Trump: AS Akan Kurangi Latihan Militer Bersama Korea Selatan, Karena Kurangnya Bantuan Terkait Masalah Iran

Presiden Donald Trump.

Presiden Donald Trump.

Internasional

ORBITINDONESIA.COM - Presiden Donald Trump mengumumkan pada hari Minggu, 16 Agustus 2026, bahwa Amerika Serikat akan mengurangi latihan militer yang dilakukannya bersama sekutu regional utamanya, Korea Selatan. Trump mengutip hubungan baiknya dengan pemimpin Korea Utara Kim Jong Un serta kurangnya bantuan dari Seoul terkait masalah Iran.

"Berdasarkan hubungan saya yang sangat baik dengan Kim Jong Un dari Korea Utara, saya tidak senang dengan fakta bahwa Amerika Serikat telah lama menyetujui partisipasi dalam Latihan Militer Bersama dengan Korea Selatan. Latihan-latihan ini tidak hanya memakan biaya besar—yang sebagian besar ditanggung oleh Amerika Serikat (seperti biasa!)—tetapi juga mengirimkan sinyal yang sama sekali tidak pantas dan bermusuhan kepada negara yang, selama masa jabatan Donald J. Trump sebagai Presiden, tidak menunjukkan ancaman dan justru bersikap hormat," tulis Trump di Truth Social.

Trump kemudian menyinggung permintaannya agar Korea Selatan membantu upaya AS terkait Iran.

"Meski agak tidak relevan (?), baru-baru ini saya bertanya kepada Presiden Korea Selatan apakah mereka bersedia bergabung dengan kami dalam denuklirisasi Republik Islam Iran, dan jawaban mereka adalah, 'Tidak, terima kasih!'" tulis Trump.

Presiden AS tersebut kerap melontarkan kritik tajam terhadap sekutu yang tidak memberikan bantuan dalam perang.

Trump menjalin hubungan yang hangat dengan Kim, meskipun Korea Utara merupakan musuh lama Amerika Serikat. Akhir pekan lalu, Trump mengunggah foto dirinya bersama Kim dengan keterangan: "Meskipun ekspresi wajah dalam foto ini tampak tidak bersahabat, ada banyak foto lain di mana kami tersenyum; saya dan Kim Jong Un sangat akrab!"

Latihan bersama dengan Korea Selatan, yang dikenal sebagai latihan militer Ulchi Freedom Shield, dijadwalkan dimulai pada hari Senin, 17 Agustus 2026, dan berlangsung selama 10 hari.

Korea Utara telah lama mengkritik latihan semacam itu; Komisi Militer Pusat Korea Utara bahkan menyebut latihan trilateral tahun lalu yang melibatkan Jepang dan Korea Selatan sebagai "latihan perang ofensif yang paling komprehensif untuk tujuan agresi, baik dari segi skala, konten, maupun sifatnya" yang pernah dilakukan di wilayah selatan Semenanjung Korea.

Selama masa jabatan pertama Trump, Amerika Serikat dan Korea Selatan juga mengurangi operasi gabungan sebagai upaya untuk meredakan ketegangan dengan Korea Utara.

Pada tahun 2018, Presiden menyatakan bahwa mengadakan "latihan perang" di Semenanjung Korea adalah hal yang "tidak pantas" dilakukan saat AS sedang terlibat dalam negosiasi nuklir dengan Korea Utara.

Pada bulan Maret 2019—setelah pertemuan puncak Trump-Kim di Hanoi yang gagal mencapai kesepakatan—Amerika Serikat dan Korea Selatan mengumumkan bahwa latihan berskala besar tahunan, yang selama ini menjadi bagian rutin dari hubungan pertahanan antara kedua militer, akan diubah formatnya menjadi latihan yang lebih kecil.

Seperti yang ia lakukan pada hari Minggu, pada tahun 2019 Trump juga menyoroti masalah biaya yang harus ditanggung Amerika Serikat. "Alasan saya tidak menginginkan latihan militer bersama Korea Selatan adalah untuk menghemat ratusan juta dolar bagi AS, biaya yang tidak diganti kepada kami," tulisnya saat itu.

Korea Selatan telah menjadi sekutu dekat Amerika selama lebih dari 70 tahun dan kerap mengadakan latihan bersama militer AS. Negara ini menjadi lokasi pangkalan militer AS terbesar di luar negeri, Camp Humphreys, yang menampung ribuan personel militer Amerika, keluarga mereka, serta warga negara Korea.

Setelah beberapa kali bertemu Kim selama masa jabatan pertamanya, Trump kerap menyebutkan tentang "hubungan baik" mereka sejak kembali menjabat. Sebagai contoh, dalam perjalanan pulang dari Tiongkok pada bulan Mei, presiden mengatakan bahwa ia telah berkomunikasi dengan pemimpin Korea Utara tersebut, namun enggan mengungkapkan berapa kali pembicaraan telah dilakukan.

Kim menyatakan bahwa konflik Amerika Serikat dengan Iran membuktikan bahwa negaranya telah mengambil keputusan yang tepat untuk mempertahankan senjata nuklirnya.

Dalam pidato di hadapan Majelis Rakyat Tertinggi Korea Utara yang dipublikasikan pada bulan Maret, Kim menuduh Washington melakukan "tindakan terorisme dan agresi yang disponsori negara," namun tidak menyebut Iran secara eksplisit. ***