Amazon AWS Melaju, Belanja AI Naik ke US$220 Miliar
ORBITINDONESIA.COM – Pertumbuhan AWS menjadi kata kunci yang mengangkat kinerja Amazon pada kuartal kedua, sekaligus membuat Wall Street menoleransi lonjakan belanja modal AI hingga sekitar US$220 miliar. Di balik euforia pasar, pertanyaannya sederhana: apakah akselerasi cloud dan AI ini benar-benar berkelanjutan, atau hanya puncak awal dari perlombaan infrastruktur yang makin mahal?
Terjemahan artikel sumber: Raksasa e-commerce dan cloud ini melampaui ekspektasi kuartal kedua, karena pertumbuhan cloud yang meningkat di Amazon Web Services (AWS) membantu mendorong hasil yang kuat. Amazon juga mengatakan bisnis AI dan chip kustomnya masing-masing telah melampaui laju pendapatan tahunan (annualized run rate) sebesar US$25 miliar.
AWS menghasilkan pendapatan kuartal kedua sebesar US$42,2 miliar, naik 36,7% dibanding tahun sebelumnya, didorong kekuatan pada bisnis cloud inti dan layanan AI. “Kami menambahkan lebih dari US$4,6 miliar pendapatan dari kuartal ke kuartal—sekitar 80% lebih besar dari kenaikan terbesar kami sebelumnya. Backlog kami berada di US$496 miliar, tumbuh tiga digit dari tahun ke tahun,” kata CEO Amazon Andy Jassy dalam panggilan kinerja.
“Pelanggan memilih AWS karena kami menawarkan kapabilitas terluas. Mereka ingin inferensi AI mereka berada dekat dengan aplikasi dan data lainnya, dan lebih banyak yang berada di AWS dibanding tempat lain,” tambahnya. Amazon juga mengatakan bisnis chip kustomnya tumbuh pada laju tiga digit dari tahun ke tahun.
Menjelang laporan kinerja, Wall Street mencermati pertumbuhan cloud Amazon dan belanja modal untuk infrastruktur AI. Perusahaan mengatakan akan membelanjakan lebih banyak untuk infrastruktur AI, menaikkan belanja modal menjadi sekitar US$220 miliar, dari panduan sebelumnya sekitar US$200 miliar.
Namun Wall Street bersedia mengabaikan kenaikan belanja ini mengingat pertumbuhan AWS yang meningkat dan margin operasional yang melebar. “Ini benar-benar home run bagi Amazon,” kata Arun Sundaram, wakil presiden senior di CFRA Research.
Jassy mencatat permintaan AI dan komputasi cloud terus melampaui kapasitas server, dengan ekspansi yang direncanakan untuk 2027 sudah sebagian besar “terpesan” hingga 2028. “Tingkat pertumbuhan ini membenarkan belanja tersebut,” kata Sundaram. “AWS kini berjalan pada laju pendapatan tahunan sekitar US$170 miliar—itu lebih dari empat kali lipat dibanding 2019.” Saham Amazon naik 17% sejak awal tahun.
Kinerja AWS yang tumbuh 36,7% menjadi sinyal bahwa gelombang belanja cloud belum surut, tetapi justru bergeser ke fase “AI-first”. Pendapatan AWS US$42,2 miliar dalam satu kuartal menunjukkan mesin kas yang cukup kuat untuk membiayai perang infrastruktur berikutnya.
Angka backlog US$496 miliar adalah petunjuk penting, karena ia merepresentasikan permintaan yang sudah “terkunci” dalam kontrak jangka panjang. Dalam industri cloud, backlog yang melonjak sering berarti dua hal: kapasitas yang ketat dan pelanggan yang takut tertinggal.
Pernyataan Jassy bahwa permintaan melampaui kapasitas server menegaskan adanya bottleneck fisik, bukan sekadar masalah pemasaran. Jika ekspansi 2027 sudah bergeser ke 2028, maka siapa pun yang bisa membangun lebih cepat akan memegang kendali harga dan loyalitas pelanggan.
Di sinilah belanja modal sekitar US$220 miliar menjadi taruhan besar, sekaligus risiko besar. Investor tampak memaafkan karena margin operasional membaik, tetapi margin itu bisa tertekan jika biaya energi, chip, dan pembangunan pusat data terus naik.
Klaim bahwa bisnis AI dan chip kustom masing-masing sudah melampaui annualized run rate US$25 miliar memberi konteks strategis yang kuat. Amazon tidak hanya menjual “sewa komputasi”, tetapi juga mencoba menguasai rantai nilai dari silikon hingga layanan AI.
Pertumbuhan tiga digit pada chip kustom mengindikasikan upaya mengurangi ketergantungan pada pemasok tertentu dan menekan biaya inferensi AI. Jika berhasil, chip kustom akan menjadi senjata diferensiasi, karena biaya per token dan latensi adalah faktor yang menentukan kemenangan di pasar AI.
Pasar merayakan “home run”, tetapi kemenangan Amazon di AWS juga mengungkap paradoks industri: pertumbuhan tercepat justru menuntut belanja paling agresif. Ketika belanja modal naik, perusahaan seolah dipaksa berlari lebih kencang hanya untuk tetap berada di tempat yang sama.
Keunggulan AWS bukan semata teknologi, melainkan efek gravitasi data dan aplikasi yang membuat pelanggan ingin inferensi AI dekat dengan sistem mereka. Pernyataan Jassy soal inferensi “berada dekat” adalah pengakuan bahwa lokasi data adalah benteng, dan AWS ingin memastikan benteng itu tidak ditembus pesaing.
Namun, dominasi berbasis backlog dan kapasitas juga punya sisi rapuh, karena ketergantungan pada pasokan server, energi, dan chip bisa menjadi titik lemah. Jika gangguan rantai pasok atau regulasi energi mengeras, biaya bisa membengkak dan menguji kesabaran investor.
Yang paling menarik, Amazon sedang memposisikan chip kustom sebagai penentu ekonomi AI, bukan hanya fitur tambahan. Ini menggeser persaingan dari “siapa punya model terbaik” menjadi “siapa punya biaya komputasi paling efisien”, dan itu adalah arena yang lebih dekat dengan DNA Amazon.
Pertumbuhan AWS, backlog US$496 miliar, dan run rate AWS sekitar US$170 miliar memperlihatkan bahwa Amazon sedang memimpin fase baru cloud yang ditenagai AI. Kenaikan belanja modal ke sekitar US$220 miliar adalah harga untuk mempertahankan posisi itu, sekaligus ujian disiplin eksekusi.
Di ujungnya, pertanyaan bagi pembaca bukan hanya apakah Amazon akan terus tumbuh, tetapi bagaimana “biaya kecerdasan” akan dibagi antara perusahaan, pelanggan, dan publik. Jika AI menjadi infrastruktur dasar seperti listrik, siapa yang akan mengatur agar perlombaan pusat data ini tetap efisien, adil, dan tidak membebani masa depan?
(Orbit dari berbagai sumber, 13 Agustus 2026)