema...
Ini panggung mula bencana!
Sudah trauma negeri dicuri...
Metode lama, licik, dan keji.
Terulang lagi, berarti tuli!
STOP!
Bangka Selatan, 27 Oktober 2026
Sang Peramu Aksara
Agus Bachtiar K. ***