Samsung Galaxy Z Fold 8 dan iPhone Lipat: Tren Foldable Lebih Lebar

Bloomberg

Bloomberg

Internasional

ORBITINDONESIA.COM – Samsung Galaxy Z Fold 8 menandai tren baru ponsel lipat: bodi lebih pendek dan lebih lebar, mirip paspor, dengan layar yang terasa lebih pas untuk menonton video. Dalam waktu kurang dari dua bulan, Apple diperkirakan akan memperkenalkan iPhone lipat pertamanya dengan pendekatan bentuk yang serupa.

Terjemahan akurat artikel sumber: Ponsel lipat terbaru Samsung Electronics Co., Galaxy Z Fold 8, memberi gambaran tentang tren besar berikutnya dalam desain smartphone. Ia hadir dengan bentuk yang lebih pendek dan lebih lebar, mirip paspor, dengan dimensi layar yang lebih cocok untuk menonton video.

Bentuk itu akan muncul lagi dalam waktu kurang dari dua bulan ketika Apple Inc. memperkenalkan iPhone lipat pertamanya. Namun, kedua perusahaan bukan yang pertama mengejar gaya ini.

Alphabet Inc. melalui Google sempat memakai pendekatan serupa pada Pixel Fold generasi awal sebelum beralih ke desain yang lebih tinggi dan lebih sempit. Oppo dan Huawei Technologies Co. juga telah merilis ponsel lipat lebar di China dan wilayah lain.

Kata kunci “ponsel lipat” kini tidak lagi semata soal engsel dan ketahanan, melainkan soal proporsi layar yang terasa wajar untuk konsumsi video dan multitasking. Sub-keyword seperti “desain lebih lebar” dan “iPhone lipat” mengarah pada satu pertanyaan: format mana yang paling cepat menjadi kebiasaan pengguna.

Desain pendek-lebar membuat layar bagian dalam mendekati rasio yang nyaman untuk menonton, sekaligus mengurangi kesan “remote TV” yang sering dilekatkan pada foldable tinggi-sempit. Di sisi lain, bentuk ini berisiko membuat layar luar terasa lebih gemuk untuk penggunaan satu tangan.

Google menjadi contoh bahwa pasar belum final memilih satu rasio. Pixel Fold awal mencoba pendek-lebar, lalu “pivot” ke bentuk lebih tinggi-sempit, menandakan adanya tarik-menarik antara ergonomi, estetika, dan kompromi komponen internal.

Masuknya Apple ke arena iPhone lipat berpotensi mengubah dinamika karena efek validasi pasar. Ketika Apple mengadopsi sebuah format, rantai pasok, pengembang aplikasi, dan aksesori biasanya ikut menyesuaikan, membuat standar baru lebih cepat terbentuk.

Samsung, yang sudah lama memimpin kategori ini, tampak membaca sinyal bahwa “layar untuk menonton” adalah medan kompetisi baru. Di era video pendek dan streaming, rasio layar bukan detail kecil, melainkan pusat pengalaman.

Yang menarik bukan sekadar siapa yang lebih dulu, melainkan siapa yang paling berhasil membuat bentuk baru terasa “normal”. Foldable pendek-lebar mencoba meniru logika tablet kecil, tetapi tetap harus lulus ujian paling keras: kenyamanan dipakai cepat, sering, dan tanpa berpikir.

Jika Apple benar-benar meluncurkan iPhone lipat dengan bentuk serupa, pasar bisa bergerak dari fase eksperimen ke fase konsolidasi desain. Namun, konsolidasi itu juga berisiko mematikan keberagaman pendekatan, padahal kebutuhan pengguna berbeda-beda.

Oppo dan Huawei menunjukkan bahwa inovasi bentuk tidak tunggu restu Barat, terutama di China yang agresif menguji format. Persoalannya, tanpa ekosistem global yang seragam, desain hebat bisa tetap menjadi fenomena regional.

Pertarungan Samsung Galaxy Z Fold 8 dan iPhone lipat bukan hanya soal spesifikasi, melainkan soal arah kebiasaan: apakah ponsel lipat akan menjadi layar video yang nyaman, atau tetap perangkat niche untuk penggemar produktivitas. Pada akhirnya, rasio layar yang menang adalah yang paling sedikit menuntut kompromi dalam hidup sehari-hari.

Ketika desain “paspor” mulai berulang di berbagai merek, kita patut bertanya: apakah ini benar-benar evolusi yang dibutuhkan, atau sekadar siklus baru agar pasar kembali bergairah. Jawabannya akan terlihat dari satu hal sederhana—apakah orang memakainya tanpa merasa sedang “mencoba teknologi”, melainkan sedang memakai ponsel. (Orbit dari berbagai sumber, 7 Agustus 2026)